Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 116 Detektif Dadakan


__ADS_3

8 PM. Wasington, AS


plak...


"Aishhh apa-apaan sih?" Jordan meringis kala mendapat pukulan di belakang kepalanya. "Kita mau mengintai bukan nyalonin diri jadi capres. Ini kostum apaan begini?" Wajar jika Victon kesal, pasalnya penampilan Jordan begitu mencolok dengan setelan jasnya.


"Sekalian fashion show gitu. " Ingin heran tapi dia Jordan. Victon hanya bisa menghela napasnya kemudian memberikan sebuah pistol. "Jangan lupa tujuan utama kita, setelah berhasil langsung cabut dari sini."


Jordan pun berjalan masih dengan penampilannya yang nyentrik itu. "Ganti baju boss." Ucap Maxton. Heran sekali dengan otak Jordan yang setengah-setengah bukan pada saatnya.


...🌬️🌬️🌬️🌬️...


Saat tiba di suatu tempat....


GEDUBRAK...


"Lo ngapain sih Jo?" Victon berucap hanya dengan gerakan mulutnya lengkap dengan ekspresi kesalnya. Demi Tuhan Jordan menyebalkan sekali, di saat genting seperti ini pria itu masih sempat berulah. Jordan malah bersalto ke depan layaknya pasukan khusus yang sedang menjalankan misi.


"I'm the mafia. We do it like a mafia, piww..piww." Jordan mengarahkan pistolnya ke wajah Victon yang berekspresi datar. Rupanya Jordan berusaha melucu, padahal itu tidak lucu sama sekali.

__ADS_1


"Sarap!!!"


Dengan penerangan seadanya dari sebuah senter di tangan Victon, ketiga pria itu mendekat ke arah gedung tua yang terlihat lebih suram dari bangunan lainnya. Musim dingin sedang berlangsung dan perubahan itu belum bisa di terima oleh sistem kekebalan tubuh Jordan.


wuuuhhhh... Jordan menggosok-gosok kedua telapak tangannya seraya meniupi dengan napasnya.


"Dingin-dingin begini enaknya kelonan." Celetuk Jordan dan berhasil membuat dua pria jomblo di sana meremang. Masih mengendap-endap dan begitu tiba di pintu masuk, mereka menerobos begitu saja.


"Who is it?!!" Teriak seorang pria dengan suara yang menggelegar. Mereka menoleh bersamaan kemudian saling tatap dalam kebingungan. Ingin bagaimana jika sudah kepergok seperti ini.


"Run!"


Aba-aba dari Jordan membuat mereka langsung lari terbirit-birit. Melewati lorong per lorong yang sepi hingga tersudut di jalan buntu. Hanya ada satu pintu di sana. Tanpa berpikir panjang mereka pun masuk kemudian menuruni anak tangga.


"Sh*it, ini jebakan." umpat Jordan. "Tol*ol banget lo Jo. seharusnya tadi gue nggak ikut." Victon meremas rambutnya seraya berjalan pelan.


"Kok gue sih? emang lo punya solusi tadi, hah?." sergah Jordan kesal juga. Perdebatan itu masih berlangsung seraya menelusuri anak tangga yang entah di mana ujungnya. "i'm panic okay?!!." Victon menyanggah lengkap dengan ekspresi yang sangat menyebalkan.


"Cih, alasan!"

__ADS_1


"Sstttt, bisakah kalian diam? dengar itu." Maxton memiringkan kepalanya kemudian menajamkan pendengarannya. Tiba-tiba..


Broooootttttt.... gas alami lengkap dengan bau khasnya itu keluar dari dalam tubuh Maxton. Di kira apa, ternyata Maxton tengah mengerjai dua pria tampan itu. Plak... pukulan keduanya mendarat bersamaan tepat di belakang kepala Maxton.


"Sial*n!!" Ucap Jordan dan Victon serentak seraya menutup hidung. Hampir saja Jordan pingsan akibat gas beracun itu. Sebenarnya ingin bermain atau apa? Ketiga pria itu tidak punya tujuan jelas sejak tadi.


Hal yang di dapat hanyalah di kejar seseorang kemudian berakhir di jalan tak berujung ini. "Ini ruang bawah tanah." Gumam Maxton seraya menelisik dinding kanan dan kirinya. Tidak asing atau memang ia mengetahui sesuatu, semua masih abu-abu.


"Stop!!" Tiba-tiba Jordan merasakan hal yang tidak wajar. Di bawah sana semakin gelap, sontak saja ia mencekal tangan Victon yang berjalan mendahului. "Ruang bawah tanah nggak sejauh ini. kemungkinan...." Jordan menggantung kalimatnya seraya menatap Victon dan Maxton bergantian.


"Terowongan!!" Ucap mereka bersamaan. Jordan kembali meneguk ludahnya, bukan takut tapi sedikit tertekan. Jika harus melewati ruang gelap di bawah sana, Jordan ingin angkat tangan saja.


Rasa penasaran itu menutupi keraguannya. Jordan memantapkan hati seraya melangkahkan kaki. Bukan tanpa persiapan matang mereka datang jauh ke negara ini. Jika hanya untuk bermain-main, Jordan tidak mungkin menyeret Victon yang super sibuk itu untuk bergabung dalam misinya.


Tanpa mereka sadari jika di balik layar seseorang tengah menyeringai licik. "Mangsa datang sendiri ke kandang harimau." Ucapnya.


.


.

__ADS_1


.


-To Be Continued-


__ADS_2