
"Sayang?" Jordan bingung mencari keberadaan Rara, karena beberapa saat lalu gadis itu bilang jika ingin ke toilet. Nyatanya setelah Jordan telusuri, tidak di temukan keberadaannya.
"Kemana sih? Raraaaaaa....." tidak biasanya gadis itu lepas dari pandangannya, wajar saja jika Jordan seresah itu. Ia mencari ke ruangan lain, namun masih tidak ada juga. Hingga tiba-tiba terdengar suara pantulan benda, sontak ia pun mencari arah suara tersebut.
Ternyata dari dapur, langsung saja senyum itu terbit di wajah Jordan kala menemukan sosok yang di carinya sejak tadi. Rupanya Rara sedang memasak di sana, nampak dari belakang gerakan tangannya yang sedang memotong-motong.
Tak...tak...tak...
"Pakai telur, eh....daun bawang juga enak deh kayaknya." gumam Rara. Mie instan? ya, itu pilihan yang tepat karena simple dan tidak perlu waktu lama untuk memasaknya. Sejak tadi perut Rara sudah bergemuruh, dan setelah mengobrak-abrik lemari di temukanlah makanan itu.
"5 menit lagi..... yeah. " Rara bersorak riang kala memasukkan telur ke dalam panci itu. Tak berselang lama, Rara tertegun kala ada tangan melingkar di perutnya dan tentu saja ia tahu siapa pelakunya.
"Kamu ngapain, hmm?" Jordan memeluk tubuh Rara dari belakang seraya menciumi rambut Rara yang seperti heroin baginya. Demi apapun Rara belum siap, dan meski Jordan sering melakukan itu tetap saja Rara belum terbiasa.
"Minggir dulu! aku lapar. "
"Kenapa makan mie sayang? aku masakin yang lain ya? "
"Nggak perlu, ini udah matang. aku udah lapar banget. "
__ADS_1
"Segitunya?"
"Iya, kamu ngurung aku tapi nggak di kasih makan. Ya ....kelaperan akunya." Miris sekali mendengarnya, tapi itu kenyataan yang ada karena perut Rara memang belum terisi sejak semalam.
"Maaf, aku lupa tadi pagi kita nggak sarapan juga ya."
Pada akhirnya satu porsi mie instan itu di makan berdua. Niat awal Jordan ingin mencicipi satu suap, eh ternyata keterusan hingga beberapa suap. Rara ingin kesal sebenarnya, tapi tidak bisa. Akhirnya karena merasa masih lapar, Rara pun mencari sesuatu di dalam kulkas. Ternyata ada cookies, lumayan lah itu bisa mengganjal perutnya.
Rara menghabiskan beberapa potong cookies itu dengan rakusnya, membuat Jordan terkekeh lucu. "Aku mau. " Jordan pun mendekat ke arah Rara dan dengan cepat melahap cookies itu, tapi bukan yang di toples melainkan yang ada di mulut Rara.
"Jangan, jorok tau! ini ambil yang di toples." titah Rara yang sudah memerah. Tanpa menghiraukannya, Jordan kembali melahap bibir indah itu hingga akhirnya Rara memukul-mukul gemas.
"Aku nggak marah, cuma kesal." Blushhh....Rara memalingkan wajahnya yang sudah bersemu merah, bahkan mungkin kini memenuhi seluruh permukaannya.
"Maaf, aku nggak bermaksud begitu. Ra, tolong pahami jika aku sangat menyayangimu, aku nggak suka kamu kasih perhatian ke pria selain aku."
"Termasuk ayah?" tanya Rara.
"Ayah kan bukan orang lain, sayang. Maaf, sikap posesif ku ini demi untuk melindungimu, paham kan?" Jordan menarik dagu gadis itu agar menatapnya.
__ADS_1
"Dasar cemburuan." Sindir Rara seraya memakan kembali cemilannya tadi. Cookies itu baru masuk setengah, namun dengan jahilnya Jordan kembali beraksi hingga Rara tak mampu mengelak. "emmphh, tunggu! aku belum emphh sikat gigi emmphh, tadi habis emmphh makan bawang." Ucap Rara terputus-putus, sesulit itu ia ingin mengutarakannya.
Jordan terus menyeruduk seperti banteng, hingga Rara terpojok di sudut meja makan. Brakk.. kaki Rara kini gemetaran seolah-olah tidak mampu lagi menopang tubuhnya. Hingga darah yang mengalir di seluruh tubuh rasanya seperti tersetrum listrik. Jordan selalu memberi sentuhan yang membuat Rara terbuai hingga lupa akan dunia.
"ini enak, ternyata biskuit yang dari mulutmu jauh lebih manis." ucap Jordan dengan wajah yang berkabut gairah seraya mengusap bibir Rara yang basah. Cup... lagi dan lagi pria itu nyosor bak soang, membuat Rara heran karena pria itu tidak ada lelahnya melakukan hal tersebut.
"Ahh..... udah cukup." Rara meremat rambut Jordan yang kini menciumi leher jenjangnya. Gila, ini gila!! Rara tidak mau hal semalam terulang dan semakin jauh lagi, tapi sialnya tubuhnya kini malah merespon dengan baik.
"Euuhhh." kesekian kali Rara melenguh di bawah pesonanya, membuat Jordan tersenyum puas. Ia merasa bangga sebagai pria sejati, yang mampu mengendalikan wanitanya hanya dengan bibirnya saja. Oh no!! Benda di bawah sana kini bangun dan melambai-lambai menginginkan sesuatu.
Hai..!
"Ini gimana? " Jordan terhenyak seraya berpikir tanpa melepas tautannya.
.
.
.
__ADS_1
tbc