Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 120 Rutinitas Calon Papa-Mama


__ADS_3

3 bulan kemudian...


"Papa bangun dong. Ini udah siang." Ucap Rara seraya mengelus rambut Jordan yang sedikit panjang itu. Beberapa kecupan tidak membuat Jordan bergeming, tapi malah semakin menelusup dan kini memeluk pinggang sang istri. Setiap pagi Rara harus seperti ini. Membujuk Jordan yang kadang susah di bangunkan.


"Rejeki di patok ayam kalau jam segini masih tidur."


Lihatlah, bijak sekali ucapannya. Kata-kata itu sering di ucapkan Rara kala Jordan bangun sedikit siang saja. Meskipun ini hari libur, tapi tidak seharusnya malas-malasan, begitulah pikir Rara.


"Masa kalah sama ayam jantan , tuh udah pada bangun dari pagi-pagi buta." oceh Rara lagi dan berhasil membuat Jordan tersenyum tipis.


Jordan sengaja masih memejam, padahal ia sudah bangun sejak Rara mengusiknya. "Katanya mau ajak aku ke suatu tempat. Sayang ayo bangun." Rara masih belum menyerah dan kini ia kembali menghujani beberapa kecupan paginya di wajah tampan itu.



"Eeeuunggggg, kamu udah janji kemarin. Aku bosan di rumah terus." Kenyataannya, Rara tidak mungkin setegar itu. Hingga kini ia berakhir mendusel-dusel di dada suaminya, karena Jordan tak kunjung bangun juga.


Entah sengaja atau bagaimana, yang jelas Rara kesal sekali dengan suaminya pagi ini. "Aku udah mandi dan rapi gini loh." Rara bersungut dan masih di posisi yang sama.


srekkk....srekk....


"Liat aja, mau sampai kapan pura-puranya." Ide jahil itu muncul begitu saja di kepala Rara. Entah sejak kapan, Rara kini sudah menelusupkan kepalanya ke dalam piyama Jordan. Baju itu cukup longgar hingga masih bisa di masuki 2 orang sekaligus.


Beberapa detik kemudian...

__ADS_1


"Aaaaaaakkkhhhh, sakit....sakit. jangan sayang...aduh. ...sakit!!!!" Pekik Jordan. Baru saja ia mau menyudahi, tapi sudah terlanjur di dahului Rara.


Rara menggigit kulit di dada bidang suaminya hingga meninggalkan beberapa bekas merah di sana. Mau bagaimanapun yang namanya di gigit sudah pasti sakit rasanya.


Jordan pun menangkap kepala Rara yang masih berada di dalam piyamanya. "SAYAAANGG!!! AAAAARRGGHHH CUKUP!! SAKIT SUMPAH!! IYA...IYA INI BANGUNNNN!!!" Teriakan Jordan begitu mendominasi melebihi TOA pasukan demo.


"AAARRRGGHHHHHHHH. ....GELI!! JANGAN DI SITU, STOP...STOP!!"


Seisi rumah dibuat terkejut karena bukan main lantangnya teriakan Jordan tadi. "Ya ampun. mereka lagi ngapain sih?" Gumam pak Jono yang kebetulan lewat sehabis dari gudang. Pintu sedikit terbuka, itulah sebabnya suaranya terdengar hingga keluar. Sambil menggeleng-geleng pria paruh baya itu pun melenggang pergi.


.


.


.


"Ssssshhhhh." Jordan mendesis dan menatap Rara begitu lekat seraya mengusap dadanya. Rasanya perih, panas dan pedas seperti mulut tetangga. Bahkan setelah mandi pun masih terasa perihnya. "Tega kamu Ra." Ucap Jordan tiba-tiba.


Rara masih menikmati makanannya tanpa mempedulikan ocehan Jordan. Tentu saja masih kesal, karena janji awal pagi hari dan kini sudah siang Jordan baru siap.


Setelah makan siang, Rara pun kembali ke kamarnya kemudian hendak mengganti busananya. Di ikuti Jordan yang kini heran karena Rara berpakaian santai.


"Loh, katanya mau pergi.?" Tanya Jordan menghampiri istrinya di ruang ganti. " Nggak jadi, mau tidur aja.!" Ketus sekali nadanya membuat Jordan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sudah pasti istrinya itu sedang dalam mode marah.

__ADS_1


"Yakin?" Ucap Jordan seraya menaik-naikan alisnya nakal. Pria itu ikut merangkak ke kasur kala Rara sudah merebahkan tubuhnya dengan santai.


"Maaf. Aku mau kenalin kamu sama seseorang. Ganti lagi ya." Bujuk dan rayu pun terjadi lagi. Jordan memang berjanji akan membawa istrinya bersenang-senang hari ini, tapi ada satu lagi tujuan lain.


" Males!! nggak mood!."


"Ngambek ya?? yakin nggak mau? Besok aku udah berangkat ke Europe loh, nanti kangen lagi."


Jordan terkekeh melihat kelucuan Rara jika sedang jutek hingga tidak tahan untuk memainkan pipi Rara yang semakin hari semakin gembul itu.


"Ck, kamunya nyebelin." Rara menepis pelan tangan Jordan. "iya maaf ...maaf. Janji nggak gitu lagi, ayo berangkat." Bujukan itu berhasil kala Jordan mendaratkan beberapa kecupan di pipi gembul Rara.


"Eeeehhh, masa mau begitu pakaiannya. Ganti dulu, mau pamer body atau apa?"


Seketika Jordan cemas kala Rara beranjak pergi hanya dengan pakaian santai yang sedikit minim bahan itu. Mungkin karena terlalu bersemangat hingga Rara lupa jika ia terlihat seksi saat ini. Di tambah perutnya yang semakin buncit, membuat calon mama itu semakin aduhai di mata Jordan.


.


.


.


-To Be Continued-

__ADS_1


Kisah Jordan dan Rara tinggal yang manis-manis aja ya. Terimakasih untuk pembaca setia karya othor ini.


luv u all 😊😊😊.


__ADS_2