
...HAPPY READING!! 😁😁...
Terlampau lelah akibat pertempuran 3 ronde pagi tadi, membuat Rara kini masih bergumul di kasur empuknya hingga mentari hampir turun kembali. Jordan sudah bangun sejak tadi, namun ia tidak tega membangunkan Rara yang masih terlelap.
Pria itu pun memutuskan untuk memasak makan sore karena perutnya juga sudah mulai berdemo meminta amunisi. Sebelumnya, Jordan juga sudah memerintahkan pengurus rumah untuk memenuhi bahan-bahan makanan, jadi semua sudah tersedia lengkap.
1 setengah jam kemudian…...
Terlampau asyik, Jordan jadi kalap dengan aktifitasnya hingga tak sadar jika ia memasak berbagai menu masakan.
“Malah keasyikan, biarin deh.”
Jordan segera kembali ke kamar untuk membangunkan sang putri tidur. Benar sekali, Rara masih asyik dengan dunia mimpinya. Senyum itu tampil di wajah Jordan bersamaan dengan kakinya yang menuntun untuk mendekati Rara.
“Tidurnya selalu setenang ini?.” Jordan mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Rara yang sedikit gembul.
“Sayang, makan malam udah siap. Bangun dong.” Tidak ada perubahan pada Rara, malah gadis itu hanya menggeliat pelan. Jordan tidak akan menyerah sebelum Rara membuka matanya. Muncul lah ide jahil Jordan yang ia yakini jika itu pasti berhasil.
“Mau makan sekarang atau pilih jadi makananku?” Bisik Jordan di telinga Rara.
Sontak Rara terkesiap hingga terduduk tegap. Lebih anehnya ia merasakan angin sejuk di tubuh bagian atasnya, dan saat Rara melihat jika tubuhnya polos langsung saja ia tarik selimut untuk menutupi. Jordan hanya terkekeh dengan tingkah lucu Rara, padahal semalu apapun Rara toh Jordan sudah mencicipi semuanya.
“Mau mandi dulu?” Tanya Jordan lembut dan di angguki oleh Rara yang memerah khas dengan muka bantalnya. Kretekkk… baru saja Rara bergerak sedikit, ia langsung merasakan nyeri di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
“Awww.” Gumam Rara seraya meringis.
Ternyata suaminya segagah itu hingga rasanya sendi-sendi terpisah dari tulangnya. Berhubung Jordan peka karena itu memang ulahnya, dengan cepat ia menggendong sang istri namun tanpa menyertakan selimutnya.
“Aaaaaaaa…..kamu mesum.”
Rara menutup tubuhnya dengan kedua tangannya, dan bisa di bilang itu tidak berhasil. Karena Jordan masih bisa melihat jelas barang-barang berharga milik istrinya. Tuing… Jordan menyentil kening Rara saat menurunkannya di kamar mandi, itu karena Rara melototi Jordan layaknya orang mesum sungguhan.
...𖧷𖧷𖧷𖧷...
Setelah selesai kegiatan mandi dan makan malam yang terbilang lebih awal. Sore itu memang paling cocok untuk bersantai. Pasangan itu memilih untuk menikmati waktu di depan televisi. Itu juga atas permintaan Jordan karena masih tidak tega jika membawa Rara keluar untuk jalan-jalan. Padahal Rara sudah merengek minta di bawa berkeliling-keliling.
“Kak?” Panggil Rara pelan.
“Ayo keluar, aku bosen.” Rengek Rara dengan bibir sedikit maju. Jordan yang gemas malah mengecup bibir itu sejenak lalu melepasnya. Tentu saja hal itu membuat Rara sebal hingga pukulan ringan mendarat di dada bidang Jordan.
“Besok aja ya. kan kamu masih lelah.”
“Nggak kok, aku udah biasa aja.” Jawab Rara dengan memelas meminta pengertian. Sesekali Rara membuat pola lingkaran di dada Jordan, berharap jika suaminya akan luluh. Dan ternyata itu berhasil. Jordan menghela napas pelan, kemudian mengangguk tanda jika ia setuju.
“Kita sampai kapan di sini?” tanya Rara yang kini sudah duduk.
“2 hari lagi kita pulang, pesta pernikahan kita kan sebentar lagi.” Jordan mengacak rambut Rara dan segera bangkit dari duduknya. Baru mau melangkah, tangan Jordan di cekal Rara dan Jordan pun menoleh.
__ADS_1
“Mau kemana?” tanya Rara kemudian dan itu membuat Jordan mengerutkan alisnya. Bukankah sebelumnya gadis itu bilang ingin pergi jalan-jalan? Pikir Jordan.
“Katanya mau keluar, jadi nggak?.” Rara malah menggigit bibirnya. Tiba-tiba ia menjadi ragu untuk bilang karena keinginannya berubah dalam sekejap mata.
“Nggak jadi, masih sakit aku nggak sanggup kayaknya.”
Rara berusaha untuk sejujur mungkin, tapi Jordan menanggapinya dengan tawa renyahnya. “Tenyata aku segagah itu, sampai istriku kesakitan begini.” Baru mau melayangkan cubitannya, Rara di tarik dan secepat itu sudah berada dalam pelukan Jordan.
Deg…deg….deg… Jantung Rara berdegup dengan tempo melebihi normal. Padahal itu bukan pertama kali, atau mungkin saja memang Rara yang selemah itu imannya.
“Maaf ya, aku berlebihan melakukannya.”
Meski merasa bahagia namun tak dapat di sangkal jika Jordan merasa bersalah karena sudah menyakiti istrinya itu. Senyum Rara terbit mendengar penuturan Jordan dan akhirnya ia mengeratkan pelukannya.
“Sudah kewajibanku, sayang.” Jawab Rara di ikuti seulas senyum manis yang melengkung pasti.
.
.
.
-To Be Continued-
__ADS_1