
Pukul 11 AM.
Apa yang di takutkan pun terjadi, setelah Rara sadar dari pingsannya ia terus-menerus menepis Jordan yang hendak mendekatinya. Jangankan menyentuh, berbicara pun Jordan di abaikan oleh gadis itu. Rara benar-benar membangun dinding besar nan kokoh hingga sulit untuk di runtuhkan.
“Ra, tolong jangan marah lagi, bukankah kamu janji nggak marah? jangan cuekin aku ya.” Nampak sekali putus asa tergambar di wajah Jordan, seharian ia menjaga Rara bahkan ia tidak tidur tapi malah di cuekin begini sungguh miris.
“Antar aku pulang!” Ucap Rara yang enggan menatap Jordan. Pria itu menghela napasnya pelan, kekasihnya masih marah terdengar dari nadanya berbicara. Mau bagaimana lagi, Jordan harus membujuknya pelan-pelan.
“Okay.” Singkat Jordan yang duduk di sofa yang cukup jauh dari Rara.
Rara hendak turun dari kasur dan ingin membersihkan diri terlebih dulu. Namun, belum sempat menginjakkan kakinya di lantai, Jordan langsung membopongnya tanpa ijin. “Turunin!! aku masih bisa jalaaaan.” Ucap Rara geram kemudian menggigit pundak Jordan, membuat pemiliknya menjerit.
“Aaaakkkhhh….sakit….sakit…adoh.”
“Ngapain masih disini? sana keluar!.” Rara mendorong dada bidang pria itu karena tidak beranjak pergi setelah menurunkan dirinya di dalam kamar mandi. Tidak bergeming pria itu masih terpaku di tempat ia berdiri, sehingga menghalangi Rara yang ingin menutup pintu.
“ Ra, kamu jangan marah terus dong.”
“Harus banget bahas sekarang? Keluar dulu sanaa….aku udah nggak tahan.” Keluh Rara seraya mengapit kedua tangan di antara kakinya. Kandung kemihnya seakan mau pecah saat itu juga, dan bisa-bisanya Jordan bertingkah menyebalkan.
__ADS_1
Tanpa di duga Rara merasakan sesuatu yang hangat mengalir deras bak air terjun di sela kakinya yang hanya menggunakan celana kolor pendek. Sontak saja matanya membola, wajahnya memerah malu karena Jordan masih berdiri kokoh di depannya dan sialnya pria itu malah menatap ke bagian bawah tubuh Rara.
“Pfftt…sayang kamu banjir?” Ingin sekali Rara menyumpal mulut Jordan dengan kaus kaki, bisa-bisanya pria itu malah makin memperjelas hal yang memalukan tersebut.
“Awww…aw…iya iya aku keluar.” Rara mencubit lengan Jordan amat kecil agar pria itu segera pergi.
...💨💨💨💨...
Memalukan sekali, Rara masih masih belum move on dari kejadian ia ngompol tadi. Di tambah lagi Jordan yang terus menertawakan Rara sepanjang perjalanan, membuatnya semakin kesal.
“Biasa aja mukanya, bisa? Gak usah senyum-senyum.” Rara mendelik ke arah Jordan yang tengah menyetir, yang benar saja pria itu menyunggingkan bibirnya tidak jelas sejak tadi.
“Ck, tau ah.” Rara hanya berdecak malas mendengar ocehan pria itu. Bagaimana tidak, Rara sedang kesal bukannya di hibur malah semakin di buat kesal. Mungkin sebuah kebahagiaan bagi Jordan melihat Rara semakin menekuk wajahnya, baginya itu sangat cantik dan lucu.
“Beli oleh-oleh dulu yuk, kan mau ketemu camer.” Ucap Jordan dengan percaya diri yang tinggi, hebatnya perkataan itu sedikit mengalihkan mood Rara yang jelek sejak tadi.
“Boleh deh, aku juga cuma bawa sedikit oleh-oleh dari Jakarta. Ayah suka banget peyek belut nanti kita beli ya. Aha….juga bakpia kering dan kukus enak juga, terus ……” Rara berbinar sambil mengoceh panjang lebar. Jordan terkekeh mendengar perkataan gadis itu yang tiada henti, semudah itu mood nya kembali baik.
“Apapun yang kamu mau Ra. Mau beli tokonya sekalian juga nggak apa, aku bisa beliin kok.”
__ADS_1
“Kamu boros banget, ya kali mau beli tokonya.” Jawab Rara sebal.
...ΩΩΩΩ...
Pasangan belum sah itu pun turun dari mobil yang sudah mendarat di sebuah toko makanan khas kota itu. Rak-rak besar dengan berbagai macam jajanan itu tersusun amat rapi dengan jumlah yang fantastis, hingga membuat Rara kalap. Di awal Rara menyangkal jika Jordan serius akan beli tokonya, pada akhirnya malah ia yang hampir memborong semua jenis makanan yang ada. Jordan sih tidak masalah dengan pengeluarannya, baginya uang bukan masalah asal kekasihnya itu senang.
Saat keduanya mengantri, semua pembeli di buat ternganga kala melihat Rara membawa 2 keranjang sedangkan Jordan membawa 3 keranjang.
“Total 2.500.000 mas. Apa ada lagi? atau mau no telpon saya juga boleh hehe.” Ucap sang kasir wanita dengan senyum ramahnya dan sejak tadi menatap Jordan tanpa berkedip, membuat Rara memanas. Sontak saja gadis itu langsung menghalangi tubuh Jordan dengan tubuhnya, memberi isyarat jika pria itu miliknya hingga membuat sang mbak kasir berdecak sebal.
“Mas nya udah ada yang punya, ini pakai kartu saya aja !.” Ucap Rara kesal dengan tatapan tajamnya.
“No! biar aku aja sayang.” Sengaja Jordan menunjukkan tanda kepemilikannya, ia dengan cepat memberi black card miliknya dari balik tubuh Rara. Setelah selesai, Rara membawa tentengan oleh-oleh itu dengan kasar, tidak lupa mengeluarkan sumpah serapahnya pada mbak kasir sebelum pergi.
“ Dasar ganjen!!” Ketus Rara dan berlalu pergi. Jordan hanya terkekeh mengamati sikap posesif kekasihnya itu.
.
.
__ADS_1
to be continued...