
Bip….bip….bip….bip
Ini dimana? Apa yang terjadi…?
Baunya aneh..
Sakiiitttt, badanku sakit!!
……..
Terdengar samar-samar suara, Jordan perlahan membuka matanya. Masih redup, ia tak bisa melihat dengan jelas. Pandangannya pun mengedar ke seluruh ruangan yang ternyata adalah rumah sakit. Sesaat matanya tertuju dua orang yang duduk di sofa tak jauh darinya.
“Jo? syukurlah, lo udah sadar .” Victon beranjak dan segera memeluk Jordan dengan kuat hingga terasa sesak. “ Sakit kampret!!” ucap Jordan lirih.
“Sorry.” Ucap Victon kemudian duduk di samping ranjang pasien.
Tidak ada, Jordan mengedarkan pandangannya dan mencari sosok penting yang seharusnya saat ini berada di sisinya. Namun hanya ada Victon dan pak Winarto.
“Ayah?” Jordan berusaha untuk duduk.
“Berbaring saja, jangan banyak gerak.” Ucap pak Winarto seraya memaksa Jordan untuk tetap berbaring.
“Rara mana yah?” tanya Jordan pelan. Saat ini ia benar-benar membutuhkan istrinya. Namun tidak ada yang menjawab pertanyaan Jordan. Malah kedua pria itu saling berpandangan dalam diam.
"Rara siapa?" tanya pak Winarto.
"Habis terbentur, apa ingatan lo bermasalah Jo?." Ucap Victon juga. "Istriku. Rara istriku, dia di mana?" Jordan di serbu dengan penyataan yang membuatnya bingung. Apa maksud dari ucapan mereka, mana mungkin pak Winarto melupakan putrinya sendiri.
__ADS_1
"Rara kan anak ayah, masa lupa?." Jordan semakin bingung. "Kamu bicara apa, anak ayah ya kamu." pak Winarto mengusap kepala Jordan layaknya anak kecil.
"Kalian kenapa? tolong jangan bercanda, istriku mana?"
"Sejak kapan lo udah nikah Jo. Istri dari mana, ngaco." Victon menggeleng pelan.
Apa-apaan ini, Jordan jadi berpikir jika ia mungkin kembali ke masa lalu. Kendati demikian, bagaimana bisa pak Winarto menjadi ayahnya? tidak masuk akal. Jordan menyugar rambutnya ke belakang, dan tatapannya kembali menelisik dua pria di depannya.
ini serius?
Jordan memasang wajah bingungnya dan itu sangat lucu hingga pak Winarto dan Victon sudah tidak mampu menahan tawa lebih lama lagi.
"hahahaha."
Jordan kembali mengerjapkan matanya. Apanya yang lucu? Jordan tak paham dengan situasi saat ini.
"ini nggak lucu." Jordan memasang wajah kusutnya.
"Maaf nak, ayah hanya mengujimu. Tenang saja, Rara ada dan sedang keluar. Sebentar lagi pasti....nah ini dia."
Hufftt.. Jordan menghela napas lega.
"Kak?"
Rara menghampiri Jordan dengan tentengan plastik di tangannya. Sementara pak Winarto memberi isyarat pada Victon agar memberi pasangan itu ruang.
Di rasa aman, Rara segera menghambur ke tubuh Jordan. "3 hari. Aku hampir mati rasanya. Tolong jangan begini lagi." Ucap Rara lirih. Jordan memejam dan membalas pelukan itu.
__ADS_1
"Berapa lama aku pingsan?" Jordan melonggarkan pelukannya dan menatap intens wajah Rara. "Kamu menghilang selama 4 hari, dan baru sadar 3 hari kemudian. Ini udah seminggu."
Ada yang janggal, sewaktu Jordan mengalami kecelakaan ia bisa keluar dari hutan pada hari berikutnya. Dan sorenya ia sudah berada di lingkungan rumahnya, lantas dua hari sisanya dia ada dimana?
"Ra, aku di temukan di mana?
"Hutan. Nggak jauh dari lokasi mobilnya jatuh."
"Apa aku halusinasi visual? " batin Jordan bingung. Padahal ia sempat makan di warteg dan berpindah sana-sini. Seingat Jordan, ia sudah sampai rumah hanya dalam 2 hari pascatragedi.
"Sayang kanapa?"
Jordan menggeleng pelan, "Maxton?" tanya Jordan kemudian.
"Di ruang sebelah. Tangannya patah, jadi perlu perawatan khusus." jawab Rara apa adanya. Kondisi Jordan lebih parah dan memprihatinkan, tapi ia selalu perhatian pada asistennya itu. Bagaimanapun , mereka bagaikan tulang dan daging yang selalu menempel dan saling membutuhkan satu sama lain. Begitulah simbiosisnya.
"Aku bawa buah. Mau apa?" tawar Rara seraya memperlihatkan kantung plastik yang ia bawa tadi.
" Mau pir. kupasin ya."
Rara menurut dan dengan telaten mengupas buah itu. "Suapin." Manjanya. Jordan mengamati Rara yang begitu sabar memotong buah itu dan menyuapinya perlahan. Jika begini, Jordan rela sakit-sakitan demi bisa di manja-manja begini.
.
.
.-To Be Continued-
__ADS_1