
Tak lama kemudian, seorang pria masuk dari arah pintu depan dengan terburu-buru.
“Dimana dia?” Tanya Victon pada bartender kemudian dijawab dengan tunjukan kearah Jordan yang sudah terkulai lemas di atas meja.
"Hahhh, mengenaskan.” Gumam Victon memejam sejenak dan mengusap wajahnya kasar. Beberapa saat lalu ia mendapat panggilan dari Jordan yang berucap seperti orang kumur-kumur, sontak saja Victon khawatir jika sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.
Dengan sabar ia kemudian memapah sahabatnya keluar dari tempat itu dan mengantarnya pulang.
Sesampainya di rumah Jordan, Victon segera membawanya ke kamar. Sepanjang jalan berulah tentu saja, bahkan beberapa kali Jordan hendak mencium Victon. Mungkin saja ia dianggap sebagai Rara karena berkali-kali meracaukan nama gadis itu.
" Mumu... muacchh. "
"Iyuhhh, najishh.....gue masih normal Jo." Geram Victon seraya menampar pelan wajah Jordan.
Brughhh…
”Ra…..….ra…Rara." Racau Jordan ambruk dan posisinya menguasai kasurnya itu.
“Dasar sinting.” Ucap Victon seraya melempar tubuh sahabatnya itu di atas kasur, nafasnya kini memburu dan dahinya membasah karena keringat.
Enggan untuk pulang karena hari sudah larut, Victon pun akhirnya merebahkan diri di samping Jordan. Heran saja kasurnya yang berukuran king size, padahal hanya di tiduri satu orang.
.
.
.
Keesokan harinya….
07.00 AM. Kos Rara 🏡
Kedua penghuni kos itu, sudah terbangun sejak pagi. Sebenarnya tidak ada kegiatan pagi ini, karena setelah ujian mereka hanya perlu datang ke kampus untuk beberapa urusan saja. Hanya sempat cuci muka dan sikat gigi , kini keduanya sudah berada di warung bubur ayam Mas Juan yang terletak di depan gang.
“Val, minggu depan kan udah libur. Aku mau pulang ke Jogja, rindu ayah dan ibuku. ” Ucap Rara memecah keheningan kala mereka terdiam menikmati bubur ayam itu. Valerie pun mengangguk paham.
“Sama, tapi aku seminggu setelahnya. Soalnya ada yang mau di urus dulu disini.” Jawab Valerie.
Setelah selesai mengisi perut, mereka kembali ke kos. Hal tak terduga adalah ketika melihat seorang pria yang tidak di harapkan kehadirannya. Itulah Jordan, ia menampakkan senyuman semanis gula seraya berdiri di samping mobil mewah miliknya.
“Pagi Ra.” Sapa Jordan dengan suara khas nya.
__ADS_1
Rara terhenyak sama halnya dengan Valerie.
"Gawat mana ada Valerie lagi, ngapain malah nongol disini sih?" Batin Rara, ia jadi gugup hingga tidak bisa berucap lagi.
Valerie pun menghadang tubuh Rara agar pria itu tidak mendapat akses untuk mendekati sahabatnya. Dengan tatapan permusuhan, Valerie mendelik ke arah pria itu.
“Mau apa dia disini Ra? Jangan bilang kalian udah janjian?” Bisik Valerie pada Rara yang berada di balik punggungnya.
“Gak, sumpah." Jawab Rara pelan. Saat Jordan hendak melangkah, Valerie menodongkan tangannya. “Stop ! berhenti di sana! Mau apa kau?” teriak Valerie dengan ketus.
“Bisakah aku bicara dengan Rara? sebentar saja.” pinta Jordan dengan suara lembutnya.
Valerie memandangi tubuh Jordan dari atas hingga bawah, pria itu tampak seperti mayat hidup dengan wajahnya yang sedikit pucat dan kantung matanya yang menghitam. Niat ingin menghajar diurungkannya saat melihat tampilan pria itu yang begitu menyedihkan.
“Mau apa? menerkamnya lagi ? Jangan dekati Rara atau langkahi dulu mayatku.” Memang berani, Valerie bukanlah wanita selemah itu. Sejak dulu ia berjanji untuk melindungi Rara apapun keadaannya, termasuk dari makhluk buas seperti Jordan.
"Temannya ini sangat menyebalkan.” batin Jordan seraya mengangkat alisnya satu.
“Bukan, aku sudah mengakui kesalahanku dan tidak akan mengulanginya. Aku bukanlah pria sejahat itu, iya kan Ra? ” Ucap Jordan mencari persetujuan dari Rara yang masih diam membeku.
“Gak percaya, Pergilah!” Valerie menarik paksa Rara yang diam sejak tadi tidak lepas memandangi Jordan. Sejujurnya Rara masih bimbang, namun ia masih mempunyai rasa perikemanusiaan.
1...2...3...
tepat sekali..
"Yes."
“ Val, sebenarnya dia udah minta maaf ke aku. Kurasa kalau cuma berbincang sebentar gak papa kan? Kasihan …” Bujuk Rara agar sahabatnya itu melemah.
"Nggak ngerti aku sama jalan pikirmu. Hatimu terbuat dari apa sebenarnya? Baik hati itu harus pada porsinya Ra, kamuu…....." Valerie menghela napasnya, tidak bisa berkutik kala melihat Rara memasang wajah polos memelas dengan mata berbinar. Ingin sekali ia menggigitnya, pikir Valerie.
“Ya udah sana, jangan lama-lama.”
“Dan kau juga, kalau Rara balik gak utuh, lehermu itu taruhannya.!” Ancam Valerie mendelik tajam seraya membuat gerakan memotong leher dengan ibu jarinya. Baru kali ini Jordan di buat merinding karena ancaman gadis kecil seperti Valerie.
.
.
.
__ADS_1
“Kita mau kemana?” Tanya Rara saat memakai sabuk pengamannya di jok samping kemudi.
“Kamu tau nanti. " Jawab Jordan pelan.
“Kau minum alkohol?” Rara mencium bau aneh dan asing di dalam mobil, lalu ia mendekat sedikit mengendus tubuh Jordan dan berhasil membuat tubuh pria itu berdesir.
“Ehemmm.” Jordan hanya berdehem dan tidak berani menatap gadis di sampingnya itu. Bangun tidur tadi ia bahkan tidak mandi dan hanya cuci muka saja, wajar jika aroma itu masih ada.
“Tidak sehat minum minuman itu dan lagi aku nggak suka pria pemabuk. ” Sarkas Rara.
“Ha?” Sudut bibir Jordan tertarik tipis, entah kenapa hati Jordan melompat-lompat girang karena beberapa kata itu. Ia seperti telah mendapatkan lampu hijau dari Rara.
“Aku cuma bilang, tidak ada maksud apa-apa.” Bibir mungkin berucap demikian , tapi lain dengan sorot mata Rara yang mengisyaratkan bahwa ia peduli.
“Emang aku kenapa?” Jordan terkekeh dan menoel dagu Rara, sungguh menggoda gadis itu kini menjadi hobi yang paling disukainya.
“iiihhh…udah cepet jalaaann."
...❐❐❐❐...
Beberapa saat kemudian mereka sampai di parkiran penthouse Jordan. Rara bahkan masih memakai piyama tidur bermotif bintang laut dan ia baru menyadarinya.
“Disini tempat tinggal ku.” Ucap Jordan seraya membukakan pintu mobil untuk Rara.
“Duh, tadi kok ga ganti baju dulu sih Ra. Keliatan banget kalo aku ga sabar pengen bicara sama dia."Batin Rara menunduk malu dan menepuk jidat pelan saat keluar dari mobil. Jordan pun berjalan mendahului lalu di susul Rara yang membuntuti di belakang.
Rara menganga lebar saat berhasil masuk di dalam rumah Jordan yang bernuansa mewah dan estetik. Kesekian kalinya ia di buat kagum oleh pria itu, berharap bahwa ini hanyalah mimpi, nyatanya tidak karena ia merasa sakit saat mencubit tangannya sendiri. "ouch."
“Kenapa cuma berdiri disitu, kemarilah duduk. ” ucap Jordan yang terkekeh melihat mata Rara berbinar kagum.
.
to be continued
ayo vote... vote... hehe😁
bonus visual Valerie Anindira...
(@taaarannn)
__ADS_1