
Dua hari kemudian….
Berkat istri dan perhatian orang-orang terdekat, Jordan menjadi cepat pulih dan kini sudah keluar dari rumah sakit. Sesuai dengan rencana awal bersama Victon, Jordan harus segera menutup rapat permasalahan yang mengelilingi hidupnya hingga saat ini.
“Aku nggak ijinin. Sayang, kamu baru keluar dari rumah sakit. Masa udah mau pergi lagi.” Rengek Rara di pinggir kasurnya.
Ia mengamati Jordan yang sibuk menata barang ke dalam koper dan Rara sengaja diam saja karena ia tidak mau Jordan pergi sejauh itu. Rara tidak rela jika harus berpisah dalam jarak yang sangat jauh.
“Aku nggak akan lama, okay.”
“Jadi ini maksud dari kata-kata kakak waktu itu. Menghilang itu maksudnya ini? hiks.” Jatuh sudah air mata Rara. Apa yang sebenarnya terjadi? Jordan tidak pernah memberi tahu atas permasalahan ini, bagaimana Rara bisa tahu?.
“Sssshhhh….kok nangis? aku nggak pergi selamanya sayang. Cuma sebentar kok.” Selembut mungkin Jordan berkata agar Rara mengerti dan memang harus mengerti. Alasan ia tak bercerita, karena tidak mau membuat Rara banyak pikiran dan stress. Itu tidak baik untuk kandungannya.
“Nggak mau!!….jangan pergi kak. Aku mohon. Hiks..”
Ya Tuhan, Jordan benar-benar di uji saat ini. Hatinya benar-benar melemah jika Rara sampai menangis hingga memohon. Tahu, jika Rara sangat manja dan ingin perhatian penuh dari Jordan di masa-masa sekarang. Hanya saja, waktu terus berputar dan Jordan tidak mau hingga kelak di ikuti oleh bahaya terus-menerus.
“Sini.”
Jordan menepuk pahanya kala mendekat dan duduk di sebelah Rara. Tanpa naninu, Rara pun segera duduk di pangkuan itu masih dengan isak tangisnya. Mata sudah sedikit membengkak, hidung dan pipi begitu merah. Jordan pun mengusap pelan wajah yang lembab akibat air mata Rara yang terus mengalir.
“Jangan pergi! pokoknya nggak mau !”
Rara menggesek-gesek wajahnya di dada bidang Jordan seraya memeluk erat. Biar saja jika di bilang berlebihan, Rara tidak peduli lagi dengan hal itu.
“Lihat aku! Ra, lihat aku sebentar.”
__ADS_1
Rara pun mendongak. “Ini jaman canggih, kita masih bisa berhubungan via online.” Ucap Jordan lagi. Tanpa di jelaskan pun Rara tahu akan hal itu, tapi rasanya sudah pasti berbeda. Virtual dengan yang asli sangat berbeda.
“Kalau virtual kan nggak bisa di cium-cium, aku nggak suka.”Celetuk Rara seraya mengusap air matanya. Jordan malah tergelak keras mendengar ucapan Rara tadi. Ia jadi membenarkan kata Victon jika istrinya itu memang berubah.
Cup…
”Kalau Cuma cium aku bisa kasih sekarang.” Jordan mendaratkan ciuman itu di bibir.
Cup…
“mau yang ini?”
Cup..
“ini?”
“Apa ini?”
Kecupan singkat itu mendarat di bibir, mata, hidung dan punggung tangan Rara. Memang itu yang di inginkan Rara sejak awal. Kenapa harus drama nangis-nangis segala jika hanya ingin bercumbu. Jordan jadi heran dengan cara Rara mengungkapkan permintaannya.
*Dan yang terjadi selanjutnya? kalian bisa bayangkan sendiri ya hehe🤭🤭*
.
.
.
__ADS_1
Di dalam pesawat...
“Istri lo lengket banget Jo.” Celetuk Victon saat duduk di kursi khusus sebelah Jordan. “Nggak tau gue juga. Rara berubah 180 derajat semenjak hamil. Gue berasa punya istri lain.” Dengan santai Jordan meneguk jus jeruknya.
“Mantab. gue jadi mau punya istri juga.”
“Ya, cari sana… kan banyak.”Jawab Jordan sekenanya membuat Victon mendelik tajam.
“ Banyak emang, tapi yang lekat di hati nggak ada.”
“Si tomboy mau lo kemanain?”
“Valerie maksud lo?” beo Victon.
“Yoi bro.” Jordan menoleh dan mendapati Victon dengan ekspresi yang tampak berbeda. Bangkitlah jiwa-jiwa mak comblang Jordan seketika.
“Udah sikat aja. Kurang apa sih dia? Cantik iya, pintar iya, cuma sedikit kasar aja.” Baru tersadar jika Jordan di kelilingi orang-orang yang galau dengan status singlenya. Sama seperti Maxton yang terus menerus mengungkit perihal kawin saat sedang bersamanya.
Detik berikutnya….
“Ehem. Okay kita serius dulu.” Jordan pun kini terfokus pada tujuan utamanya karena ia tak ingin pulang dengan sia-sia saja. Rencana sudah matang dan ada Victon, tak lupa pula ada Maxton yang memberi bantuan melalui otak cerdasnya. Anggap saja mereka trio awok-awok tengah berpetualang mencari harta karun di negeri orang.
.
.
.
__ADS_1
-To Be Continued-