Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 46 Keputusan Mendadak


__ADS_3

4 AM, Kamar Rara.


Jordan mengerjapkan matanya, ia merasakan sesuatu yang berat menindih tangan kanannya. Oh iya, ia lupa jika masih berada di kamar Rara. Jordan pun menarik perlahan tangannya yang sudah kebas dan pegal, sebisa mungkin jangan sampai membangunkan kekasihnya.


“Awwwhh….shhh.” Desis Jordan ketika berhasil seraya mengibaskan tangannya. Beruntung sekali Rara tidak terbangun, deru napas halusnya terdengar sangat teratur menandakan jika gadis itu masih terlelap. Ingin langsung pergi, tapi rasanya enggan sekali.


“Apa nyaman tidurnya begini?” Gumam Jordan seraya membenarkan posisi tidur Rara, kepala Rara yang terlalu menunduk membuat gadis itu sedikit kesulitan bernapas. Cukup lama Jordan memandangi wajah Rara, dan sesekali ia mencuri kecupan di pucuk kepala gadis itu.


“Emmmhh, nyamuk!!” Rara bergumam kala merasa geli di pucuk kepalanya. Plak…. tangan lentiknya mendarat pas di wajah depan Jordan, memang nyamuk nakal.


“Berani kamu ya, hmm??” Jordan menjepit hidung Rara hingga gadis itu sedikit kesulitan bernapas, bukannya bangun Rara malah membuka lebar mulutnya untuk meraup oksigen dan matanya itu masih setia memejam.


“Pfftt…imutnya.” Pada akhirnya Jordan pun menyerah, sepertinya Rara memang tidak punya niat untuk bangun. Jordan pun melirik jam di dinding, kemudian menyadari jika ia harus segera pergi sebelum orang tua Rara mengetahui keberadaannya di kamar sang putri.


“Tidur yang nyenyak.” Ucap Jordan seraya membenarkan selimut Rara dan kemudian pergi menghilang.


Wushhhhhhh…..


Rara membuka matanya saat memastikan pria itu telah menghilang. Sebenarnya ia sudah bangun sejak tadi, dan membiarkan Jordan menjahili nya. Terukir senyum manis di bibir Rara kala membayangkan keusilan Jordan beberapa saat lalu.


"Apa dia sering curi-curi begitu?" Gumam Rara memerah dan lalu menarik selimut menutupi wajah malunya.


...✧✧✧✧...


Sementara itu, Maxton kini berada di sebuah tempat tepatnya di ruang rawat Debby. Atas perintah Jordan, pria itu harus mengawasi dan memantau perkembangan Debby. Ia kini duduk di sofa panjang dan tak lepas tangannya yang selalu menempel pada papan ketik benda lipat kesayangannya.

__ADS_1


Sejak di ketahui fakta jika manusia berinisial M itu adalah dalang di balik masalah ini, pekerjaan Maxton bertambah 2 kali lipat karana harus mencari seluk beluk hingga ke akar-akarnya.


“Hahhh.” Maxton menghelas napasnya pelan.


Detik sebelumnya, ia berhasil menghalau sistem keamanannya yang hampir di terobos musuh, dan mereka sudah gagal untuk ketiga kalinya. Maxton kini menyeringai licik karena baginya ini sangat seru. Selama tiga jam lebih adegan serang menyerang terjadi di dalam pertarungan online tersebut, tidak mudah juga bagi Maxton untuk mencuri data dan informasi mereka.


“Lawan yang tangguh, sangat menarik!!” seringai Maxton.


LOSER…


Maxton mengirim pesan online pada sistem musuh, sengaja ia ingin memancing emosi lawannya. Jika mereka masuk perangkap maka lebih mudah Maxton menjalankan siasatnya.


.


.


.


.


“Semua yang kau miliki maka akan jadi milikku juga.”


Kata-kata itu terus terngiang di kepala Jordan hingga rasanya mau pecah. “Kalau aku menikah dan memiliki keturunan dengan Rara maka tidak ada yang bisa merebutnya dariku. Come on Jordan…..” Batin Jordan bermonolog sendiri, hingga ia tersadar akan sesuatu kemudian menghentikan larinya.


“Tunggu!! apa Marcel tahu sesuatu?” Gumam Jordan bertanya-tanya.

__ADS_1


“Aku harus segera menikahi Rara.” Jordan menyeka keringatnya dan lanjut berlari.


.


.


.


6.30 AM, rumah Victon.


Setelah selesai kegiatan jogging nya, Jordan pun segera bersiap-siap. Tempat pertama yang ia tuju tidak lain adalah rumah Victon. Keputusan Jordan yang seperti tahu bulat sudah tentu akan merepotkan sahabatnya.


Plak… telapak tangan Jordan mendarat di kening Victon yang masih bergumul di kasur empuknya. Bagaimana bisa seorang boss besar masih enak-enak tidur jam segini, pikir Jordan. Padahal memang Jordan yang datang terlalu pagi, dan seenaknya mengusik ketenangan Victon. Saat Jordan hendak melayangkan tangannya lagi, dengan cepat di tahan oleh Victon.


“Sekali lagi usil , gue lempar dari jendela lo !!” Ucap Victon dingin dengan suara khas bangun tidurnya. Pria itu masih memejam, karena sangat ngantuk efek lembur semalam. Kesal sekali rasanya, karena tubuhnya lelah luar biasa dan malah di jahili sahabat tengilnya itu.


“Vic…Vic…! bantuin gue, ayo cepet bangunnnn!!” Ucap Jordan seraya menggoyang pundak sahabatnya. “Gue mau melamar Rara, bantuin gue persiapannya.” Demi apapun rasa kantuk Victon tiba-tiba menghilang hingga matanya membelalak lebar mendengar ucapan Jordan.


“WHATTT?!!”


.


.


.

__ADS_1


to be continued


__ADS_2