
Angin sepoi-sepoi menerbangkan dedaunan kering, beberapa tersapu dan jatuh di atas air kolam. Jordan dan Rara masih duduk di pinggir kolam ikan seraya menikmati dinginnya air yang menyentuh kaki.
Cipak.... cipak... bunyi kecipak air kolam itu.
Di tatapnya wajah samping Rara, kesekian kali Jordan sangat bersyukur dengan kehadiran gadis itu dalam hidupnya. Selama dua hari di kediaman Rara, Jordan juga merasakan hangatnya kasih sayang keluarga yang jarang sekali ia dapatkan.
Sebenarnya, Tuan dan Nyonya Anderson sangat menyayanginya, hanya saja kakak dan beberapa anggota keluarga Anderson yang lain tidak pernah bisa menerima kehadiran Jordan.
Sebuah fakta jika orang tua kandung Jordan telah tiada, akibat sebuah kecelakaan. Jordan hingga kini meyakini jika orang tuanya masih hidup, karena sejak saat itu jasad keduanya tidak pernah di temukan. Jika dahulu, ia masih kecil dan tidak bisa berbuat apa-apa, namun berbeda fakta dengan sekarang.
Kini, Jordan sudah memiliki kekuasaan, uang dan juga wanita tentunya.Tiga hal penting itu menjadikan Jordan sosok yang kuat.
Tiba-tiba, Jordan sadar dari lamunannya kala jari lentik Rara menyentuh pucuk kepalanya. "Ada daun tadi. " Ucap Rara seraya membuang daun itu yang menempel di mahkota Jordan. Pria itu hanya menarik senyumnya tipis hampir tidak terlihat.
" Emmmm, aku juga ikut pulang ke Jakarta. " Ucap Rara kemudian.
"Secepat itu? kamu kan baru pulang setelah 2 tahun? " tanya Jordan.
" Hampir dua minggu, ku rasa itu udah cukup. Ada banyak hal yang harus di selesaikan di sana. Jadi, aku ikut kamu sekalian, boleh? "
__ADS_1
“Aku nggak masalah Ra. Tapi ayah dan ibu gimana? "
"Udah bilang kok ke mereka, dan katanya iya."
"Okay, As you wish....baby. " Jordan pun tersenyum seraya mangacak rambut Rara, mambuat gadis itu mengerucut sebal.
...ð–§·ð–§·ð–§·ð–§·...
"Hati-hati ya nak, jangan lupa kabari ibu jika sudah sampai." Ucap ibu Ayu mengiring anak dan calon menantunya pergi. Sekitar pukul 5 sore, sepasang kekasih itu hendak berangkat kembali ke Jakarta. Tak henti-hentinya pak Winarto dan istrinya mewejangi sang putri tak lupa juga Jordan.
"Segera bawa keluargamu nak. Biar bisa segera tetapkan tanggalnya dan jangan lupa jaga batasan!!" Ucap pak Winarto tegas seraya memeluk Jordan sangat erat hingga kesulitan bernapas. Keduanya sudah terlihat akrab, berbeda sekali saat pertama bertemu.
"Baiklah adik jantan yang manis, lain kali kalau main lagi, mas belikan semua yang Diko mau, gimana hmm? " Jordan mengusap kepala sang adik. Ia pun terkekeh melihat Diko yang mengangguk takluk karena tawarannya, mirip sekali dengan sang kakak.
"Kami berangkat ya , yah-bu." Ucap Rara seraya melambaikan tangan di dalam mobil.
...𖣘𖣘𖣘𖣘...
Perjalanan memakan waktu cukup lama, hingga Rara pun terlelap di kursi samping Jordan. Jordan melajukan pelan mobilnya demi mengutamakan kenyamanan Rara seorang. Dalam diam ia menikmati keramaian kota malam itu, sesekali menoleh dan mengusap kepala Rara.
__ADS_1
"Dingin." Gumam Rara dengan suara sengaunya. Gadis itu mengeratkan tubuhnya yang berbalut baju panjang nan tipis. Jordan pun menepi sejenak, kemudian ia pakaikan jaket tebal miliknya. Terlihat wajah Rara kembali nyaman, tanda jika sudah baik-baik saja.
Belum sampai di tujuan utama, tapi Jordan sudah kembali memarkirkan mobilnya di suatu tempat. Pria itu membopong Rara ala bridal style, dan berjalan menuju pesisir pantai. Tepat di depan matanya, sudah terparkir sebuah speed boat yang siap membawanya pergi.
Angin laut yang cukup kencang membuat Rara kian menelusup dalam dekapan Jordan. Dengan santainya, pria itu membawa tubuh Rara dan segera naik ke atas speed boat yang tentu saja sudah ada supirnya.
"Kita pergi. " Ucap Jordan dingin.
"Baik."
Hebatnya Rara masih terlelap di atas pangkuan sang kekasih. Jordan pun membenarkan pelindung tubuh Rara yang menyingkap ulah terpaan angin laut.
Setelah beberapa menit, mereka sampai di sebuah pulau kecil. Ya, itu adalah pulau milik Jordan, tempat di mana pasukan T.Fly bersembunyi dan di latih.
.
.
.
__ADS_1
to be continued.