
Di sebuah rumah sakit....
"Kak, kita kan baru kemarin periksa kandungan. Kok ke sini lagi?" tanya Rara pada Jordan.
"Nanti kamu tau."
Jordan mengacak rambut Rara seraya menampilkan senyuman khas yang selalu berhasil membuat Jantung Rara bersalto. "Ganteng banget." pekik Rara dalam hati. Hidup di atap yang sama tidak merubah sikap Rara yang hingga kini masih sering berdebar hebat dengan segala perlakuan Jordan padanya.
"Iya aku tau kok." Jawab Jordan dengan narsis.
Setelah keluar dari mobil, Jordan pun menuntun Rara menuju ruang rawat VVIP yang di lengkapi fasilitas paling mewah. Rara masih bingung namun tetap mengekori Jordan dan tak melepas tautan tangannya, takut jika hilang arah mungkin saja.
Ting...
Pintu lift terbuka dan Rara masih setia menautkan tangannya. Hingga tiba di sebuah pintu, Rara mengikuti langkah Jordan. Terdapat seorang pria paruh baya duduk di kursi roda dan seorang wanita yang seumuran dengan ibu Rara berbaring di ranjang.
"Dad?" Sapa Jordan.
Rara terhenyak kala mendengar Jordan memanggil sebutan itu. Berarti beliau adalah ayah mertua Rara? pikir Rara.
"Kak, mereka?"
"Orang tua kandungku. Selama ini beliau berdua di rawat." Jordan pun menjelaskan dengan singkat sebelum Rara banyak tanya nantinya. Apa yang terlihat saja Jordan sampaikan, ia tidak mau mengulik hal-hal mengerikan itu lagi.
__ADS_1
Beruntungnya Rara begitu pengertian dan tidak banyak tanya lagi. "Mom-dad, ini Rara istriku dan ia tengah mengandung anak kami dan juga cucu kalian."Mendengar penuturan Jordan, kedua orang tuanya pun menyambut Rara kian hangatnya.
"Kemarilah nak! Mendekatlah ke mommy." Ucap Elena kepada Rara.
Rara pun mendekati ranjang kemudian duduk di samping ibu mertuanya yang tengah berbaring. "Kamu cantik sekali. Cucu mommy juga sehat-sehat kan?" Elena berucap sangat lembut, sedangkan Rara yang begitu kelu hanya bisa mengangguk pelan.
Rara tidak sadar kala butiran bening itu luruh begitu derasnya. Langsung saja ia memeluk erat sang mama. Rara kini merasakan betapa tersiksanya Jordan selama ini tanpa kedua orang tua di sisinya.
Jordan tidak pernah menceritakan dengan detail kejadian buruk yang menimpa mereka, tapi bukan berarti Rara tidak tahu. Itulah sebabnya Rara cukup memahami betul bagaimana rasanya di posisi itu.
.
.
Beberapa jam kemudian....
"Pulang saja nak, kami baik-baik saja. Lihat, Rara sudah sangat lelah." Ucap James yang masih duduk di kursi roda seraya menemani istrinya. Setelah sekian lama, mereka bisa berkumpul bersama hingga tak menyadari jika perbincangan mereka menjadi begitu luas.
Rara yang beberapa saat lalu mengangguk-angguk menahan kantuknya, kini sudah terlelap di pangkuan Jordan. Belum terlalu malam, tapi Rara memang mudah sekali mengantuk. Terlebih lagi, paha suaminya begitu nyaman bagi Rara untuk segera menyelami dunia mimpinya.
Jordan memberikan usapan-usapan pelan di perut dan pucuk kepala istrinya dan itu membuat Rara semakin nyenyak saja.
"Sayang, ayo pulang."
__ADS_1
Jordan menyelipkan rambut Rara seraya berbisik di telinganya. Namun, Rara tidak menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
"Jangan di bangunkan Leo, kasihan." Ucap Elena pelan. Jordan melemah dan akhirnya ia memilih untuk membopong Rara. Setelah berpamitan, Jordan pun pulang.
...🍃🍃🍃🍃🍃...
Sampai di parkiran, Jordan merebahkan Rara di kursi samping kemudi dengan pelan. Tak lupa ia merendahkan jok mobilnya agar Rara lebih nyaman.
ceklek...
"Udah ku bilang, mereka pasti menyukaimu Ra." Sepanjang perjalanan Jordan tak habis-habisnya menampakkan senyumannya.
"Aahh...jangan sayang." racau Rara dalam tidurnya.
Seketika Jordan pun menoleh. "Dia mimpi apa sih, sampai mendesah gitu?" Jordan heran, dan juga senang. Bukti nyata jika Rara masih memikirkan dirinya bahkan dalam mimpi sekali pun.
"ini apa? males ahh." Tiba-tiba Rara melepas sweater nya lalu melemparnya asal. "Jangan di lepas, Ra. ntar dingin." Jordan jadi tidak fokus menyetir karena istrinya menjadi rewel tiba-tiba.
ciittt...
.
.
__ADS_1
.
-To Be Continued-