Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 53 T.Fly


__ADS_3

...WARNING!! Cerita ini penuh dengan kehaluan tingkat kayangan. Bagi yang tidak suka, ya tidak apa-apa hehe😁😁. Happy Reading!...


Sebagai gambaran, kira-kira begini pulaunya...


anggap aja malam 😁.



Saat speed boatnya sudah mendarat, Jordan pun segera melangkah turun. Kaki panjangnya kini melangkah di atas hamparan pasir putih pesisir pulau yang tampak sepi dengan cahaya minimal di malam hari. Rupanya, kehadiran Jordan juga sudah di ketahui oleh seluruh penghuni pulau, hingga beberapa menyambut kedatangannya.


"Tuan." Sapa seorang wanita berwajah tegas dengan pakaian khususnya, menyambut Jordan di pintu masuk. Jordan pun hanya mengangguk sekilas dan segera memasuki pulau itu menuju rumah pribadinya.


Di pulau kecil itu, tidak ada tranportasi lain kecuali Spead boat dan perahu. Sebab, tak seorang pun yang boleh mengetahui keberadaan pasukan khusus Jordan, kecuali orang yang di kehendaki nya saja.


Hiyakkk..... hiyakkk... haaaa!!!


Malam belum terlalu larut, terdengar dari kejauhan sorakan anggota T.Fly yang tengah berlatih kian menggema. Jordan pun berjalan dengan wibawanya seorang boss melewati pinggir lapangan itu.


"Eunghhh."


Tentu saja sorakan itu sedikit mengusik tidur Rara, hingga ia menggeliat dalam pelukan Jordan. Tak mau kekasihnya terganggu, Jordan pun menghentikan langkahnya dan melayangkan tatapan tajamnya pada mereka agar berhenti.


"DIAAMMM!!."


Teriak sang pemimpin, sontak semuanya pun diam. Bodohnya, suara pemimpin pasukan itu malah yang paling besar membuat Jordan semakin murka.


"Kauuu!!" Jordan mendelik ke arah pria berperawakan gagah itu, hingga ia ketar-ketir. Kesal sekali Jordan akibat ulah pria itu, Rara benar-benar terusik. "Sshhhhhh." Persis sekali seperti menidurkan balita. Cup... Jordan pun mengecup kelopak mata Rara sekilas memberi kenyamanan di sana, dan semakin mengeratkan kepala gadis itu agar menempel di ceruk lehernya.

__ADS_1


β€œMaaf boss." Ucap sang pemimpin pasukan itu seraya menunduk di ikuti pula oleh seluruh anggota yang sedang berlatih di sana. Jordan memejam dan menghela napasnya kasar dan segera berlalu.


...π–§·π–§·π–§·π–§·...


"Anda sudah sampai, Tuan? " Sapa Maxton yang melihat Jordan muncul dari pintu depan rumah tersebut.


"Kau bisa melihat kan? kenapa bertanya?! "


Sensitif sekali....


"Waktunya hampir tiba, apa bisa.....? " Maxton ragu untuk berkata, takut saja yang di ajak bicara meledak lagi. Sesulit itu memang mengimbangi emosi Jordan yang kerap berubah secepat kilat.


"Sebentar, ku taruh dulu dia di kamar." Jawab Jordan datar.


" Jangan melakukan hal lain Jo! Waktu kita tidak banyak." Ucapan Maxton berhasil membuat Jordan melotot hampir mengeluarkan bola matanya. Yang benar saja, apa dirinya di anggap pria serendah itu? mana mungkin ia mengambil kesempatan saat Rara tidak sadar? pikir Jordan.


"Tunggu aku di ruangan."


Jordan pun berlalu dengan cepat. Setelah memastikan tubuh Rara terbaring nyaman di atas kasur, tak lupa melabuhkan kecupan tidur di kening Rara. Pria itu pun kembali pergi karena Maxton sudah menunggunya.


...π–£˜π–£˜π–£˜π–£˜...


Krieeettt....


Jordan membuka pintu baja itu, tampak Maxton yang sudah setia menunggu dengan wajah seriusnya.


"Bagaimana?" tanya Jordan mengampiri.

__ADS_1


"Mereka tiba beberapa hari lalu, dan satu lagi jangan biarkan Rara kembali ke kos nya untuk sementara waktu." jelas Maxton dan matanya tak beralih dari layar menyala itu.


"Got it! Rara tetap di sini selama beberapa hari. " Angguk Jordan.


Dalam suasana kian serius, keduanya menyusun berbagai siasat untuk menaklukkan musuh hingga larut malam.


...***...


pukul, 1 AM.


Sementara itu, Rara kini terbangun dengan perasaan kian gelisah. Kamar itu sangat asing baginya, meski berpikir berulang kali pun tetap saja tidak mengerti. Bagaimana sampai di sini? Bukankah ia tadi bersama Jordan? Lantas, kemana perginya pria itu? Pertanyaan itu semakin memenuhi kepala Rara.


"Apa aku di culik lagi?" Lagi? wajar saja Rara berpikir demikian, ia takut sekali jika kejadian serupa terulang kembali.


Segera Rara turun dari kasur, kemudian di carinya benda apapun yang bisa menjadi alat pelindung baginya. "Ha? di kunci?" Gumam Rara saat hendak membuka pintu kamar.


Tak ada pintu jendela pun jadi, begitulah slogan Rara saat ini. Tanpa berpikir panjang, Rara berjalan ke arah jendela kaca besar yang ternyata bisa di buka kuncinya dari dalam. Beruntungnya, kamar itu tidak berada di lantai atas hingga memudahkan gadis itu untuk menyelinap.


Yesss....


.


.


.


tbc

__ADS_1


__ADS_2