
Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?
Malam tragedi….
Sebenarnya waktunya sangat sempit. Tepat sebelum ledakan terjadi, Jordan berhasil keluar dari mobil meski dalam keadaan penuh luka. Maxton tidak sadarkan diri kala itu dan Jordan bersusah payah keluar bersamanya karena tidak mungkin bagi Jordan untuk meninggalkannya. Jordan memapah Maxton masuk ke dalam hutan dan berakhir di sebuah pohon besar.
“Max jangan bercanda. Please !!”
Napasnya terengah-engah dan sekujur tubuhnya sakit luar biasa. Kekuatannya menghilang di saat yang tidak tepat, jika saja tidak Jordan pasti sudah menggunakannya untuk berteleportasi sehingga keduanya mungkin tidak separah ini.
“Napas buatan? Ouchhh gila! Tapi dia nggak bangun-bangun.” Jordan bermonolog sendiri seraya menggoyang pelan tubuh kekar yang terbaring itu. Tamparan di pipi, cubit hidung hingga jeweran di telinga tidak membuat Maxton sadar juga.
“Aih persetan!!”
Ini pilihan terakhir Jordan, ia menangkup wajah Maxton kemudian mendekatkan wajahnya. Ya, napas buatan. Sesuatu yang ia pelajari dari naskah sebuah film yang pernah ia bintangi karena Jordan sama sekali tidak tahu mengenai pertolongan pertama pada kecelakaan sesungguhnya.
Haupphhhh…
Jordan sungguh melakukannya, satu kali hingga dua kali belum ada perubahan. Hingga percobaan ketiga barulah ada hasilnya.
Uhuk…uhuk…
Plak
“Jo! Kau sinting.” Maxton terkesiap dan segera menjauh sedikit.
__ADS_1
“Kunyuk!! Berani kau menamparku?!!” Jordan mendengus kesal. Ia rela mengorbankan bibirnya malah di tampar pula. Siapa juga yang mau melakukan itu, lebih nikmat juga bibir istrinya.
"Maaf, boss."
“Kepalamu!.” Tunjuk Maxton seraya melotot ke arah cairan merah yang mengalir di kepala Jordan. Maxton baru menyadari jika Jordan pucat sekali, terlebih lagi bajunya sudah sobek dan compang-camping tak beraturan.
“Tanganmu tak apa? kurasa patah tadi.” Tanya Jordan berusaha baik-baik saja.
“Jangan khawatir, aku …aaaaakhhhh.” Baru mau mengelak, tapi rasa sakit di tangannya begitu nyata.
Maxton meringis kala tangannya luar biasa nyeri.
Terjebak, keduanya kini benar-benar pasrah akan keadaan seraya bersandar di batang pohon besar itu.
...☘️☘️☘️☘️...
Keesokan harinya, mereka masih terjebak di dalam hutan rimbun itu. Hingga mentari semakin tinggi dan cahayanya menembus celah dedaunan pohon-pohon di sana. Mereka masih terpaku dalam keadaan yang amat miris.
Tiba-tiba tubuh Jordan sedikit memanas dan sesuatu terasa seperti merasukinya.”it’s back!! My power!!” Jordan bersorak seraya menatap Maxton yang berwajah datar. “Lantas?” beo Maxton.
“Bodoh!! Kita bisa segera keluar dari sini. Kecuali, kalau kau mau tinggal di sini terus, ya terserah saja.” Jordan berdiri seraya menepuk pantatnya dari daun-daun kering yang menempel.
“Aku ikut!! Ini bukan ‘live in the forest’ buat apa di sini.” Jawab Maxton yang kini mengekori langkah Jordan. Ucapan Maxton membuat Jordan terkekeh lucu.
Ekspektasi memang tidak seindah realita. Pada kenyataannya, kekuatan Jordan bukan sebuah pemecahan masalah. Setelah mencoba untuk berpindah tempat, tapi tujuannya tidak sesuai dengan keinginannya sama sekali.
__ADS_1
Jordan ingin membawa mereka langsung ke rumahnya. Namun jentikan jemarinya malah membawanya ke berbagai tempat asing. Mulai dari sungai, danau, di dalam goa, hingga yang terakhir di kuburan.
wusshhhh...ssiingggg...
“hiiiihhhhh, ini udah yang ke berapa? Kenapa malah ke tempat ini sih boss?” Rengek Maxton bergelayut di lengan Jordan dan bergidik ngeri.
“Siapa juga yang mau ke sini. Ck, lepas!! Dasar penakut.” Padahal bukan malam hari, entah kenapa Maxton setakut itu, membuat Jordan menggeleng-geleng.
Jordan meratapi kedua tangannya, heran saja kenapa kekuatannya tidak bisa bekerja sama. Apa karena luka di kepalanya? Atau mungkin saja syaraf kekuatannya terputus karena sedikit gegar otak. Tiba-tiba kepalanya jadi pusing dan Jordan terduduk lemas di antara gundukan tanah itu.
“Malah kenapa?” Tanya Maxton.
“Pusing kepalaku.” Jordan meremas rambutnya.
“Ayo pergi dari sini!! seremmmm."
“Nggak lihat kepalaku sakit begini?!!” Sentak Jordan.
“Tau….tapi…”
.
.
Tbc.
__ADS_1