
Greb..
"Siapa?"
Tangan Rara di cekal, kemudian di tarik paksa oleh seorang pria misterius. Rara mencoba mempertahankan diri, namun sayangnya gagal karena ia kalah dengan tenaga pria itu. Valerie pun mencoba mencekal tangan Rara yang satunya tapi malah terlepas.
“Tolooooong!...Euhh.” Teriak Rara memberontak berusaha melepaskan cengkeraman kuat itu.
Di ikuti Valerie yang tergopoh-gopoh berusaha mengejar. Bagaimana jika Rara di bunuh? pikiran Valerie sudah kemana-mana. Pria jahat itu bahkan tidak peduli saat dirinya menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung.
Bugh.. bugh..
Valerie memukul kepala pelaku dengan tinjunya berulang kali. Ia menganga kala pukulannya itu tidak berasa sama sekali. Sadar ada yang mengganggu, pria itu pun menghentikan langkahnya lalu menoleh. Dengan kasar, ia menjambak kuat rambut Valerie lalu menendang perutnya hingga tersungkur di lantai. Meski memiliki ilmu bela diri, pada kenyataannya kekuatan pria itu melebihi gadis kecil seperti Valerie.
Rara semakin ketakutan kala sahabatnya di perlakukan seperti itu. Rara berusaha menyerang, namun serangan itu malah berbalik. Hasilnya, Rara malah mendapat perlakuan kasar, pria tadi memukul kepala bagian belakang Rara beberapa kali. Merasa kepalanya kian pusing, Rara hanya bisa pasrah di bopong paksa olehnya.
“Tolong ! itu teman saya, siapapun tolong
selamatkan teman saya!!.” Ucap Valerie meringis kesakitan dan masih terduduk. Beberapa orang mencoba membantu Valerie berdiri.
“Tolong panggil keamanan cepat." Ucap salah satu pengunjung.
.
.
Bugh…bugh..
"Sial." gumam pelaku.
Sebuah bogem mentah mendarat di belakang kepala pria jahat itu hingga meringis kesakitan. Pria tadi tidak sengaja melepas gendongan Rara hingga jatuh terkulai di lantai.
“Bang**t lo!!"
Dengan mata berapi-api dan emosi memuncak Jordan kembali menghujami pukulan mautnya.
__ADS_1
bugh....bugh..
Jordan membabi buta tanpa memberikan kesempatan bagi pria itu untuk melawan. Jordan hanya menggunakan 10% kekuatannya. Mungkin jika 100% pria itu sudah terbang ke langit menembus awan.
drap...drap...
Victon yang baru saja tiba. “Udah cukup Jo!!.” Victon mencekal salah satu tangan Jordan yang masih terengah-engah.
“Jangan halangi gue, biar gue bunuh kepar*t itu." Amarah Jordan kian meledak.
“Hei, ingat siapa diri lo. Udah stop, dia udah terkapar gitu.” Sulit sekali menahan pria yang level kesabarannya setipis tisu.
.....
Valerie menghambur memeluk Rara yang tampak amburadul dengan kuatnya. Baju Rara sudah kusut acak-acakan ulah pelaku tadi membuat rasa takut kian menyelimuti Valerie, takut sekali jika sampai kehilangan Rara. “Ra?” Valerie terhenya kala tubuh Rara tiba-tiba melayang di udara.
“Kita ke rumah sakit.” Ucap Jordan segera membopong Rara ala bridal style dan membawanya pergi.
“Tingkatkan keamanan di mall ini, jangan sampai kejadian serupa terulang. Dan serahkan dia ke polisi.” Ucap Victon pada seseorang di seberang telepon lalu mematikannya sepihak.
“ Hei Vic, pinjam mobilmu. ” Pinta Jordan. Victon pun mengangguk dan berhubung hari ini ia sedang berbaik hati, dengan sukarela Victon mengemudikan mobil miliknya hingga melupakan Aldi yang tertinggal di sana.
....
Di dalam mobil suasana hening bak kuburan, Valerie hanya duduk terdiam di kursi depan samping Victon, sedangkan Jordan dan Rara berada di jok belakang.
“Maaf, hampir saja aku…. haaaaahh.” Batin Jordan dengan rasa bersalahnya menatap lekat wajah pucat Rara yang terbaring di pangkuannya. Perasaan apa ini? Jordan semakin bingung jika di hadapan Rara emosinya jadi berantakan. Tetapi jauh dalam dirinya, ia menginginkan gadis itu lebih dari apapun. Jordan mengecup punggung tangan Rara berkali-kali tanpa peduli akan keberadaan manusia lain di depannya.
"Oh my god. " Valerie ternganga dan membekap mulutnya saat melihat adegan romantis dari balik kaca depan.
Sesampainya di rumah sakit, dokter segera melakukan pemeriksaan pada Rara. “Pasien hanya mengalami shock dan juga ada benjolan di bagian belakang kepalanya. Saya sudah memberi obat penenang untuk beberapa jam ke depan. Setelah sadar, maka di perbolehkan pulang." Jelas sangat dokter
“ Terimakasih dok.” Ucap Valerie dan di ikuti anggukan oleh dokter itu lalu berlalu keluar.
Sementara itu, Victon yang duduk di sofa pojok ruangan itu sejak tadi hanya fokus pada tablet di tangannya. Hingga Valerie berkali- kali memberi kode dengan berdehem, pria itu tetap tidak bergeming sama sekali.
__ADS_1
Berbanding terbalik dengan watak Jordan yang lebih cerewet dan ceria, Victon adalah tipe pria gunung es kutub Utara. Itulah sebutan yang pas sekali, karena memang secuek itu Victon pada keadaan sekitar. Belum lagi ia maniak kerja, hingga di sembarang tempat hanya kerja, kerja dan kerja yang di pikirannya.
“ Terimakasih sudah menolong kami.” ucap Valerie.
“iya."
“ Kau tau hubungan mereka? .” Tanya Valerie.
“Tidak. ” Singkat Victon.
“Aku Valerie. Siapa namamu?” Valerie mengulurkan tangannya. Ia tidak berniat untuk mengakrabkan diri dengan pria dingin seperti Victon, itu hanya formalitas saja.
“Victon." Singkat Victon.
Sudahlah, Valerie menyerah berhadapan dengan manusia seperti Victon. Sejak tadi hanya satu kata yang keluar dari mulut pria itu, membuat Valerie malas ingin berbicara lagi. "Dasar es batu. " Batin Valerie dan mencebik kesal.
“Kalian bisa pulang. Aku yang menjaganya dan terimakasih atas pertolongannya." Pinta Valerie dengan hati-hati.
“Aku juga ada pekerjaan penting, tolong jaga dia untukku.” Ucap Jordan beranjak dari duduknya sambil menepuk pelan pundak Valerie.
“Tanpa di suruh aku pasti begitu. ” Valerie heran saja mengapa Jordan berkata demikian.
“ Tas mu ” Victon memberikan tas belanja Valerie yang baru saja di antar oleh asisten Victon.
Setelah keadaan cukup sunyi lantaran hanya Rara dan Valerie yang tersisa di ruangan itu. Valerie pun mendudukkan diri di sebelah Rara yang tak sadarkan diri. “Ra, kamu hutang penjelasan sama aku. ”
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
to be continued....😄😄