Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 87 Keinginan Kecil (Rara)


__ADS_3

Tidak baik bertengkar terlalu lama atau memang pada dasarnya jiwa pemaaf Rara yang besar dan Jordan yang pemarah namun penyayang sehingga keduanya saling melengkapi.


Pagi ini, Rara tengah bersiap untuk memenuhi salah satu kewajibannya sebagai istri. Di dapur, ia tengah sibuk membuat menu sarapan. Nasi goreng spesial dengan aneka seafood dan telur mata sapi yang menjadi pelengkap.


“Pagi istriku.” Jordan menghampiri Rara dan mengecup sekilas keningnya dengan penampilannya yang sudah rapi.


“Ayo sarapan.” Rara tersenyum seraya menyajikan nasi goreng itu di atas piring. Hati Jordan menghangat melihat Rara yang begitu telaten mengurus semua kebutuhannya. Jika sebelumnya, penthousenya sangat sunyi kini berubah dengan kehadiran Rara di sisinya.


“Hari ini aku mau hangout sama Valerie, kamu juga ada urusan di luar kan?” Ucap Rara seraya menyuapi Jordan yang tiba-tiba manja ingin di suapi.


“Iya, nanti bawa aja salah satu mobil di garasi ya, soalnya aku nggak bisa antar.” Jordan kembali menikmati suapan yang di berikan Rara. “Kamu serius? nggak ingat kalo aku nyungsep waktu itu.?” Rara teringat kejadian ia menyetir mobil dan berakhir menabrak pohon cabai milik salah satu penghuni kompleks. Meski sudah memiliki SIM, terkadang kemampuan Rara dalam menyetir tidak selihai itu dalam beberapa situasi.


“Ralat. harus sama Axel.”


“Nggak mau ih, kan ini perkumpulan ciwi-ciwi, masa dia ikut-ikutan sih?” Protes Rara.


“Aku nggak ijinin kalau tanpa dia, sayang.”


“Tapi…”


“Pergi sama Axel atau nggak sama sekali.” Ini sudah keputusan final Jordan dan sudah tidak bisa di negoisasi lagi. Pada akhirnya Rara juga tidak bisa membantah keputusan Jordan. Tidak ada pilihan bagi Rara, daripada di rumah terkurung seperti burung emas.


.


.

__ADS_1


“Saya tunggu di sini, Nona.” Ucap Axel dan di angguki oleh Rara. Mereka tiba di kampus yang belum terlalu ramai karena hari masih pagi sekali. Tujuan Rara kemari bukan untuk kuliah, melainkan untuk mengurus cuti dan menyebar undangan untuk dosen dan juga beberapa temannya.


Namun saat melintas di lorong, tanpa sengaja Rara bertemu dengan salah satu pengagum atau bisa di bilang pengganggu sebenarnya. Greb… tangan Rara di tarik menuju belakang gedung.


“Roni, apa-apaan sih. lepasin nggak!!” pekik Rara. Seluruh penghuni kampus tahu siapa pria bernama Roni itu. Seseorang yang selalu mengejar Rara di setiap kesempatan. Roni tidak pernah menyerah meskipun sudah di tolak Rara berkali-kali.


“Ra, itu semua bohong kan? gimana bisa kamu udah nikah, aku nggak percaya.”


“Ku rasa beritanya udah menyebar di mana-mana. Buat apa bertanya lagi?” Ketus Rara.


“Nggak. Seharusnya kamu sama aku, bisakah beri aku kesempatan lagi? Aku akan berubah Ra.”


“Kesempatan itu udah kamu sia-siain, lepasin…aku udah bahagia sekarang Ron.” Ucap Rara pelan.


Brakk…


“awww…Roni !! gila ya.” Tubuh Rara dengan sengaja di dorong ke tembok oleh Roni cukup kuat dan itu terasa sedikit sakit. Pria itu semakin mendekat dan berusaha untuk menguasai Rara dalam kurungannya.


“Anggap aja aku memang gila, karena kamu.” Roni semakin menekan Rara dan jujur saja kekuatan Rara tidak sekuat itu untuk bisa melawan balik.


“ gimana ini?”


.


.

__ADS_1


Sementara itu, Jordan kini tengah berbincang 4 mata bersama Maxton di pulaunya.


“Nggak ada habisnya Max. Aku ingin pensiun saja rasanya.”


Jordan kini berjalan menelusuri hutan kelapa yang memenuhi tanah pulau itu. Lelah body dan lelah hati, begitulah yang pria itu rasakan saat ini. Jordan berfikir jika masalah itu tidak ada habisnya. Jika seharusnya senang karena Aiden yang di duga sebagai Mr.M kini berada di sel tahanan, nyatanya tidak.


Muncul alibi yang menyatakan jika Aiden hanyalah kaki tangan dan hanya mengikuti perintah dari Mr.M, dan itu sulit di percaya. Mungkin saja Aiden memiliki kekuatan yang mampu memutarbalikkan fakta, begitulah pemikiran Jordan.


“Kelapa di disini sangat subur. Gimana kalau aku jadi pengusaha kelapa saja? Dengar-dengar penjual kelapa itu sangat menguntungkan."


Maxton menoleh ke arah Jordan dengan ekspresi herannya. Tadi serius sekali dan tiba-tiba Jordan membahas hal menyimpang jauh dari topik sebelumnya.


“Pardon?”


(maaf)


“Iya, kau tetap jadi tangan kananku. Mungkin kau bisa jadi tukang panjat kelapanya haha.” Lihatlah, mungkin saja bossnya itu sedang miring membuat Maxton hanya menggeleng-geleng.


.


.


.


tbc.

__ADS_1


__ADS_2