Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 94 Abang Es Krim


__ADS_3

1 bulan kemudian….


Kehidupan Rara kini sangat bahagia setelah menikah dan berstatus istri Jordan Ravindra. Meski begitu, Rara tidak terkekang dan masih bebas melanjutkan studinya, bahkan Jordan tidak melarang Rara yang masih ingin berkarir sebagai photographer. Sama halnya dengan Rara yang membebaskan Jordan jika ingin melanjutkan karirnya sebagai model.


Tak ingin munafik sebenarnya, Rara kerap sekali cemburu kala melihat Jordan bersanding dengan berbagai model wanita cantik di beberapa iklan dan majalah. Semua tahu jika Jordan sudah menikah dan itu semua murni karena pekerjaan. Namun kembali lagi jika perasaan wanita tidak bisa di tebak.


Meski mengakui jika bisa menerima, nyatanya tidak begitu. Seperti saat ini Rara tengah merajuk karena kejadian di studio pemotretan pagi tadi. Siapa yang tidak memanas saat melihat suami sendiri melakukan adegan romantis dengan wanita lain, sedangkan Rara yang memotretnya melihat dengan mata kepalanya sendiri.


Sudah di tegaskan berulang kali jika konsepnya memang begitu. Rara pun sudah mencoba untuk profesional, namun tetap saja hatinya tidak rela. Ada adegan di mana para model harus terlihat begitu romantis dan senatural mungkin agar hasilnya memukau.


“Mataku bisa buta lihat adegan ini di ulang-ulang terus.” Batin Rara mencebik kesal.


Tarik napas dan buang, begitulah cara Rara untuk menetralkan pikirannya yang berkecamuk.


“Okay, stand by. Satuu…duaa…tigaa. Good lagi, and ganti pose.” Ucap Rara seraya mengarahkan kameranya.


Di tengah terpaan badai cemburu, Rara tetap bekerja sebaik mungkin. Semua orang di studio tahu bagaimana kebucinan Jordan pada istrinya dan apa yang terjadi saat ini membuat jiwa-jiwa tukang gosip pun meronta-ronta.


“Kalo aku di posisi kak Rara, pasti nggak akan bisa fokus.” Bisik si pengatur lighting.


“Gila nggak sih? Lihat aja Jordan sama Sherin mesra begitu, hatiku aja tercuil apalagi Rara.”

__ADS_1


Begitulah ocehan para penggosip di sana. Rara tidak mendengarnya, tapi ia menyadari semua sorot mata yang menatapnya dengan tatapan aneh. Biarkan saja, urusan pekerjaan harus terpisah dengan hal pribadi, pikir Rara.


.


.


Selesai dengan pekerjaannya Rara pergi lebih dulu karena ia ada kepentingan lain. Sengaja Rara tidak memberi tahu Jordan karena sebenarnya hatinya masih terasa kesal.


“Maaf, ada yang lihat Rara?” Jordan bertanya pada seluruh staff disana.


“Kak Rara tadi pergi duluan.” Ucap Sherin dengan senyum lembutnya. Jordan mengangguk dan segera pergi menghilang meninggalkan kesibukannya sebentar. Baginya, membujuk istri lebih penting karena ini menyangkut kelangsungan hidup Jordan kedepannya.


Tut…


Jordan kini melajukan mobilnya menelusuri padatnya jalan raya siang itu. Tak berselang lama, Jordan menghentikan mobilnya tepat di sebuah kedai es krim. Tentu saja karena ia melihat istrinya sedang duduk menikmati makanan manis itu. “Es krim lagi?” Gumam Jordan mengerutkan alisnya kemudian keluar dan menghampiri Rara.


Bukan main terkejut, Jordan mendapati beberapa tumpukan cup es krim tepat di depan Rara. Herannya, Rara masih memesan lagi.


“Maaf mas, itu di cancel ya. saya bayar yang yang sudah di pesan.” Jordan mengeluarkan uangnya untuk membayar, setelah itu menghampiri Rara yang masih menikmati es krim itu dengan tenang tanpa peduli jika Jordan secemas apa.


“Ini yang ke berapa?” Tanya Jordan dengan tatapan horornya.

__ADS_1


“Lima ...mungkin.” Ketus Rara tanpa menatap suaminya itu. Ia sengaja tidak mengangkat telpon dari Jordan, tapi siapa sangka jika pria itu bisa menemukannya. Jordan pun menghela napasnya pelan dan kini berjongkok di depan Rara.


“Aku nggak melarang, tapi kalau sebanyak ini? Rara ini nggak bagus, apalagi tadi kamu belum makan kan?”


“Tapi aku mau lagi, ini masih kurang.”


Jordan melihat Rara yang menjilat bibirnya seakan keinginannya itu sangat-sangat harus terpenuhi. “Nggak boleh. yang lain aja ya? kita cari makan dulu, okay?” Jordan mengusap pipi Rara dan berharap jika Rara menurut tanpa banyak protes.


“Nggak!! Orang aku mau sambil lihatin abang-abang nya.” Rara menoleh ke arah penjual es krim yang masih tampak muda. Bukan Jordan jika masih bisa tenang-tenang saja, ia kini sudah hampir meledak karena Rara yang lebih tertarik pada tukang es krim daripada suaminya sendiri.


sabar... sabar...


.


.


.


-To Be Continued-


Yuhuuuu... 😁😁😁

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya. hehe... terimakasih✌😉😉😉


__ADS_2