
Memang mengenaskan, namun Jordan tidak sebodoh itu. Debby hanya pingsan karena di tembak dengan pistol bius oleh salah satu pengawalnya. Sesuai rencana awal, pria itu memang tidak berniat menghabisi Debby begitu saja. Wanita itu terlalu mengetahui banyak informasi penting dan fakta menarik baginya.
“Hapus semua jejak dan sembunyikan indentitas Debby!! segera berikan perawatan intensif untuknya. Ck, kalian juga kenapa kejam sekali. Bagaimana bisa setega itu menyiksa wanita hingga seperti ini?!.” Suka-suka saja lah, kan Jordan boss nya di sini.
Atas perintah siapa anak buahnya bertindak kalau bukan dirinya, dan sekarang malah menyalahkan orang lain. Meski begitu, semua bawahannya yang merupakan anggota terlatih T.Fly, hanya bisa menuruti kamauan boss tengilnya itu.Jordan melangkah pergi dari ruangan itu, dan di ekori Maxton yang setia mengawalnya ke manapun.
“Hati-hati tuan.” Ucap salah satu pengawal seraya membukakan pintu mobil. Selesai sudah urusannya untuk hari ini, walaupun masih tahap awal. Jordan kini memejam untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah luar biasa.
“Bangunkan aku jika sudah di bandara.” Titah Jordan.
“Baik tuan.” Angguk Maxton.
“Ck, kau ini.....di luar jam kerja, kenapa masih seformal itu? menyebalkan.” Terkadang Jordan sebal dengan sikap Maxton. Ia sudah menganggap Maxton seperti keluarganya sendiri, tapi pria itu seakan masih memberi pembatas di antara keduanya.
“Maaf, aku terbiasa Jo.”
Ingin tidur sejenak nyatanya tidak bisa, Jordan pun melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dan ternyata sudah cukup larut. Niat ingin menghubungi Rara pun di urungkan, takut saja jika mengganggu bidadarinya yang sedang tidur. “Max, gimana cara meluluhkan hati mertua?.” Tanya Jordan tiba-tiba.
“Kenapa bertanya hal itu lagi?” Maxton mendengus kesal dengan pertanyaan Jordan.
“Oh, maaf. Aku lupa kalau kau ….emmmm.” Sengaja Jordan menggantung kalimatnya, Bahkan tidak tanggung Jordan tergelak keras membuat Maxton makin memerah kesal.
“Puas?!” Tanya Maxton mencebik kesal. Meski keduanya seumuran, rasanya tidak adil jika hanya Jordan yang selalu puas mengejek Maxton. Ingin membalas, tapi apa yang bisa di ejek dari Jordan? pikir Maxton mencari-cari keburukan pria tengil itu.
__ADS_1
“Tunjukkan kekuatanmu, aku yakin hati camer mu akan mencair.”
“Kekuatan?” Beo Jordan tidak paham.
“Bukan kekuatan yang itu, maksudku kekayaan dan kekuasaanmu haha.”
Tiba-tiba Jordan teringat penolakan Ayah Rara mengenai pekerjaan yang di gelutinya. Pria itu bersandar seraya menghela napasnya kasar hingga terdengar sangat jelas dari kursi kemudi.
“Sepertinya tidak mudah.” Maxton mengangguk paham di ikuti anggukan pelan dari Jordan.
keesokan harinya, Jordan telah tiba di Jakarta. Pekerjaannya yang super sibuk itu di mulai pada tengah hari. jadi ia masih sempat untuk melanjutkan mimpinya yang tertunda.
“Hoahmmm.” Jordan menguap lebar dan merubuhkan tubuh itu di atas kasur. Brughh…
5 jam kemudian....
“Hehehehe..…jangan sayang geli hihihi.” Jordan bergumam tidak jelas dalam tidurnya, membuat Victon yang baru saja tiba menggeleng heran.
Victon bahkan rela meninggalkan pekerjaannya sebentar demi menjenguk Jordan, karena berita tidak enak yang ia terima beberapa hari lalu. Melihat makhluk yang di maksud tampak baik-baik saja, membuat Victon merasa sia-sia telah khawatir pada pria itu.
“Dia mimpi apa sih?” Gumam Victon menghampiri Jordan yang masih tersenyum tidak jelas dalam tidurnya. Plak… satu tamparan halus mendarat di pipi Jordan membuat pria itu terkesiap hingga terduduk.
“Eungh, sayang?” Ucap Jordan dengan suara berat khas bangun tidurnya, pandangan Jordan masih kabur saat menatap wajah seseorang di depannya.
__ADS_1
“Sayang-sayang !” Gumam Victon.
Jordan pun mengusap matanya seperti anak kecil yang bangun tidur, benar saja ia bahkan sangat terkejut kala melihat penampakan di depannya.
“Vic? kok lo sih?” Merasa tidak terima ketika yang di depan bukanlah seseorang yang di harapkannya.
“Berharap siapa?”
“Cih, eneg banget baru bangun yang di lihat muka lo.”
“Jangan bertele-tele Jo, gue kesini bukan mau main-main. ” Victon kini duduk di sofa. “Gue dengar kabar kalau Marcel ada di negara ini, lo harus hati-hati .” Tegas Victon dengan serius. Ia memahami latar belakang keluarga Jordan yang amat rumit, walau begitu Victon selalu berdiri di samping Jordan dan menjadi sosok sahabat yang selalu ada di setiap keadaan.
“Gue nggak takut, lagipula gue punya lo kan? Mungkin aja dia lagi suka jajan apem lokal.”
Ternyata percuma saja Victon khawatir, melihat Jordan biasa saja ia yakin jika otak pria itu punya seribu akal bulus. Namun seorang Marcello yang merupakan penjelajah wanita, membuat kedua pria itu was-was tentunya. Itu karena keduanya sama-sama mempunyai wanita berharga di sisinya.
.
.
.
tbc.
__ADS_1