
...WARNING!! Cerita ini penuh dengan kehaluan tingkat tinggi. Mohon bijak dalam membaca. Terimakasih😁😁...
Pukul 21.00.
Tik…tik..tik..
Seorang pria tengah sibuk di depan layar monitornya, gerakan tangannya sangat lincah mengetik kode-kode rahasia pemrograman. Dia lah Maxton sang peretas handal, otak sekaligus orang kepercayaan Jordan. Tidak ada informasi yang tidak bisa ia dapatkan dengan tangan emasnya itu, kini Jordan memintanya untuk mencari tahu lokasi penelpon yang menghubunginya beberapa saat lalu.
“ Dapat! Lokasi terakhir di Indonesia, sayangnya ini nomor sekali pakai tuan.” Ucap Maxton pada Jordan yang tengah duduk di sofa di belakangnya.
“ Berani juga dia heh?!.”
“ Apa tuan mengetahui dalang di balik ini semua?”
"Satu kemungkinan.... " Ucap Jordan serius.
“…”
“My dad.” Jordan mengeraskan rahangnya, pikirannya jadi bercampur aduk. Sulit sekali ia menjauh dari keluarganya, apa kini ia harus kembali? pikir Jordan kian gusar.
Di belahan benua lain..
Pukul 15.00. (Roma, Italia)
Kisah singkat 20 tahun lalu, terdapat tiga keluarga besar yang di sebut sebagai penguasa terkaya paling di segani di tanah Jawa, mereka adalah Keluarga Anderson, Bramantya dan Alfarezi. Ketiganya menjalin hubungan baik selama beberapa dekade, sebelum akhirnya terjadi perselisihan antara keluarga Alfarezi dan Anderson yang menyebabkan timbulnya dendam dan permusuhan hingga saat ini. Perselisihan itu yang menyebabkan keluarga Anderson pindah ke negara Italia dan menetap di sana.
Di sebuah Mansion mewah dengan gaya eropa, di sinilah keluarga Anderson tinggal. Tuan David Anderson dan Nyonya Sofia Mayleen Anderson di karuniai tiga anak yaitu Marcello Anderson, Lily Mayleen Anderson dan Leonzio Anderson.
Sang anak bungsu Leonzio Anderson telah di umumkan sebagai pewaris keluarganya, namun Leo menolak dan memilih untuk melarikan diri dari tanggung jawab tersebut. Tujuh tahun lalu Leo meninggalkan keluarganya dan memilih untuk menjalani hidupnya sendiri.
__ADS_1
“Dia anak kita satu-satunya yang mewarisi darah langka kakek moyangnya, seharusnya ia menetap disini bukannya berkeliaran di luar sana.” Ucap Mr. A dingin.
“ Honey, suruh anak kita kembali. Aku tidak sanggup lagi jika terus begini.” Ucap Mrs.A lirih dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
“Dia akan kembali sayang, tenang saja.” Mr. A kemudian memeluk istrinya. “ Dia akan kembali dan harus, tidak bisa seenaknya mengabaikan tanggung jawabnya.” Batin Mr. A seraya mengelus lembut punggung istrinya, keduanya sama-sama merasakan sakit saat putra bungsunya itu memilih jalan hidupnya sendiri.
Sedangkan anak sulung mereka tidak lain hanya lah pembuat onar, ialah salah satu penyebab runtuhnya jalinan persahabatan dengan keluarga Alfarezi.
.
.
.
...✈️✈️✈️✈️...
Keesokan harinya...
“Sebentar !!” teriak Rara.
“ Ck, siapa sih pagi-pagi buta?” Gumam Rara berjalan dengan langkah gontai dengan muka bantalnya menuju pintu. Penampilan yang bisa mematahkan sebutan primadona kampus, rambutnya yang acak-acakan di tambah gambar pulau di sudut bibirnya membuat Rara nampak seperti gembel.
Ceklek… sambil menggaruk kepala dan menguap lebar Rara masih belum sadar sepenuhnya, padahal Jordan dengan setelan rapinya sudah menyapa dengan senyum kian hangat.
“Pagi sayang.” Sapa Jordan dengan senyum lebar.
“Hoahmmm, kamu? Aaaaaaaa….kok bisa disini?.” Pekik Rara kemudian menutup mulutnya membuat Jordan sedikit terperanjat. Kenapa gadis ini selalu mengeluarkan suara bak TOA itu, membuat telinga Jordan denyut-denyut sakit. sebenarnya, peraturan kos Rara lebih ketat dan Rara tidak tau jika Jordan harus merayu ibu kos dulu agar bisa menemuinya, namun tentu saja berhasil.
“Jemput kamu, ayo kita sarapan dulu habis itu berangkat bersama.” jawab Jordan dengan santainya.
__ADS_1
“ Gak perlu, kita ...... Emm, Valerie belum tau hubungan kita dan aku belum bisa ceritakan. Bisakah kita lebih hati-hati?.” Pinta Rara sangat khawatir, ia masih belum bisa mengumbar hubungan mereka itu. ekspresi Jordan menjadi sedih dengan penuturan Rara, dirinya sudah sangat bersemangat ingin bertemu malah di tolak mentah-mentah.
“ Ra, kamu tega?.”
Jordan kini memasang wajah puppy eyes nya membuat Rara memerah gemas. “Ya tuhan, Imut banget.” Batin Rara gemas sendiri. Padahal umur pria itu sudah hampir kepala tiga, tapi tidak menjamin seseorang itu dewasa. Rara terkadang bingung menanggapi perubahan sikap Jordan yang ekstrem itu.
"Bukan begitu, tolong jangan tersinggung. aku cuma belum siap sepenuhnya."
"Raaaas, siapa itu?!! " Teriak Valerie dari dalam.
"Bukan siapa-siapa, cuma kucing Val!!" Jawab Rara dengan gamblangnya.
"Aku? kucing?" Jordan mendelik heran seraya menunjuk wajahnya sendiri.
"Maaf, please..... kamu duluan aja ya. Nanti kita bertemu."
"Kasih aku hadiah dulu. "
"Apa? "
Jordan menunjuk pipinya, dan tentu saja Rara paham maksudnya itu. Rara benar-benar heran, kenapa pria itu sungguh maniak ciuman. Demi apapun Rara sangat malu hingga wajahnya benar-benar memerah.
Cup..
Kecupan sangat singkat itu mendarat di pipi Jordan. Rara pun segera masuk ke dalam karena sudah sangat malu.
.
.
__ADS_1
.
to be continued....