
Seminggu pun berlalu….
Hari demi hari, hujan dan panas silih berganti mengisi ruang waktu dan Rara masih setia menunggu di sisi Jordan yang terbaring lemah. Ia tidak peduli lagi dengan hal lain, harapannya saat ini bisa mendengar suara Jordan kembali untuk mengisi hari-harinya seperti sedia kala.
“Tidur Ra. Kamu juga perlu istirahat, jaga kesehatan karena kak Jordan juga nggak akan senang kalau kamu sakit.” Ya, itulah kata-kata yang sering Rara dengar setiap hari dari mulut sahabatnya.
“Val…dia begini karena aku. Aku…uhh…hiks…hiks.” Rara memeluk Valerie karena ia tidak memiliki pelampiasan lain. Baru kali ini Valerie melihat sahabatnya sesedih ini, ingin rasanya ia menghajar Jordan yang berani membuat Rara kehabisan air mata karena menangis setiap hari.
“Guyss, waktunya makan siang.” Ucap Victon yang baru muncul dari luar. Entah sejak kapan mereka bertiga jadi akrab, mungkin semenjak Jordan sakit. Rara bahkan rela bolos kuliah dan menelantarkan beberapa projek dari pekerjaannya, demi memperhatikan kesembuhan Jordan.
Lalu bagaimana dengan Marcel dan Aiden? Tentu saja mereka menerima hukuman yang sepantasnya. Kecuali Marcel, pria itu di pulangkan kembali ke negara asalnya dan menerima konsekuensi berdasarkan hukum yang berlaku di sana.
“Makan Ra. Kamu tenang aja, si kunyuk itu bukan pria lemah.”
Victon berusaha meyakinkan Rara yang sejak tadi hanya memandangi makanannya tanpa di sentuh sedikit pun. Mungkin gadis itu berpikir, apakah bakso dan mie itu mau masuk ke dalam perutnya atau tidak.
“Astaga Rara....kak Jordan hanya sakit bukan mati. Kamu yang seperti ini hanya menyiksa diri tau nggak?.” Geram sekali Valerie melihat Rara seperti hidup segan mati tak mau. Sumpah demi apapun, Valerie tidak bisa lebih sabar lagi hingga rasanya ia ingin membalikkan meja makan saat ini.
__ADS_1
Sudah berhari-hari Rara bersikap seperti ini, membuat Valerie hampir hilang akal sehatnya. Valerie jarang meninggikan suaranya, karena Rara tidak bisa di perlakukan begitu. Tapi yang benar saja, 21 tahun bukanlah anak kecil lagi yang harus selalu di bujuk, sedangkan Rara bersikap menyebalkan sekali melebihi anak balita.
Selepas makan siang yang penuh adegan bujuk membujuk itu, Rara kembali menemani Jordan. Ia merebahkan diri di samping sang kekasih kemudian memeluk erat, hingga sesekali mengusap pelan luka dalam balutan perban itu.
”Ini pasti sakit. Sayang maafin aku, kedepannya aku akan melindungimu. Tolong bangunlah…aku rindu.”
Rara kembali mendaratkan kecupan singkat si kening Jordan. Sejak kemarin beginilah yang ia lakukan, selain tugasnya sebagai perawat Rara juga menjadi pendongeng dadakan dan selalu berakhir terlelap di samping Jordan.
“Kamu bahkan belum melamar aku, bukannya kita akan menikah? Kamu nggak boleh ingkar janji, ingat?.” Rara menelusup di dada bidang Jordan dan mencari kenyamanan di sana. Dalam hati, Rara sangat menyesal sekali, kenapa dulu ia selalu mengulur waktu untuk mengungkapkan perasaannya yang sesungguhnya.
“Kapan aku bilang janji?”
“Waktu itu, di vil….ha?” Rara terhenyak dan kini mendongak kala mendengar sebuah jawaban. Jordan membuka matanya perlahan seraya mengeratkan pelukannya saat mata indah mereka saling bertemu pandang dalam diam. Beberapa detik kemudian, wajah Rara memerah dan tangisnya pun pecah.
“Hikss…huuuu…uhhhhuuuuuu.” Jordan membenamkan wajah Rara di dadanya dan mengusap lembut kepala gadis itu. “Ssshhhh…jangan nangis lah. Kan seharusnya bahagia, kamu nggak senang aku udah bangun, hmm?” Suara lembut yang sangat Rara rindukan itu kembali terdengar, apa perlu di tanya jika Rara sebahagia itu?.
Hingga beberapa menit kemudian, Rara menuntaskan tangisnya dan tak sadar jika air matanya membanjiri baju Jordan. Jordan sengaja diam dan memberi ketenangan pada Rara hingga gadis itu puas menangis.
__ADS_1
“Udah?” pertanyaan yang tidak penting dan hanya untuk basa basi, lucunya Rara merespon dengan anggukan yang mantap membuat Jordan terkekeh. “Aku nggak suka kamu nangis Ra, tenanglah aku kan udah baik-baik aja.”
“Ini tangis bahagia bukan sedih.” Jawab Rara seraya mengusap sudut matanya yang basah.
“Good girl, cium dulu muumuu.”
Cup.. Rara mengecup sekilas bibir yang maju beberapa senti itu. “Segitu aja? sayang …cium sama kecup itu beda, ulangi lagi!!” Mulai deh, jika Jordan sudah setengil itu berarti ia benar-benar sudah sembuh. Sejujurnya Rara juga merindukan moment romantis ini, hingga ia tak mampu menolak. Pada akhirnya adegan sosor-menyosor itu pun terjadi hingga keduanya tak menyadari kala ada yang memerhatikan mereka dari pintu kamar.
“Good…good, kalian memang nggak tau situasi dan tempat.”
.
.
.
tbc.
__ADS_1