Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 83 Membobol Gawang, Gooolll!!!


__ADS_3

...Warning!! Kawasan 21+, yang tidak nyaman/bagi yang di bawah umur bisa di skip ya....


...Happy Reading!! 🙃🙃...


Keesokan harinya….


Rara terbangun lebih awal hari ini, sebenarnya ia memang terbiasa begitu. Ia pun membuka mata dan mendapati suaminya terlelap di sampingnya. Rara mengulas senyum kala melihat wajah Jordan yang sudah kembali normal, membuat tangannya spontan terangkat dan mengusap pelan rahang tegas itu.


“Selamat pagi, suamiku yang tampan.” Gumam Rara kemudian kembali menelusup di dada bidang Jordan.


Ia masih ingin menikmati moment paginya tanpa harus buru-buru melakukan hal lain. Tiba-tiba terbesit angan-angan di kepala Rara, jika di masa depan akan hadir anggota baru dalam keluarga kecilnya yang mirip dengan wajah mempesona sang suami.


“Mau versi juniornya ih.”


Rara mengulas senyum dan mendongak, tak henti-hentinya ia menelusuri wajah Jordan dengan sentuhan jarinya. Tak hanya itu, Rara bahkan berkali-kali mendaratkan kecupan pagi di bibir tebal Jordan, yang semakin lama membuatnya kecanduan.


“Lagi ah.” Cup…. kecupan terakhir berhasil menarik sudut bibir Jordan yang kini sudah melengkung.


“Curang banget, beraninya curi-curi.” Jordan menangkap jari Rara yang belum berhenti usil. Saat Jordan membuka mata, pandangan mereka kembali bertemu dan saling membalas senyuman indah milik masing-masing.

__ADS_1


"Morning istriku yang cantik." Jordan tersenyum manis semanis gula.


Detik demi detik, hingga bermenit-menit lamanya.


Jordan mengamati setiap inci wajah cantik istrinya. Selanjutnya, dengan segera pria itu menindih Rara. Permainan bibirnya yang baru sebentar sudah membuat Rara beberapa kali melepas suara indahnya.


“Euunghhh…aku belum sikat gigi.” Rara hendak membekap mulutnya, sayangnya segera di halangi oleh Jordan.


“Nggak bau kok. Please Ra, kita gagal semalam apa kamu mau nyuruh aku buat nunda lagi?”


Kasihan sekali Rara melihat Jordan yang kini memelas, ia tidak lah setega itu. Hanya saja ini masih pagi, siapa yang melakukan kegiatan itu di pagi hari? bahkan mentari sudah menyapa dan membiarkan secercah cahayanya masuk melewati celah-celah.


“Boleh ya?.” Jordan sudah seresah ini, dan ia berharap jika Rara tidak menolaknya.


“Emmmm.” Rara pun mengangguk malu, mau bagaimana pun Jordan berhak melakukannya.


“k…kamu udah nggak papa kan?” tanya Rara berusaha menengahi suasana tegang itu. Jordan mengangguk pelan dan kemudian ia melancarkan kembali aksinya. Di mulai dengan memberi sentuhan-sentuhan lembut pada area sensitif Rara hingga gadis itu mulai menggeliat.


Rara pun mulai pasrah kala Jordan mulai melepas satu persatu penghalang tubuh mulusnya. Begitu pula Rara yang kini berinisiatif melakukan hal yang sama hingga keduanya polos bak bayi baru lahir. Tiba pada saat Jordan mulai menikmati setiap inci tubuh Rara. Bermula dari adegan sosor-menyosor di bibir, sapu-menyapu namun belum sampai pada tusuk-menusuk.

__ADS_1


Rara menganga seraya memejam, jarinya meremas apapun yang bisa diraih kala wajah Jordan semakin turun. Mulai dari dua buah apel miliknya, hingga padang rumput di bawah sana pun Jordan sikat habis. Pria itu kembali ke atas dengan wajah nya yang semerah tomat.


Sengaja Jordan membiarkan Rara terbuai dulu sebelum memulai perang. “Aku mulai ya.” Masih dengan napas tak beraturan Jordan kembali meraup hingga menyesap benda kenyal itu. Sesaat kemudian Rara memejam kala merasakan sesuatu yang baru ia rasakan. Rupanya, Tombak sakti nan panjang itu berusaha menembus pagar pertahanan Rara.


Sangat sulit di awal, namun Jordan berhasil kala memberi sedikit gaya pegas agar tombak saktinya melesak tepat sasaran. Saat itu pula Jordan berhasil menembus tembok kokoh milik Rara hingga hancur dan memberinya celah untuk masuk lebih dalam. Seringai tipis tampak di wajah Jordan yang penuh peluh, karena ia mendapatkan hal berharga Rara yang selama ini di jaga dan di berikan hanya untuknya seorang.


“S..sa…kit, hiks” lirih Rara seraya mencari pelampiasan di tubuh suaminya.


Sama halnya dengan Jordan yang mengusap pelan ujung mata Rara yang sudah banjir itu, seraya berhenti sejenak. “Nggak akan lama sakitnya.” Ucap Jordan selembut mungkin. Jordan kembali memberikan hal-hal yang bisa mengalihkan Rara dari rasa sakit itu. Setelah dirasa berhasil, pria itu pun melanjutkan lagi pertarungan yang sesungguhnya.


Akhirnya, pertempuran cukup brutal itu pun terjadi. Tombak sakti Jordan berkali-kali menembus dan menghujam pagar pertahanan Rara. Hingga rasa sakit dan entah apa itu, semua menjadi satu. Rara kini tahu bagaimana buasnya seorang pria yang sudah menahan rasa laparnya. Rara bahkan tidak menyangka jika suaminya seganas ini melahapnya hingga ia tak berdaya.


Di iringi suara-suara laknat yang memenuhi kamar keduanya, hingga akhirnya Rara benar-benar terkapar dan kalah di medan perang kala itu.Telah di umumkan jika Jordan lah pemenangnya dan berhasil menanamkan pasukan-pasukan kecilnya di istana megah Rara. Dengan harapan besar pasukan kecilnya berhasil tumbuh menjadi pangeran dan putri yang menjadi pelengkap keluarga baru itu.


“Makasih sayang, aku mencintaimu sangat.” Bisik Jordan dan menutup santapannya dengan kecupan di kening istrinya. Ia sudah tidak tega lagi melihat Rara yang sudah tidak bertenaga akibat serangan brutalnya tadi.


.


.

__ADS_1


.


tbc.


__ADS_2