Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 86 Sebuah Kepercayaan


__ADS_3

“Mom-Dad?”


Entah kenapa Jordan menjadi sangat resah saat tahu bahwa orang tua angkatnya berada di Indonesia. Tidak ingin Rara sampai mengetahui hal tersebut, Jordan pun secepat mungkin menyelesaikan perkara es krim dan segera mengajak Rara untuk pergi dari tempat itu.


Resahnya Jordan ternyata di sadari oleh Rara. Mau tidak mau, terpaksa Jordan berbohong karena ia tidak ingin Rara cemas. “Kak? Jangan bohong….. cerita ke aku.” Ucap Rara di sela-sela kesibukannya bersama si es krim. Rara masih penasaran sejak di café tadi Jordan begitu terburu-buru pergi, padahal niat awal Rara ingin makan es krim di tempat.


“Jangan bahas lagi Ra, aku bilang nggak ada apa-apa kan.” Jordan masih berusaha tersenyum, meski itu terkesan di paksakan. Ya, Jordan tidak perlu memikirkan hal tidak penting lainnya karena saat ini sudah ada Rara yang menjadi bagian dari hidupnya.


“Apa kamu nggak percaya aku?” Itu pertanyaan biasa, namun entah kenapa Jordan jadi mudah tersulut emosi dan kini dadanya terasa sesak.


“Bukan begitu.”


“Kak, jangan tutupi apapun dariku.”


“Rara!! Kubilang stop, Okay!! Nggak perlu tau semua urusanku, kamu nggak berhak!!” Tanpa sadar Jordan membentak Rara. Ekspresi itu menandakan jika Jordan benar-benar tengah marah, dan itu akibat dari rentetan pertanyaan dari Rara yang tak ada hentinya.


Suasana tiba-tiba menjadi sangat hening dan dingin terasa. Rara tertegun dan juga takut, karena ini pertama kali Jordan meninggikan suaranya dan berhasil membuat Rara bungkam. Seketika, rasa es krim itu menjadi hambar dan tidak semanis sebelumnya.


“Maaf.” Singkat Rara dengan suara bergetar dan pandangannya kembali ke depan.


“Mamp*s gue.” Jordan menyadari jika ia bertindak ceroboh lagi. Sudah tahu jika hati Rara selembut kapas dan pantang untuk di maki-maki, namun mau bagaimana jika sifat Jordan yang sedikit pemarah itu bertolak belakang dengan sang istri.


“Sayang maaf, aku nggak sengaja begitu.” Jordan melemah lalu menepikan mobilnya. Saat itu juga Rara membuka pintu dan segera keluar dari mobil.

__ADS_1


Ceklek...


“Ra, mau kemana?! Tunggu dulu, ck!!.” Jordan berusaha membuka sabuknya yang sedikit tersangkut lalu ia pun ikut menyusul Rara yang sudah kabur entah kemana.


Dengan langkah kesal Rara berjalan menelusuri pinggiran jalan aspal itu. “Ck, apa katanya? Aku nggak berhak? Aku kan istrinya.” Rara ngedumel di sepanjang langkahnya dan tidak lupa jika cup es krim itu masih di tangan. Terik matahari dan suasana hati yang panas itu membuat emosi Rara turut memuncak.


“Untung ada kamu, tolong dinginin hatiku ya.”


Rara berbicara pada cup es krim itu, membuat seseorang yang tengah melintas menggelengkan kepala dan tersenyum sinis.


Akibat pertengkaran itu, Rara jadi lupa membawa tas dan handphonenya. Dan lagi, sepatu Rara tertinggal satu di dalam mobil karena ia buru-buru kabur tadi. Di sinilah Rara sekarang, ia menepi di sebuah taman kota tak jauh dari jalan raya tadi. Daripada di kira gelandangan oleh beberapa orang, Rara pun memilih untuk duduk di taman itu. Rara tidak tahu jika Jordan saat ini tengah mencarinya seperti orang gila.


“Aku kan bukan orang lain. Bisa-bisanya dia ngomong begitu.”


“Dia juga selalu membantuku, apa salah kalau aku juga ingin memahami dan membantunya?. Jahat banget. Ini lagi….es krimnya tinggal sesuap doang, kurang….” Sniff…sniff….sesekali Rara mengelap ingusnya dan masih mengomel sendiri.


“Nanti aku beliin lagi.”


Deg..


Suara bariton itu sangat familiar bagi Rara. Yup, orang yang menyebabkan Rara menjadi menyedihkan seperti ini, siapa lagi kalau bukan Jordan. Pria itu berjongkok di hadapan Rara yang kini menunduk, kemudian di raih kaki Rara dan hendak memasang lagi sepatu yang sempat tertinggal. Bahkan Jordan tidak ragu untuk membersihkan kaki Rara yang kotor dengan tangannya sendiri.


Selesai sudah, Jordan kini mendongak menatap Rara yang memalingkan wajahnya. Istrinya itu tidak pandai menyembunyikan perasaan, baik senang maupun sedih pasti sangat mudah di tebak. Seperti halnya saat ini, Rara bersusah payah tidak menunjukan jika ia tengah menangis.

__ADS_1


“Sayang maafin aku ya. Tolong jangan begini lagi, aku khawatir dan takut kalo sampai nggak bisa nemuin kamu. Tolong lihat aku Ra, aku menyesal.”


Jordan menangkup wajah Rara yang masih di tekuk. Matanya masih terlihat merah, dan benar dugaan Jordan jika Rara menangis karena ulahnya. Rara masih diam, bukan tidak mau bicara tapi suaranya seakan tersangkut di tenggorokan.


Secepat mungkin Jordan memeluk Rara. Tidak ada respon dari mulutnya, tapi Jordan senang karena Rara membalas pelukannya. “Maaf sayang, aku nggak akan begitu lagi. Kamu berhak karena kamu sekarang istriku, tapi pelan-pelan ya. Karena nggak semudah itu aku bisa ceritain setiap masalah yang ku miliki.” Ucap Jordan selembut mungkin.


Memang benar sebuah hubungan yang di landasi kepercayaan akan mempererat talinya. Keduanya sudah saling percaya, hanya saja ada saat di mana sulit sekali untuk mengungkapkan.


“Maaf aku juga egois.” Jawab Rara dengan lirih.


Anggap saja kedua sejoli itu tengah berusaha untuk berbaikan di tengah emosinya masing-masing. Jordan mengusap punggung Rara dan sesekali mengecup keningnya penuh kasih dan cukup lama.


.


.


.


-To Be Continued-


tolong tinggalkan jejak dengan vote dan like nya ya hehe. Biar othor lebih semangat nih update nya😇😇😇😇.


thanks semua, luv u all😆😆😆

__ADS_1


__ADS_2