
Grebb....
Jordan bukan pria dengan segudang stock kesabaran, dan apa yang istrinya lakukan itu membuat darahnya mendidih. Tanpa aba-aba Jordan segera menggendong Rara dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Meski diam saja, tapi Rara sudah memasang wajah kusutnya, dan Jordan tidak peduli dengan itu. "Jangan menguji kesabaranku, sayang." Jordan memasangkan sabuk Rara dengan buru-buru dan segera melajukan mobilnya.
Tidak ada pembicaraan apapun selama di perjalanan, hingga kini mereka tiba di rumah. Brody yang menjadi penjaga rumah itu segera membukakan gerbang saat tahu mobil merah yang di ketahui milik bossnya tiba. "Tuan." sapa Brody dan di balas dengan klakson mobil oleh Jordan. Tiinn....
Setelah mendarat dengan selamat, Rara langsung berlari ke dalam rumah tanpa sepatah kata pun dan bahkan melupakan tas kecilnya. Jordan hanya menggeleng pelan dan segera membawakan tas Rara lalu ikut menyusul. "Tuan. sudah pulang?" Tanya bi Miri sang pengurus rumah.
"Di mana istriku?"
"Nyonya tadi langsung lari ke toilet bawah tuan."
Jordan mengerutkan alisnya dan segera menyusul keberadaan Rara. Saat tiba di depan pintu, Jordan mendapati Rara dengan keadaan tidak baik-baik saja. Kini pikiran Jordan di penuhi dengan kekhawatiran dan secepat mungkin ia menghampirinya.
huekk.... uhuk..
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Jordan seraya mengusap pelan punggung Rara. huekk... belum selesai ternyata, Rara kembali memuntahkan isi perutnya di wastafel.
Srasssshhhh....
Di rasa telah selesai, Rara membasuh mulut dan tangannya. Matanya sedikit berkaca-kaca dan wajah Rara sudah memucat. "Mana yang sakit, Ra?" Rara hanya diam dan segera berhambur ke dalam pelukan Jordan.
__ADS_1
"Hiks... sakit." Rengek Rara masih di posisi sama. Jordan tahu itu, tapi ia bingung harus bagaimana.
"iya ...mana yang sakit, hm?"
"ini." Rara melonggarkan pelukan itu kemudian menunjuk dada kirinya. Itu kode keras, menandakan jika hati Rara masih tercabik-cabik sebab kejadian saat pemotretan tadi. Seulas senyum muncul hingga Jordan mendaratkan kecupan singkat di bibir mungil istrinya itu. Cup..
"Cemburu?" Jordan mengangkat sebelah alisnya dan Rara mengangguk pelan sebagai jawaban. Jordan tahu jika itu akan terjadi, dan ia sudah antisipasi sebelumnya. Setelah di pikir-pikir lagi, kini impas karena Jordan juga sempat kesal kala Rara mengagumi pria penjual es krim tadi.
"Sama, aku juga. Rasanya hatiku robek lihat kamu mengagumi pria lain." Jordan kini menggerutu.
"Nggak seberapa di banding lihat suami sendiri bercumbu mesra sama wanita lain." Jleb...Rara kembali mengulik hal itu. Rara paham dunia entertainment seperti apa, tetap saja sesakit itu hatinya.
"Sayang.....kamu pucet banget. Ini pasti kebanyakan makan es krim." tuduh Jordan.
Jordan menyentuh kening Rara dan memang sedikit hangat. Secepat mungkin Jordan membopong Rara dan membawanya ke kamar.
"Sakit. Bi tolong buatkan bubur kacang ya, nanti antar ke atas."
"Nggak mau bubur. " Tolak Rara. Jordan terhenyak hingga menghentikan langkahnya seraya menatap Rara dalam gendongannya. "Terus, maunya apa?" tanya Jordan lagi. Rara kembali menyandarkan kepalanya di dada Jordan sambil berpikir. Beberapa detik berlalu, dan sudah hampir jamuran Jordan menunggu Rara berpikir.
"Ayam bangkok di bumbu pindang ala padang." Jordan mengkerut mendengar penuturan Rara. Sedangkan bi Miri hanya tersenyum dengan keinginan majikannya itu. Jordan bahkan tidak mengerti jenis ayam apa itu.
"bi, ayam bangkok itu yang gimana?"
__ADS_1
" itu loh tuan, ayam jago merah yang perawakannya besar-besar. iya kan nyonya? " bi Miri melirik ke arah Rara.
"Bukaaaaannnn, aku nggak mau ayam bangkok itu. Aku maunya ayam yang dari bangkok Thailand, yang bisa bilang sawadikhap... kopunkhaap... gitu."
"Sayang, permintaanmu aneh banget. Mana ada ayam bisa bilang begitu?" Ucap Jordan menyangkal.
"Ada kalo ayamnya tinggal di Thailand. Pokoknya aku mau itu dan kamu yang harus cari."
Jordan kembali melangkah lalu merebahkan Rara di atas kasur. Muncul lagi jurus andalan Rara yang membuat Jordan berpikir keras. Apa ia benar-benar harus ke negara itu? pikir Jordan.
"Ra, apa keinginanmu nggak bisa di tawar?" tanya Jordan dan Rara menggeleng. Tak lama kemudian, Rara kembali berlari ke toilet, sedangkan Jordan mengekor.
Hueekkk...
"Kamu sakit Ra. Ku panggilin dokter biar di periksa dulu."
" Ayamnya gimana?" Rara menoleh dengan wajah memelasnya.
"Itu nanti ya." Jordan mengusap pipi Rara dan segera menghubungi dokter pribadinya.
.
.
__ADS_1
.
-To Be Continued-