Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB 16. Hari Pertama


__ADS_3

Jangan menoleh ke belakang, dan teruslah berjalan ke depan, begitulah lah nasehat yang sering Rara dengar dari sang ibu. Seperti halnya saat ini, Rara tengah berjalan ke depan tanpa menoleh. Hari pertama kerja, Rara sudah di buat kesal dengan kelakuan tengil Jordan.


“Sebenarnya aku ini ngapain sih? ” Gumam Rara yang kini berada di cafe mengantri untuk membelikan es Macchiato dan cemilan sesuai keinginan paduka Jordan.


Ia bersedekap dan menggerakkan kakinya kesal seraya memasang wajah sebal karena antrean yang sangat panjang. Di antara cafe lain Jordan mengharuskan membeli minuman itu di café ini yang ramainya luar biasa. Sejak awal Rara hanya di suruh membeli ini dan itu, persis sekali dengan kacung pribadi.


Kacung : ajudan/pesuruh.


...❏❏❏❏...


"Ini kopinya, Yang Mulia Jordan terhormat!” ketus Rara setelah kembali seraya memberi minuman itu.


“Makasih.” Jordan menerimanya sambil terkekeh.


“Kenapa, hmm?” tanya Jordan.


“Pekerjaan ini tidak sesuai dengan kesepakatan awal, aku nggak mau jadi kacung.” kesal Rara.


"Kacung? Siapa yang bilang? Ini pemanasan Ra, anggap saja olahraga pagi haha.” Ucap Jordan dengan santainya sambil duduk di kursi dan menyeruput kopi itu. Paham betul jika gadis itu kesal, karena ia membuatnya berlari kesana kemari sejak tadi.


“ Hellowww…. Aku ini Rara Adeeva Shaletta. Aku juga cukup terkenal loh, yah… ..walaupun tidak sepadan denganmu. Tapi bukan berarti begini, masa iya aku beralih profesi jadi kacungnya Jordan. gak lucu ah!!.” Ucap Rara dengan nada sedikit menyombong.


“Aku tidak mempekerjakanmu dengan gratis loh Ra, bayaranmu bahkan lebih mahal dari dia.” Ucap Jordan seraya menunjuk sang photographer di depannya dan hanya dibalas dengan lirikan sekilas olehnya.


“……”


Rara hanya berdiri terdiam, memang yang di katakan pria itu benar adanya. Heran saja ia dibayar semahal itu untuk pekerjaan seperti ini.


“Fix, Ini jebakan… iya bener. Kenapa dari awal ga mikir dulu sih sebelum nerima, bodohnya aku." pikir Rara seraya meremas bajunya.


Jordan berusaha menahan tawanya, karena sejak awal ia bisa mendengar suara batin Rara, dan tentu Rara tidak mengetahuinya. Jordan terkadang merasa gemas dengan berbagai pemikiran konyol gadis itu.


“Siapkan kameramu, poto aku sekarang. Dari samping kiri ya....Uhh.” Titah Jordan seraya bergaya seksi menggigit bibir bawahnya sambil memegang cup kopi itu di samping wajahnya.

__ADS_1


“ ih amit-amit , iyuh. ” Batin Rara merasa geli seraya mengelus dada melihat pria itu dengan sekejap saja merubah ekspresinya. Andai saja Rara punya kuasa untuk menumpahkan minuman itu di wajahnya, sayangnya ia tak berani.


Cekrek…


“Sini !” Jordan menarik kamera yang di pegang Rara kemudian menjajarkan diri, mendekatkan wajahnya dengan wajah Rara dalam satu frame. Rara hanya mendelik heran namun patuh. Ini yang Jordan sukai dari Rara, gadis itu tetap patuh dengan apapun yang Jordan lakukan kepadanya asalkan tidak nyeleneh.


Cekreekk….


“Nahh, Lagi-lagi..” Ucap pria itu menunduk menjajarkan tingginya dengan Rara, ia bersemangat sekali setelah berhasil membuat Rara memerah karena memposisikan bibirnya yang maju beberapa centi di pipi RRar.


Cekrekk…


"Nice."


"Mereka serasi ya. " bisik-bisik tetangga pun terdengar.


“Kau gila, ini tempat umum banyak yang melihat." Ucap Rara pelan seraya memukul pelan lengan Jordan.


“ Biarkan saja, aku suka. "


“Semua orang taunya kita pacaran Ra. Ck..gapapa kali , toh kita udah pernah ngelakuin hal yang lebih." Ucapan itu berhasil membuat Rara mendelik, apa katanya? hal yang lebih? Rara hanya menggeleng geli dengan pemikiran kotor Jordan.


"Tapi nyatanya nggak. " Jawab Rara asal.


“Cieee marah. ” masih saja Jordan menggoda Rara.


"Dasar sinting. ” gumam Rara.


"Aku sinting karena mu." Mungkin suatu kebanggaan di sebut sinting oleh Rara, hingga Jordan malah senang di kata begitu, sepertinya pria itu terserang bucin syndrom.


.


.

__ADS_1


.


.


10.00 PM


Mengikuti kegiatan Jordan seharian membuat Rara kelelahan, jelas saja semua terlihat di wajahnya. Tidak di sangka jika jadwal Jordan sepadat itu.


" Ayo bareng aja. " Ajak Jordan pelan dan merasa iba saat melihat Rara memukul-mukul pundaknya, katanya pegal.


"Jangan repot, aku bisa... "


belum selesai bicara, Jordan memotongnya.


"Tidak ada penolakan, ini udah malam Ra. Ayo, asistenku udah nungguin. "Jujur saja Rara kini benar-benar ngantuk dan lebih baik memang ia menerima tawaran itu , lumayan irit ongkos pikirnya.


Di dalam mobil, sungguh rasa kantuk itu benar-benar menguasai. Terbukti kini mata Rara seperti di beri perekat, bahkan kepalanya mengangguk-angguk beberapa kali. Jordan yang melemah melihat situasi itu pun menarik kepala Rara dan meletakkan di pundaknya. Detik berikutnya, terdengar deru nafas halus tanda jika gadis itu benar-benar terlelap.


"Kita kemana tuan?" tanya Maxton yang sedang mengemudi.


"Penthouse."


Maxton hanya mengangguk tanpa banyak bertanya lagi, tahu betul bagaimana majikannya itu jika sudah bertitah.


.


.


.


.


to be continued.. .

__ADS_1


🤗😊😊😊


Hai... Hai....


__ADS_2