Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 32 Kamu Dimana?


__ADS_3

Rara berlari sekuat tenaga menerobos keramaian di loby bandara itu. “Aku harus kemana? Hah…hah.” Gumam Rara dengan nafasnya yang terengah-engah.


Sementara itu, di belakangnya Rara menyadari kala dirinya di ikuti seorang wanita dengan langkah santainya. Terlampau panik Rara malah berbelok menuju toilet, lalu menyembunyikan diri di dalam tidak lupa mengunci pintunya. Anehnya lagi toilet itu sepi, atau memang kebetulan seperti itu?.


BRAKK…


“Memang pintar! Kau memudahkan pekerjaanku, ayo keluarlah kucing manis.” Ucap Debby dengan senyum liciknya yang baru saja menyusul masuk ke toilet wanita itu.


Wajah Rara kini semakin pucat dengan peluh yang kian banyak menetes. Ingin menelpon, namun tangannya makin bergetar membuat ponselnya jatuh ke toilet sebelah melalu celah bawah. Rara pun membekap mulutnya seraya mengatur napasnya agar tidak bersuara. “Eemm…em.” Kini butiran bening itu menetes dari ujung mata Rara, sebisa mungkin Rara menahan suaranya kala Debby membuka satu persatu pintu toilet yang kosong.


Cengekk…..cengekkk….


“ Oh kosong? Dimana ya?” Sengaja sekali Debby mempermainkan Rara.


“ Di mana kedua pengawal itu?.” Batin Rara kian cemas.


Tok…tok…tok


Debby mengetuk pintu Rara dengan pistol di tangannya, dia sudah tahu jika Rara di dalam sana. “ Mau berapa lama kau di dalam? Buka atau ku dobrak!.” Ancam Debby masih dengan nada pelan, bahaya jika misi ini gagal, pikirnya.


Tok…tok…tok…


“Times up.”


Brak…brak…


Debby mendobrak pintu tersebut, tidak disangka tenaga wanita itu kuat sekali membuat Rara semakin mundur ke pojok membekap mulutnya kian kuat seraya memejam.


Ya tuhan tolonglah aku….


...✰✰✰...


Sementara itu Brody dan Axel kebingungan mencari keberadaan Rara. “Sshhhh….kakiku nyeri ya Tuhan.” Keluh Axel kala merasakan sakitnya menjalar, ia mendudukkan diri bersandar di dinding. Meski keduanya di bantu oleh petugas bandara, nyatanya belum ada tanda-tanda di temukannya Rara.


.

__ADS_1


.


.


Brak… dobrakan terakhir berhasil membuka pintu toilet hingga terbuka lebar. Namun di detik selanjutnya terdengar derap langkah seseorang kian mendekat, Debby pun ikut masuk dan mengunci toilet berhadapan dengan Rara yang mematung seakan separuh hilang hilang.


“Diam, dan jangan bergerak.” Ancam Debby dengan mata tajamnya seraya menodongkan senjata tepat di dahi Rara.


Drap... drap... drap...


“ Apa ada orang disini?” Ucap petugas yang menerobos masuk.


“Mau apa kalian disini??” Teriak Debby masih dengan posisi yang sama.


“Maaf, kami sedang mencari penyusup.” Ucap pria berseragam itu.


“ Hanya saya sendiri disini sejak tadi.” Jawab Debby.


“Baiklah, maaf.” Petugas itu pun melenggang pergi.


“Jordan.” Entah kenapa malah nama itu muncul di dalam otak Rara. Jika saja telepatinya sampai ke padanya, mungkin hanya pria itu yang bisa menolongnya.


Nggak!! Aku harus lari....


Rara menatap lekat netra hitam milik Debby, menguatkan dirinya sendiri jika ia bukan gadis selemah itu. Rara mengedarkan pandangan, di carinya benda apapun yang bisa di gunakan untuk senjatanya, tapi sayangnya hanya ada gayung dan tisu toilet sedangkan wanita itu memegang pistol tentu saja Rara kalah telak.


“Bersikap normal dan ikuti langkahku.” Ucapan wanita itu membuat Rara sedikit senang, masih ada kesempatan untuk dirinya melarikan diri jika Debby membawanya keluar bandara. Debby pun merangkul lengan Rara dan memasukkan senjatanya, membuat seolah-olah mereka sangat akrab.


Namun, Rara salah mengira jika Debby akan membawanya melewati pintu utama depan bandara, nyatanya wanita itu malah membawanya melalui berbagai ruangan aneh seperti jalan rahasia.


Sesekali melewati gudang penyimpanan atau merangkak melewati terowongan sempit dengan penerangan yang sangat minimal, terlihat suram, becek, dan dingin membuat bulu kuduk Rara berdiri semua.


“Kau mau membawaku kemana? Bisa lepaskan aku? aku tidak punya salah padamu, tapi kenapa lakukan ini?” Ucap Rara pelan membuat Debby menghentikan langkahnya dan menatap tajam Rara.


“ Diam!!.” Sentak Debby membuat Rara terhenyak sedikit.

__ADS_1


Jordan…tolong aku. Jika aku mati hari ini, maka ini ungkapan terakhirku. Untuk ayah dan ibu, aku sayang kalian dan juga Diko. Untuk Jordan, Aku juga mencintaimu . Maaf karena ini sedikit terlambat. Aku nggak nyangka akan mati seperti ini. Ya Tuhan…..Batin Rara pasrah di sepanjang jalannya yang sejak tadi tangannya di tarik paksa oleh Debby. Kini rasa optimis beberapa saat lalu semakin menipis.


.


.


Wusssshh….


Jordan terpaksa ikut andil dalam pencarian, kala beberapa saat lalu mendapat kabar jika Rara menghilang. Tidak butuh waktu lama, kini pria itu berada di toilet wanita sesaat setelah Rara sudah di bawa pergi, pelacak pada ponsel Rara itu yang membuat Jordan mudah menemukannya.


Triing…triing..


Ponsel Rara berdering kala Jordan membuat panggilan benda itu. Semakin cemas tentunya, Jordan mengambil benda pipih itu yang tergelatak seraya mengacak rambutnya dan mengusap wajahnya kasar saat pikirannya makin tak karuan. Tiba-tiba terlintas suara lembut yang memanggil namanya, “Jordan….”


“Rara, kamu dimana?” Jordan terhenyak mengacak rambutnya berkali-kali, bahkan tenaganya hampir habis karena sejak tadi ia menggunakan kekuatannya. Mungkinkah mereka sudah membawa Rara pergi jauh? Pikir Jordan.


Drapp…drap…drap..


“Maaf tuan, kami belum menemukan nona.” Ucap Brody bergetar yang baru saja menyusul, sedangkan Axel sudah terduduk lemas di lantai meratapi nasib kakinya yang sudah membengkak.


“Kau, antar Axel ke rumah sakit!! Brody dan yang lainnya lanjutkan pencarian!!.” Titah Jordan dingin pada anak buahnya itu, ingin saja ia mengamuk pada kedua pengawalnya yang tidak becus menjaga Rara, tapi situasi tidak memungkinkan.


“Baik.” Ucap mereka serempak dan berpencar.


Jordan, Aku mencintaimu…


Ya Tuhan tolonglah, demi apapun Jordan makin ketar-ketir mendengar bisikan itu.


“Ra..tunggu aku!”.


.


.


.

__ADS_1


tbc...


__ADS_2