Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 54 Gigitan


__ADS_3

yess..


Bak menang lotre, bahagia sekali Rara karena berhasil melangkah keluar tanpa kendala apapun. Dengan alat pelindung di pundaknya, Rara berjalan pelan menelusuri berbagai tanaman hias di sekeliling rumah yang cukup besar itu.


Rara melangkahkan kakinya hingga tiba di lapangan terbuka yang sudah sepi sejak beberapa waktu lalu, rupanya latihan itu telah usai. Masih mengendap seperti maling, mata elang Rara tetap siaga mengawasi keadaan sekitar.


"HAAHH!!" Rara terhenyak kala seekor kucing melintas di depannya. "meonggg."


"Bikin kaget aja."


Tiba-tiba saja seseorang memanggil. " Kau mau kemana?!" Tanya seorang pria dengan suara bariton nya. Rara menoleh dengan wajah piasnya seperti pencuri tertangkap basah.


"Siapa kau?" Akibat penerangan yang minimal, Rara tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu.


"Aku penunggu pulau ini."


"Penunggu? setan?" Beo Rara tak paham.


"Manusia lah! Kau tidak seharusnya di sini, cepat kembali!! " ketus pria itu seraya mendekat.


"Jangan kemari atau ku habisi kau!!! " Ancam Rara seraya menodongkan alat pelindungnya. Gadis itu mengibaskan alatnya berkali-kali, sebagai tanda pertahanannya.


"Menghabisiku? dengan itu?" Sinis pria itu menunjuk ke arah guling yang di pegang Rara. Gadis ini gila sepertinya, pria itu menggelengkan kepala tak percaya.

__ADS_1


"Memang kenapa? jangan anggap remeh, kau bisa mati hanya dengan ini!! " Ya, ya...anggap saja memang bisa. Bagaimana bisa guling empuk itu menjadi senjata mematikan, sungguh sulit di percaya.


Rara kembali mengibaskan guling itu, namun sayangnya berhasil di tangkap pria di depannya dan di buang asal. Mata Rara membola dengan perasaan kian gusar, ia pun melangkah mundur saat pria itu makin mendekat.


"Ck, wanita memang merepotkan!!!" Gumam pria itu seraya berlari kecil dan kini berhasil membopong Rara di pundaknya. Sontak Rara pun memberontak, hingga membuat pria itu cukup kwalahan. Semakin liar, Rara bahkan menggigit pundak dan menjambak rambut pria itu hingga berbekas.


"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkhhhh." Jeritan keduanya saling bersahutan dan menggema, hingga mungkin terdengar sampai pulau sebelah.


"Gigimu!! sakit gilaaaaaakhhhh. " Pekik pria itu.


.


.


POV Jordan dan Maxton


Beberapa menit mencari, Jordan dan Maxton tiba di lapangan terbuka di mana terlihat tindakan kriminal terjadi. Terlihat sang wanita berkali-kali menghajar, menggigit, dan memukuli pria itu dengan gulingnya.


Jordan yang menyadari jika wanita itu kekasihnya, sontak langsung berlari untuk melerai.


"Axel? Hei... hei.... apa yang terjadi?" Tanya Maxton kemudian berlari.


"Rara...udah sayang!! kamu ngapain?! " Ucap Jordan mencoba melepas Rara yang giginya masih menancap di pundak Axel. Sejak kapan kekasihnya seliar ini? pikir Jordan.

__ADS_1


"Aaaaakkhhhh.....lepas... lepas! kalian siapa?!!! " Rara berjalan mundur seraya menunjuk-nunjuk Jordan dengan tatapan yang asing. Wajah Rara sangat pias dan basah karena peluh, belum lagi tatapan tajamnya itu membuat Jordan terhenyak.


"Dia nggak mengenaliku?" Batin Jordan mengerutkan dahinya.


"Rara.... sayang ini aku. Aku Jordan, kamu nggak lupa kan?" Ucap Jordan berjalan pelan mendekati Rara, tangan gadis itu bergetar dan masih belum sadar juga. Entah apa yang terjadi dengan Rara, Jordan kini semakin khawatir.


"Pergi badjingan!!! kalian membunuh adikku.... kalian pembunuh!!!" Tunjuk Rara dengan suara lantangnya. Rara semakin menggila, tangannya mencari sesuatu dan dapatlah sebuah ranting kayu.


Ternyata hal itu, trauma Rara di masa lalu kini muncul membuatnya jadi kacau. Jordan menghela napasnya, sesakit itu ia merasakan apa yang kini Rara rasakan. Jordan masih berusaha mendekati, tapi Rara menolak dan masih memberontak.


Tak di pungkiri jika teriakan Rara berhasil membuat beberapa bawahan Jordan ikut mendekat ingin membantu. "Dia kenapa?" tanya salah satu dari mereka menunjuk Axel yang memprihatinkan.


"Uuuhhhh, ngilu ih."


"Diam kalian!!" Sentak Axel meringis seraya memegangi pundaknya, bajunya bahkan robek akibat gigi tajam Rara. Kedua kali ia terluka karena di tugaskan menjaga kekasih bossnya itu, miris sekali sebenarnya.


"Nyalakan semua lampu!! " titah Jordan pada bawahannya. Mungkin saja kegelapan memancing luka Rara yang jauh terpendam. Benar saja, saat lampu-lampu menyala Rara sedikit lebih tenang dan melunak.


"Ssssshhh......i'm here baby, don't be afraid.."


.


.

__ADS_1


.


to be continued.


__ADS_2