
4 PM, Café Diamond
Mendengar jika sang kakak kini berada di negara yang sama, Jordan tentu saja sudah antisipasi jika suatu hari akan bertemu dengan manusia satu itu. Sama sekali tidak berharap, tapi siapa sangka jika saat itu tiba. Saat Jordan sedang berada sebuah café bersama Victon, tidak pernah di duga jika ada tamu tidak di undang mendatanginya.
“Hi, long time no see, Leo?!!” Sapa pria berperawakan kekar dan tinggi yang tidak lain adalah Marcello Anderson. Tanpa ragu pria itu duduk dengan wajah angkuhnya, dan tidak mempedulikan tatapan Jordan yang menolak kehadirannya.
“What…are….you doing here?” Ketus Jordan dengan hatinya yang semakin dongkol. Lebih menyesakkan kala di meja itu hanya mereka berdua karena Victon sedang pergi ke toilet. Tanpa aba-aba Marcel mendekatkan layar ponselnya tepat di depan wajah Jordan untuk menunjukan sesuatu. Sesaat kemudian, apa yang terpampang di layar ponsel itu membuat Jordan melotot seraya mengepalkan tangannya.
“So beautiful, right? jadi dia yang membuat mu betah di Indonesia?” Seringai licik dari Marcel membuat Jordan memerah padam, apa tujuannya berucap begitu?. Hingga beberapa saat, sengaja Jordan masih diam untuk melihat sampai mana mulut pria itu mengoceh. “Ingat kata-kata ku? apapun milikmu maka akan jadi milikku juga!!"
“Bede**h!! kau mau apa lagi hah…?!! bukankah aku sudah cukup mengalah selama ini? Jangan pernah usik dia, kau tidak lupa siapa aku kan?!!” Pekik Jordan seraya mencengkeram kerah Marcel sangat kuat hingga sedikit mencekik.
Bagaimana bisa tidak marah, jika kakaknya itu tidak lain seorang penjelajah benua, kini menargetkan Rara kekasihnya. Marcel menelan ludahnya pahit kala melihat manik Jordan membiru cerah, ia paham betul jika amarah Jordan sedang meletup.
“ Hehe…..aku semakin penasaran bagaimana rasa gadis manis itu, pasti lezat Bukan? .” Meski suaranya bergetar, Marcel tetap saja memancing hingga Jordan melayangkan tinjunya karena amarahnya sudah tak terbendung lagi.
Bugh..bagh…bugh… bahkan bukan hanya sekali pukulan itu mendarat di wajah dan tubuh Marcel hingga keduanya jatuh di lantai, mereka membuat ricuh suasana café yang tidak terlalu ramai kala itu.
__ADS_1
“Aku sudah menyentuhnya, kulitnya sangat halus dan mulus.”
Masih dengan napas tersengal di sela-sela hentaman Jordan Marcel kian menjadi, ingin sekali mulut itu di bom nuklir agar berhenti mengoceh, pikir Jordan. Marcel pun membalas hal serupa dan keduanya kini benar-benar mengacaukan isi café tersebut. Hingga beberapa pelayan mencoba melerai, tapi malah terpental karena kekuatan Jordan yang bukan main.
“Hei-hei …hentikan!!” Pekik Victon yang baru datang sambil berlari.
Pria itu berusaha semaksimal mungkin menahan kekuatan Jordan yang semakin brutal. Percobaan pertama Victon juga terpental hingga menabrak meja dan kursi di belakangnya. “Akhhh….si kampret ini!!” Sakit tentu saja Victon rasakan, saat sikunya menabrak besi keras.
“Jo!! Ini tempat umum, hei kunyukk!!!” Pekik Victon semakin geram karena sudah bersusah payah menahan tangan Jordan, tapi tetap tidak berhasil.
“Hahh…hah…” Jordan pun terhenyak dan perlahan bangkit dengan napasnya yang terengah-engah, sesekali melirik ke arah Victon yang masih setia menahan tangannya.
...ᰔᰔᰔ...
Selesai perkelahian…
“Kok gue seneng dia bonyok begitu hahaha.” Tawa Victon menggelegar di dalam mobil.
__ADS_1
Meski terdengar menjengkelkan tapi Jordan pun ikut tertawa puas, seperti beruang yang usai melakukan hibernasi selama berbulan-bulan. Rasa takut, dendam, dan sakit hati yang Jordan pendam berhasil ia lampiaskan pada orang yang tepat.
Siapa suruh cari masalah dengan orang yang salah, begitulah batin pria serigala itu bersorak ria atas kemenangannya. Sesungguhnya Jordan masih kesal dengan foto Rara yang berada di dalam ponsel Marcel, ia bertanya-tanya bagaimana keduanya bisa bertemu.
“Hapus semua bukti di Café Diamond, bersih tanpa sisa. Satu lagi, selidiki kegiatan Marcello di Indonesia.” Ucap Jordan sebelum mengakhiri panggilannya. Semua terasa janggal, bagi Jordan Marcello hanyalah orang bodoh serta penikmat harta orang tuanya saja. Mana mungkin ia menjadi kandidat musuh Jordan.
“Kenapa repot sih Jo? Lo nggak berfikir kalau Marcel itu sebuah ancaman kan?”
“Antisipasi Vic, dia masih kakak gue yang tolol itu, tapi semua orang pasti bisa berubah kan? .” Dengan sangat yakin Jordan berucap. Bukan tanpa alasan ia berkata seperti itu, memang ada beberapa perubahan yang terjadi pada Marcel dan Jordan bisa merasakannya saat ia menatap mata sang kakak.
.
.
.
to be continued
__ADS_1