
Berawal dari tatap
Indah senyummu memikat
Memikat hatiku yang hampa lara
….
Terkadang ku ragu
Kadang tak percaya
Tapi ku yakin kau milikku
Kau membuatku tertawa
Di saat hati ini terluka
Kau membuatku tertawa
Di saat hati ini terbawa
Terbawa oleh cintamu untukku
Untuk kita
Hmmmm
Senandung Rara begitu merdu, mengiring Jordan menuju alam mimpinya dengan cepat. Beberapa waktu lalu masih berdebat tentang siapa yang di atas dan siapa yang di bawah. Perkara tangan siapa yang akan menjadi bantal, dan pada akhirnya Rara menyumbangkan lengannya. Kini Jordan terlelap dalam dekapan Rara setelah di nyanyikan lagu merdu sebagai penghantar tidurnya.
“Tetap tampan meski banyak lukanya.” Ucap Rara pelan seraya menelusuri wajah Jordan. Bukan yang pertama, Rara memang selalu mengangumi Jordan sejak pertama bertemu (BAB 1. Terpesona). Walaupun pada kenyataannya ia tidak menyukai pria sejuta pesona ini kala itu.
“Awwwwwhhhh.”
__ADS_1
Tiba-tiba saja Rara merasakan dentuman di perutnya. “Baru beranjak 2 bulan, nggak mungkin udah bisa menendang kan?” batin Rara bingung.
Usapan pelan itu membuatnya kembali normal lagi dan Rara pun melanjutkan kegiatan pentingnya yang tertunda. Ya, mengagumi suami sendiri termasuk dalam list kegiatan penting Rara. Meski terdengar konyol, tapi realitanya memang begitu.Rara menelisik pemandangan indah di depannya, kemudian berhenti pada beberapa tanda di leher Jordan.
“Ini apa? kok seperti bekas cakaran?”
Tangan Rara membuka sedikit kerah Jordan agar dapat melihat dengan jelas. Jika itu karena hewan buas, tapi ukurannya terlalu kecil. Rara semakin penasaran dan tangannya pun membuka 2 kancing baju yang di kenakan Jordan.
Masih belum cukup rasa penasarannya, nyatanya bekas itu cukup banyak hingga ke punggung. Seketika Rara meremang, tidak mungkin jika Jordan berkhianat di belakangnya. Tapi ini sangat nyata, cakaran itu sudah mongering dan cukup banyak.
“Berani menghianatiku, awas kamu kak.” Batin Rara sambil melipat bibirnya ke dalam.
“Ini punyamu sayang. Jangan berpikir yang nggak-nggak.” Jordan bergumam seraya menangkap tangan Rara yang merayap di tubuhnya. Bisa-bisanya Rara berpikir Jordan memiliki wanita lain. “Bohong.” ucap Rara lagi dalam hati.
“Aku nggak bohong.”
“ Terus itu bekas siapa?” lidah Rara begitu kelu hingga berkali-kali kalimatnya tidak keluar dari mulutnya. Jordan yang sudah gemas pun perlahan membuka matanya dan meraih jari-jemari Rara.
Dengan tegas Jordan menodongkan kuku-kuku panjang itu pada empunya.
“Aku nggak bilang apa-apa tuh.”
Rara mengerutkan keningnnya. Heran saja karena Rara tidak mengatakan apa-apa sejak tadi. Dan semua yang Jordan maksud hanya pemikiran Rara saja dan entah bagaimana Jordan bisa mengetahuinya. Melihat Rara yang membisu membuat Jordan menghela napasnya.
“Kak, kamu bisa baca pikiranku?” batin Rara lagi.
“iya.” Singkat Jordan.
“Sejak kapan?” Kini Rara mengeluarkan suaranya. Jika memang begitu, berarti Jordan mendengar semua pemikiran konyolnya itu. Malu sekali, Rara benar-benar malu saat ini.
“Sejak awal. Udaaaahhhh, tidur yuk udah malam."
Sejak awal tiada dusta dan memang Jordan sudah sejujur itu pada Rara. Entah apa yang membuat Rara selalu curiga padanya, padahal di mata Jordan hanya Rara satu-satunya.
__ADS_1
Only you, feelin my kiss.
Ini…ini….dan ini is yours
Darling you look and always perfect to me..
Aku tidak butuh yang lain
Hanya kamu dan selalu kamu
Jordan melantunkan beberapa kalimat seraya menunjuk mata, bibir dan jantungnya pada kata ‘ini’ di bait tadi.
“Lagu siapa? Kok aku baru dengar.” Beo Rara. Apakah begitu penting pertanyaan itu saat ini? Jordan hanya bersenandung sesuka hati sebagai ungkapan kasih sayangnya. Jika saja bukan istri, mungkin Jordan sudah menelannya hidup-hidup.
“Sayang, aku masih sakit loh. Maunya di manja, bukan di omelin terus.”
“Aku kan nggak ngomelin.” Sergah Rara.
“Itu tadi maki-maki aku dalam hati.”
“Siapa suruh baca pikiran orang, nggak sopan.” Ucap Rara mencebik kesal.
Ada saja jawabannya, memang mau bagaimana pun Jordan akan selalu kalah. Jika di lanjutkan, pasti berakhir dengan pertengkaran. Dulu semasa sekolah, Jordan pernah memenangkan lomba debat international, tapi rasanya itu tidak berlaku bagi istrinya. Pilihan terbaik saat ini adalah mengalah.
.
.
.
-To Be Continued-
Salah lagi ya Jo?🤣🤣
__ADS_1