
Prok... prok... prok...
“Bagus! Sosor terus kaya bebek, aww.....aw….kalian benar-benar nggak tahu tempat.” Ejek Victon yang baru saja masuk seraya membawa buket bunga dengan tepuk tangannya yang mendominasi.
Tekejut? jangan di tanya lagi, rona merah kini muncul di pipi mulus Rara. Saat Rara hendak bangkit, Jordan menarik tangannya hingga akhirnya jatuh lagi di atas pangkuan pria itu, terpaksa Rara menerima dan kini menyembunyikan wajahnya di dada bidang Jordan.
“Ck, sialan lo……ganggu aja.” Ketus Jordan. Victon mengabaikan Jordan yang tengah cemberut itu, saat ini ia hanya tertarik pada gadis yang membuat sahabatnya itu selalu menggila.
“ Hai Ra, apa kabar?” Tanya Victon basi sekali.
"Baik kak. " Rara menjawab singkat sekali tanpa mengubah posisinya, wajahnya yang seperti kepiting rebus itu malu untuk di tunjukkan. Pada akhirnya Rara semakin menelusupkan wajahnya di dada Jordan kian erat. "Aku malu, ada kak Victon." bisik Rara dan hanya bisa di dengar oleh Jordan. Oh bahagianya, kenapa Rara menempel padanya tanpa ragu seperti ini? membuat Jordan bahagia sekali bak menang lotre.
"Dia malu? " tanya Victon tanpa suara dan di ikuti anggukan Jordan yang memahaminya.
“Ehemmm...kehadiranku nggak di harapkan sepertinya.” Gumam Victon kemudian meletakkan buket bunga di atas meja.
“Baru sadar bang? Pergi sana syuhhhh.” Usir Jordan.
“Uh...hatiku tersayat-sayat, perih sekali....mamaaaaa.” Sempat sekali mendramatis, Victon pun segera menuntun kaki panjangnya pergi menjauh menyisakan dua orang itu saja. Masih belum melepaskan, bahkan tangan Jordan menguatkan pelukan itu sama halnya dengan Rara.
Setelah beberapa menit, Jordan melonggarkan pelukannya. Di tatap nya wajah Rara yang mendongak. Cantik dan manis seperti gula, itulah ungkapan yang pas untuk Rara saat ini. Meski dengan penampilan sederhana, tidak menghilangkan kadar Ayu gadis itu.
Begini lah penampilan Rara, anggap aja lagi di ruang ganti..😁
__ADS_1
“Jangan pergi dulu, habis ini jadwalku banyak. Aku mau isi daya sebelum kembali bertempur.” Ucap Jordan dengan lembutnya yang tangannya kembali menarik Rara dalam dekapannya.
Tidak mau hal lebih, Jordan benar-benar hanya menginginkan pelukan Rara. Dengan nyamannya kini pria itu membenamkan wajahnya di leher jenjang Rara. Rara pun membalas pelukan itu seraya mengusap lembut rambut Jordan. Tapi, hembusan nafas Jordan sangat terasa di leher Rara, membuat ia membenarkan posisi tubuhnya yang tidak nyaman.
“Bisa diam nggak? Jangan banyak gerak Ra, kamu bikin yang di bawah jadi on.” Belum mencerna ucapan Jordan, Rara baru tersadar kala merasakan benda aneh menonjol di bawahnya. Sontak Rara hendak berdiri namun secepat itu di cegah oleh Jordan.
“i....ini.” Sesulit itu Rara ingin berkata, padahal dirinya sudah ketar- ketir. Oh tidak, apa ia kini jadi murahan? kenapa sulit sekali menolak keinginan Jordan? pikir Rara.
“Aku pria normal Ra, wajar kalau terangsang. Makanya diam ya….. aku cuma mau peluk bukan hal yang lain.” Pinta Jordan menatap lekat wajah Rara yang sudah kebingungan. Bagaimana bisa tenang jika posisinya seperti ini?.
Tak berselang lama....
"Ini jam makan siang, pantesan perutmu udah demo, makan yuk." Ajak Jordan di iringi tawa ringan melihat Rara yang tertunduk malu. Akhirnya, gadis itu berhore ria kala Jordan melepaskannya.
Untuk menghemat waktu Jordan mengajak Rara makan di restoran yang berada di gedung yang sama. "Aku ke toilet sebentar ya." Pamit Jordan dan di angguki oleh Rara yang sedang memilih menu restoran tersebut.
"ih gak ada nasi, mahal banget lagi. Ini apa makanan panjang-panjang gini? " Batin Rara berdecak kesal dengan menu masakan eropa yang tidak mengerti itu jenis apa, maklum saja lidah lokalnya terbiasa dengan makanan khas Nusantara. Terlalu fokus dengan buku menu, hingga gadis itu tidak sadar kala orang asing sudah menduduki tempat Jordan.
Rara tersadar ketika orang itu mengetuk meja dengan jarinya beberapa kali. "Eh.. panjang.. panjang." Rara tergagap dan hampir terjungkal ke belakang saat menyadari kehadiran seseorang di depannya. "Loh, om tahu bulat?" Seenak dengkul Rara memberi nama panggilan orang lain.
"Aku tidak bulat, tapi tampan." Ingin heran, tapi tidak berguna jika berdebat dengan orang asing.
__ADS_1
" Maaf. Saya tidak tau nama om jadi tidak tau harus panggil apa." Jawab Rara dengan santainya.
"Apa aku terlihat setua itu? kenapa panggilnya om? "
" Itu karena om terlihat lebih tua dariku. " Sopan sekali bukan? kemana ajaran sopan santun dari orang tuanya? mungkin saja hilang entah kemana.
"Ada apa om di sini? " Bukan bermaksud mengusir, tapi Rara benar-benar bertanya.
"Kebetulan, aku tadi melihatmu dan oh ya.... jajanan bulat-bulat tadi enak."
"Iya om, banyak jajanan enak lainnya. Om wajib coba di jamin mak nyussss." Entah kenapa gadis itu malah menjadi sales dadakan, membuat si om tahu bulat menyunggingkan bibirnya merasa lucu dengan penuturannya.
"Emm, aku harus pergi. Oh ya namaku Marcello, senang bertemu denganmu."
Pria itu menyentuh punggung tangan Rara yang di atas meja dengan gerakan sedikit sensual, membuat Rara mendelik dan segera menarik tangannya itu. Aneh sekali, kenapa pria itu membuat pemikiran Rara menjadi-jadi. Kembali membenarkan perkataan Valerie, jika pria itu berbahaya dan jangan mudah percaya.
.
.
.
to be continued....
__ADS_1