
...WARNING!!!...
...☝☝☝☝...
...Hayoooo pada mikirin apa kalo ada kata itu?? Ngaku hehehe😁😁😁...
Rara masih merasakan pergerakan di sekitarnya. Di sisi lain berusaha normal meski nyatanya tidak. Jangan…jangan…jangan… hal yang Rara takuti jika berduaan dengan pria, dan Jordan pria itu. Krieettt…. Rara mendengar Jordan membuka jaketnya kemudian melirik.
“Kamu mau apa?” Belum menjawab, Jordan kini tampak membuka sabuk pengamannya kemudian membenarkan ikat pinggang celananya. Bedanya, di sudut pandang Rara pria itu tampak ingin membuka celananya hingga Rara terduduk tegap karena terkejut.
Jordan tersenyum sinis dan dari sudut matanya ia memerhatikan gerak-gerik Rara. Ia paham jika Rara belum siap atau apalah itu, padahal sejak di pulau Jordan sudah melihat Rara yang sangat agresif. Dalam dua detik pria itu mendekat tanpa aba-aba membuat Rara kelimpungan.
Tolonglah! ini masih di luar meski itu di dalam mobil, yeah. Rara terjatuh di jok rendahnya dengan tangan siaganya mengatup di depan dada dan memejam. Jordan mendelik, kok disini seolah-olah dirinya seperti tukang buli atau cabul? Pikir Jordan heran.
Tiba-tiba Rara merasakan sesuatu menempel di bibirnya, sudah ia duga jika pria itu yang melakukannya. Perlahan Rara membuka mata dan Jordan melepas tautannya sejenak. “Kamu tanya aku mau apa?..” tanya Jordan terpotong membuat Rara keringat dingin.
“ Aku mau kamu.” Bisik Jordan di telinga Rara, tangan kekarnya turun kebawah dan menyingkirkan tangan Rara.
Napas Rara kian memburu seperti sesuatu akan keluar dari tubuhnya sama hal nya dengan Jordan. Ceklek… Rara melirik ke arah suara dimana Jordan sedang memasangkan pengait sabuk pengamannya. Wajah tampan Jordan tampak menawan dengan cahaya temaram lampu di luar. Belum lagi, mobilnya terparkir di bawah pohon dan sepi.
__ADS_1
Semakin dekat saja wajah Jordan hingga Rara merasakan hembusan napasnya, dan sorot mata itu kembali membius Rara. Tampak Jordan yang kembali memejam dan memiringkan kepalanya, tentu saja Rara memejam juga karena paham apa yang akan di lakukan pria itu.
Tangan Rara meremas baju Jordan kala menerima permainan bibir itu. Jordan menarik tengkuk leher Rara dan masih selembut mungkin. Satu tangan sebagai tumpuan dan satunya lagi bermain di area telinga hingga turun ke punggung Rara. Sentuhan lembut tangan itu membuat Rara kian pasrah.
Hingga Rara merasakan tangan Jordan yang liar kini mengarah ke bagian depan dan menelusup ke dalam baju Rara. Rara kira hanya berhenti di situ, nyatanya Jordan kini bermain dengan area sensitif milik Rara yang hingga meremas pelan. Itu di luar dugaan, terasa aneh karena ini pertama kalinya bagi Rara.
“Jangan di terusin.” Rara berusaha menghentikan tangan nakal Jordan tapi sia-sia.
“Apa? mau di terusin ? bolehhh…” Di tengah keadaan itu Jordan malah ngebanyol membuat Rara sedikit kesal.
“eunghhh….jangan.” Rara menggigit bibir bawahnya kala Jordan masih belum menyingkirkan tangannya itu. Mereka masih berapi-api dan belum berniat untuk memadamkan.
Pujian itu malah semakin membuat wajah Rara semerah tomat. Gila rasanya, kenapa mereka seliar ini dan Rara juga tidak percaya jika ia menjadi murah seperti barang obralan. Tidak polos lagi, memang ia begitu hanya di depan Jordan, yaitu pria satu-satunya yang akan menjadi pendamping hidupnya.
“Calon suamiku juga tampan.” Rara mengelus pipi Jordan dan pria itu memejam menikmati sentuhannya.
“Bisa nggak singkirin tangannya? Mesum banget.” Rara mendelik kala posisi Jordan masih sama. Segera Jordan menarik tangannya lalu tersenyum puas.
“Tapi kamu suka tuh.”
__ADS_1
“Mana ada aku begitu?” Lagi-lagi Rara tidak mau mengaku. Membuat Jordan yang hendak duduk di joknya kembali mendekatkan tubuhnya lagi. Lucunya, Rara malah rebahan dengan santai dan berpura-pura tidur tanpa waspada jika akan di lahap sang serigala.
Groookkkkk….. gadis itu membuat suara dengkuran yang sedikit berlebihan, tanda jika ia tidak ingin di usik lagi. Jordan terkekeh seraya mengelus rambut Rara pelan. Ia juga tidak seegois itu untuk memaksa Rara, rasa sayang dan nafsu itu berbeda dan Jordan selalu menanamkan prinsipnya itu.
“Harus pemanasan dulu baru mau nurut?” Gumam Jordan dan masih di dengar Rara. Pria itu segera melajukan mobilnya sebelum semakin larut.
Pura-pura, berujung tidur sungguhan. Begitulah Rara yang kini sangat nyenyak selama perjalanan pulang. Sesekali Jordan melirik Rara seraya mengelus pipi gadis itu pelan kemudian kembali fokus menyetir.
“Andai mama dan papa tahu kalau calon menantunya kamu Ra. Mereka pasti bahagia.” Orang tua kandung yang di maksud Jordan, bukan orang tua angkatnya. Jordan tetaplah anggota keluarga Anderson, meski tidak menjadi anak angkat Tuan dan Nyonya Anderson yang saat ini sekalipun.
Darah Anderson tetap ada di tubuhnya, bahkan status pewaris itu tetap melekat pada dirinya. Hebat bukan, meski begitu Jordan tetap memilih hidup bebas dan kebebasan itu menjadikan Jordan yang saat ini. Kebahagiaan sudah di depan mata, jadi Jordan tidak berambisi lagi untuk kembali ke keluarga itu.
.
.
.
to be continued.
__ADS_1
Ayo tinggalkan jejak dengan vote dan likenya ya. makasih semua 😇😇😇