
Dug.... terdengar seperti sesuatu terbentur di luar pintu sana.
“pokoknya tidak bisa! kenapa aku harus begitu?!” teriak seorang wanita.
“Please, ku mohon.” Jawab Pria itu.
“ Kamu mau paksa aku jual diri? Aku tidak serendah itu, lepas!!”
Brakk…
Lagi-lagi pintu tidak bersalah itu jadi pelampiasan jika ada pertengkaran. Pria di luar itu berusaha mencekal tangan sang wanita yang sudah melangkah masuk.
“Victon/Jordan?” ucap kedua pria itu serempak.
Mereka berempat saling berpandangan heran. Rara terkejut melihat sahabatnya dipaksa-paksa , sedangkan Valerie pun sama terkejutnya melihat sahabatnya itu berduaan dengan seorang pria di kamar kos mereka.
“Kalian!!” Tunjuk Rara dan Valerie bersamaan menatap satu sama lain. Valerie pun berjalan mendekati Jordan dan..
Bugh…..satu pukulan kuat mendarat di perut Jordan membuat semua orang di ruangan itu terkejut.
“Awww….hei apa-apaan?” Pekik Jordan mencoba menahan rasa sakit pukulan itu, sungguh tidak main-main tinju gadis itu memang sangat sakit.
“Aku tidak pernah main-main dengan kata-kataku. Itu pelajaran buatmu karena sudah bikin Rara ku menangis.” Ucap Valerie mendelik tajam dan Jordan hanya meringis.
“Wooww, gadis keren juga .” Batin Victon menatap kagum Valerie.
“Val, kamu kenapa sih? jangan main pukul sembarangan.” Rara memeluk tubuh Valerie dari depan, takut saja kalau sahabatnya itu mengamuk.
“ Tenang aja Ra, satu pukulan itu seharusnya ga berasa. Puas juga aku akhirnya ..huh....” Bagaimana bisa di bilang tidak berasa, Rara melihat tangan berotot itu cukup kuat, sungguh menakutkan sahabatnya ini.
“Nggak masalah Ra, aku pantas dapetin ini.” Ucap Jordan lembut.
“Bagus kalau sadar diri.” Ketus Valerie.
“ Cukup! sekarang giliran aku. Kalian berdua kenapa?” Ucap Rara bersedekap menatap intens Valerie dan Victon. Kini gantian kedua insan itu melengos mencoba menghindar.
__ADS_1
"Ada yang gak beres nih. " Batin Rara.
.
.
3 jam yang lalu… pukul 1.30 PM
Setelah berhasil menyelamatkan Mocci, benda itu sudah pulih kembali di tangan ajaib abang service. Kini Valerie kembali menunggangi Choco si motor wanita berwarna coklat karamel miliknya menelusuri padatnya jalan raya. Saat berhenti di lampu merah, tampak sebuah papan iklan besar dengan tulisan yang menarik perhatian Valerie.
Tertulis ‘Victon Ghaffari Pengusaha muda yang sukses di babad ini……’
“Ha? Dia kan…” Valerie mengenali pemilik wajah itu, membuatnya berfikir jika dunia ini sangat sempit. Selama ini ia mencari pemilik jas navy yang hendak ia kembalikan pada pemiliknya. Begitu lampu berubah dari orange ke hijau, Valerie langsung melajukan Choco dengan cepat seperti pembalap liar.
Sampai di kos, ia berlari ke kamar mencari paper bag berisi jas navy yang sudah bersih dan wangi. Ia mengeluarkan Mocci dari sakunya lalu melancarkan jarinya pada sebuah laman website tentang informasi lokasi perusahaan milik Victon Ghaffari itu.
.
.
.
Tok…tok…tok
Victon yang sedang sibuk memeriksa berkas menoleh kearah pintu tersebut, muncul lah wanita dewasa tak lain adalah sekretarisnya dengan wajah cemas.
“Maaf pak, nyonya besar ingin bertemu dengan anda.”
“Persilahkan masuk.” Titah Victon tanpa menoleh.
“Baik pak.”
Sesaat kemudian seorang wanita dengan pakaian sangat sopan namun terlihat modis, wajahnya tampak awet muda meski umurnya sudah tidak semuda itu. Wanita sekaligus ibunda Victon berjalan dan mendudukkan diri di salah satu sofa di ruangan tersebut. Hingga beberapa menit belum berbicara, wanita itu menatap lekat Victon yang sejak tadi tidak menggubris kedatangannya.
“Uhuk…uhuk…aduh duh, aduh dadaku sakit sekali, sepertinya umurku sudah tidak lama lagi uhuk …uhuk. Anakku tidak mempedulikan aku lagi.” Dengan gaya pura-puranya sang mama memegang kepala dan dadanya seraya melirik wajah putranya, membuat Victon menghela napasnya.
__ADS_1
“ Aduh gimana ini, kepalaku..oh… benar-benar sakit, rasanya mau lepas.” Masih setia dengan aktingnya Mama Nindi kini berbaring di sofa dan melepas kasar sepatunya hingga terpental asal.
“ Ma, cukup. Mama sehat jadi jangan pura-pura lagi.” Victon menatap datar mamanya, paham betul kearah mana pembicaraan itu. Sang mama sangat geram dan langsung bangkit menghampiri meja Victon lalu merebut paksa berkas yang sedang di periksa itu.
“ Ck, tubuh mama sehat, tapi tidak dengan hati mama. Lihat!! anak mama kerja terus-terusan! Buat apa kaya kalau tidak punya istri! Teman-teman mama sudah menimang cucu!”
“ Ma..”
“ Mama mau cucu!! cepat cari istri!!”
“ Mama kira cari istri semudah menjetikkan jari?” Ucap Victon seraya merebut berkas itu kembali.
“ Tidak mau tau! Mama kan tidak minta kriteria khusus....oh putraku yang tampan sejagat Nusantara. Asalkan gadis baik, mama tidak masalah dengan latar belakangnya. Tapi kalau kamu masih cuek saja terpaksa mama atur kencan buat kamu, kebetulan anak gadis teman dekat mama masih single. “ Ceramah mama Nindi.
“ Mama hidup di jaman apa? masih saja jodoh-jodohan.”
“ Tidak peduli, ingat umurmu sudah 30+, adik kamu saja udah kenalin pacarnya ke mama. Terima saja tawaran mama tadi.” Ucap mama Nindi sambil bersedekap.
“Tidak bisa, aku sudah punya pacar ma.” Victon melemah dan terpaksa berbohong demi segera keluar dari situasi rumit ini. Victon adalah anak yang penurut dan patuh sekali pada orang tuanya sejak dulu. Tapi untuk urusan ini ia harus sedikit egois. Mama Nindi pun berbinar bahagia mendengar perkataan putranya itu.
“ Benarkah, tidak bohong?”
“Iya."
“ Kenalin ke mama dong, mama mau tau seperti apa gadis itu.”
“ Nanti ma, dia masih malu-malu.” Berdosa sekali ia kali ini membohongi sang mama tercinta, namun memang tidak ada cara lain.
.
.
.
to be continued...
__ADS_1
😍😍😍😍