
...HAPPY READING!!...
“lo nggak perlu cemas, Vic. Marcel gak punya urusan sama lo, satu hal lagi Valerie itu bukan gadis yang mudah di tindas.” Ucap Jordan seraya beranjak dari kasur menuju kamar mandi.
Sejak tadi ia mengamati perubahan ekspresi wajah Victon yang tampak berbeda, mungkin saja ia menghawatirkan gadis tomboy itu, pikir Jordan kemudian berlalu.
“Kenapa jadi bahas dia?” Victon mengangkat sebelah alisnya karena heran. Sejak tadi ia tidak menyinggung nama gadis itu, dan untuk apa mengkhawatirkannya.
Setelah selesai dengan ritual mandinya, Jordan menuju ruang tamu di mana Victon masih belum beranjak pergi dari rumahnya. Pria itu malah terlihat sangat santai di balik citranya seorang pemimpin VCO Technology Group yang seharusnya sangat sibuk.
“Gak ada niatan mau pergi?! Bukannya seharusnya lo bertapa di kantor?” Ucap Jordan seraya mengambil air dingin di dalam kulkasnya.
“Gue boss nya, santai aja lah. Jadi siapa dalangnya?” Tanya Victon pada Jordan, ia sudah penasaran sejak tadi dan ingin mendengarkan penjelasan dari mulut pria itu.
“Mr. M, gue butuh bantuan lo Vic. Secara kan koneksi lo luas, Maxton cukup kwalahan karena lawan ini gak bisa di anggap remeh.” Jelas Jordan yang duduk di sofa seberang Victon. Keduanya kini tampak sangat serius, jika di ingat lagi sudah lama tidak ada yang mengusik hidup Jordan karena identitasnya sebagai tuan muda Anderson tertutup amat rapat.
“Pasti gue bantu Jo. Cuma….. gue rasa lo harus hengkang dari entertainment, muka lo ada di mana-mana dan itu bahaya.”
“Jadi model itu cita-cita gue sejak dulu Vic, nggak mudah buat melepasnya.” Jordan mengehela napasnya kasar, tidak ada yang salah dengan saran Victon hanya saja itu keputusan yang cukup sulit.
Pekerjaannya itu tidak menutup kemungkinan jika ia mudah di kenali, namun wajahnya kini di kenal sebagai Jordan ravindra bukan Leonzio Anderson. Tidak banyak yang mengenali wajah tuan muda ketiga Anderson .
__ADS_1
“Lo punya Hotel, vila, restoran dan resort, jadi gak perlu khawatir kalau jatuh miskin dan gak bisa hidupin istri lo di masa depan. Pikirin Rara Jo!! mereka bukan incar lo tapi Rara!!.” Nada bicara Victon kian meninggi, bukan marah tapi memang sesulit itu menasehati Jordan yang keras kepala. Victon mencoba memberi pengertian kepada sahabatnya itu, bagaimanapun ia sangat peduli pada pria itu.
“Ternyata guelah penyebab Rara jadi begini.” Jordan tampak berfikir keras seraya mengetukkan dahi pada kepalan kedua tangannya.
Jordan seharusnya menjadi pewaris tahta keluarga Anderson. Tapi prinsip hidupnya tidak mau hidup begelimang harta karena warisan, daripada hanya menerima Jordan lebih suka bekerja keras dan menikmati hasil jerih payah keringatnya sendiri. Selama 7 tahun lebih Jordan tidak menghubungi orang tuanya, bukan ingin durhaka tapi ia harus menjauhi keluarganya itu demi keamanan semua orang di sisinya.
Ting…
Jordan menatap layar ponselnya karena notifikasi yang masuk. “Gue ada kerjaan Vic, kita bahas nanti lagi.”
“Okay.” Singkat Victon.
...***...
“Kau kenapa, tumben begini?” Tanya Dewi yang baru masuk ke ruang tunggu khusus. Ia memandangi Jordan yang tampak lesu dan kehilangan semangatnya.
“Kurang asupan dan Vitamin.” Keluh Jordan lemah seraya menyandarkan tubuhnya di kursi seperti manusia tak bertulang. “Vitamin? mau ku belikan vitamin?” Tanya Dewi yang serius mengkhawatirkan pria itu.
Drrttt….drrtt…
Tepat sekali, wajah Jordan yang di tekuk beberapa saat lalu berubah sumringah. “Ini dia vitaminku.” Jordan pun menatap Dewi seraya memberi isyarat agar managernya itu pergi. Dasar, budak cinta…..batin dewi mencibir dan segera melenggang keluar.
__ADS_1
“Hai sayang!” Sapa Rara dengan wajah polosnya di layar panggilan video itu. Kerasukan jin apa gadis itu, hingga berani berucap manis lebih dulu.
“Hai, tumben banget kamu.” Jawab Jordan tak lepas dengan senyumannya.
“Ngak boleh ya? eh ….aku ganggu kamu kerja?”
“Bukan, aku seneng aja dengernya. Nggak kok ini lagi break time. Btw, lagi dimana itu?”
“Lagi di tempat pakde, aku bosen dengerin orang tua lagi ngrumpi jadi ke luar aja deh. Lihat nih aku lagi di pinggir kolam ikan, gede-gede banget ikannya kan…..terus tuh…..” Oceh Rara penuh semangat.
Entah kenapa itu terdengar seperti nyanyian yang sangat merdu di telinga Jordan. Memang benar senyuman Rara adalah obat ampuh untuk kegelisahan hati Jordan sejak tadi. Akibat perkataan Victon beberapa waktu lalu, membuat mood Jordan jadi berantakan.
Hingga beberapa menit kemudian ponsel itu menjadi siaran berita, dan Jordan hanya setia menjadi penonton.
.
.
.
to be continued
__ADS_1
😊😇😇😇