Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 62 Will You Marry Me?


__ADS_3

...🥀🌹🥀...


“Rara Adeeva Shaletta, maukah kamu menghabiskan sisa hidupmu bersamaku?”


deg... deg... deg...


Ungkapan itu benar-benar membuat Rara tercengang dan sontak Rara menutup mulutnya. Seikat bunga mawar merah menjadi saksi bisu di antara keduanya, tak sadar kala tangan lentik itu tak mampu bertahan lama lagi untuk meraihnya. Jordan masih berlutut dengan tatapan penuh cintanya, sesaat kemudian ia mengeluarkan benda itu.


Di bukalah pembungkus kotak itu, kemudian nampak cincin dengan batu permata putih kecil menempel di tengahnya berkilau memancarkan keindahannya. Rara tak mampu berkata-kata lagi, seakan semua suaranya sirna di telan kebahagiaan yang tiada tara.


“Will you marry me?” Suara berat itu kembali membuat jantung Rara semakin bedegup tak karuan, hingga akhirnya tangis Rara pun pecah di tengah terpaan angin pesisir pantai senja itu.


Rara mengangguk dengan mantap “Yes, I will.” Ucap Rara dengan suara yang sesenggukan. Akhirnya, benda bulat berkilau itu berhasil melingkar di jari manisnya. Jordan mengecup punggung tangan Rara sekilas seraya tersenyum bahagia, dan selangkah kemudian ia memeluk erat gadis yang kini benar-benar sudah berada di genggamannya.


“Makasih Ra, aku mencintaimu…sangat.”


“Aku juga begitu.” Jawab Rara seraya tersenyum.


“juga apa?”

__ADS_1


“hihihi..”


“kok ketawa?”


“Aku juga mencintaimu, Kak Jordan Ravindra.” Itu sangat menggemaskan, hingga Jordan pun mengangkat tubuh mungil itu kemudian berputar-putar. Tanpa sadar kini keduanya menikmati ciuman romantis sebagai pelengkap lamaran yang berkenang itu. Rara tidak pernah menyangka jika ia bisa mencapai tahap ini, di cintai oleh pria yang sangat menyayanginya adalah hal yang paling mustahil Rara impikan di masa lalu.


“mmhhh.”


“Tumben panggilnya kak?” Sesaat Jordan melepas tautannya, ia menatap lekat wanita yang akan menjadi istrinya itu. “Kan memang seharusnya.” Jawab Rara pelan.


Tak ada yang tidak di sukai dari sosok Rara, ia berpikir jika gadis itu terlalu sempurna untuknya. Di saat semua orang lelah menghadapi sikap Jordan, Rara lah yang paling sabar hingga rasanya bersyukur saja tidak cukup. Bukan berarti tidak pernah di sukai wanita di luar sana, hanya saja jika itu bukan Rara mungkin tidak ada yang mau menerima indentitasnya yang berbeda.


Sangat cocok sebenarnya, jika orang melihat mereka dalam satu frame mungkin saja bisa disebut sebagai pangeran dan putri abad ini.


Saat hari mulai gelap, waktunya hadiah kedua di persembahkan. Jordan menutup mata Rara dari belakang seraya menuntunnya menuju tempat yang telah di siapkannya.


“Udah sampai belum? Kita mau kemana?” Bukanya tidak sabar, hanya saja berjalan sambil menutup mata seperti ini membuat Rara sedikit takut padahal Jordan menuntunnya.


“Udah, buka matamu.” Seketika Rara menganga lebar. Tempat itu indah sekali, di lengkapi lilin-lilin yang berjajar di sepanjang jalannya menerangi sekaligus menabur aroma khas yang menyeruak keluar.

__ADS_1



Dua kursi dengan meja bulat di tengahnya sangatlah estetik, bahkan di kelilingi rangkaian bunga dan lampu kecil yang berkelap-kelip. “kamu yang buat?” tanya Rara seraya menatap kagum tempat itu.


“emm, dengan tanganku sendiri.” Jordan masih berdiri diam di belakang Rara yang mematung.


“Bukan Maxton?”


“Ohh, rupanya kekasihku ini meragukan hasil kerjaku? Beraninya sebut nama pria lain, hmm?”


Jordan memegang pundak Rara dari belakang seraya berbisik di telinganya. Sengaja ingin menggoda sang kekasih, dan ingin melihat bagaimana reaksinya. Rara hanya tersenyum, awalnya Rara memang ragu karena Maxton memang selalu melakukan hal sekecil apapun untuk Jordan.


Mau itu iya atau tidak Rara tidak peduli lagi, yang terpenting saat ini ia sedang menikmati kebahagiannya. Cup… Jordan mengecup sekilas pipi Rara kemudian mendahului seraya menggandeng tangannya.


“Kita makan dulu, semua udah siap.”


.


.

__ADS_1


tbc.


__ADS_2