Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 102 Aku Serigala


__ADS_3

Huekkk…


Jordan masih mengingat ucapan dokter yang selalu bilang jika hal ini wajar bagi ibu hamil di trimester pertama. Malam ini, Rara sudah bolak-balik ke kamar mandi dan kembali memuntahkan isi perutnya. Bagaimana bisa tenang meninggalkan Rara yang seperti ini, sedangkan Jordan harus pergi karena ada urusan. Masih ada setengah jam lagi sebelum jam 8, dan Jordan masih ragu untuk pergi.


Tuuutt…


“Halo, Max. Gantikan aku ke Barbar café, temui dia dan cari tahu tujuannya.”


“Baik tuan!!”


Pip..


“Ra, udah belum?”


“Belum, jangan kesini!!.” Pekik Rara mencegah Jordan yang hendak menghampirinya. Rara tidak mau di lihat saat kondisinya begini.


“Sehat maupun sakit, ingat kan?”


Jordan mengurut tengkuk leher Rara yang menumpahkan isi perut nya di wastafel. Tidak ada yang bisa Jordan perbuat untuk saat ini meski hatinya tidak tega sekali.Setelah selesai, Jordan kembali menuntun Rara agar duduk di tepi kasur. Di ambilnya minyak angin untuk mengolesi perut Rara.

__ADS_1


“Biar aku aja.” Rara mencegah saat Jordan hendak menyingkap bajunya.


“Ck, buat apa malu? Aku bahkan udah rasain setiap inci tubuhmu. Buka dulu, di oles pakai ini biar mendingan.” Sedikit kesal dengan sikap Rara yang seakan memberi batasan, padahal dirinya sedang tidak baik-baik saja. Saat ini peran Jordan untuk mendampingi Rara sangat di perlukan.


Selain merasakan hangatnya minyak angin, suhu tangan Jordan juga sama hangatnya dan usapan-usapan itu kembali membuat Rara berdesir. “Euunghhhh….sshhh.” Lucu sekali, sakit tapi suaranya begitu membuat Jordan tersenyum miring.


“Lemas?” Tanya Jordan saat tiba-tiba Rara memeluknya dan kemudian mengangguk pelan. Jordan juga merasakan tubuh itu tidak bertenaga, rasanya ingin sekali Jordan memarahi calon anaknya yang kini menyiksa Rara, tapi itu tidaklah mungkin. Akhirnya, Rara pun merebahkan diri di bantu Jordan yang membenarkan selimutnya.


“Mau kemana?” Rara menarik jari Jordan saat hendak beranjak dari duduknya.


“Mandi, tadi kan belum sempat.”


Guyuran air dari shower kini membasahi tubuh Jordan. Sambil merenung dan berpikir di balik dinginnya siraman air itu. Pelik sekali dan tidak ada habisnya masalah-masalah yang terus bermunculan hingga tidak ada ujungnya. 10 menit kemudian, Jordan selesai dengan ritualnya dan keluar hanya berbalut handuk kimono bermotif keroppi.


“Tidurlah, jangan main HP terus.” Jordan melihat Rara yang masih terjaga dengan pantulan cahaya dari layar benda pipih itu di wajahnya. Entah apa yang membuat Rara seserius itu.


“Kak Aiden di bebaskan tanpa syarat. Lelucon apa ini? Dia hampir membunuhmu kak.”


Ekspresi Rara berubah setajam itu. Sama sekali tidak bisa menerima berita yang kini menjadi trending topik saat ini. Jordan mendengarnya sangat jelas, ia sebelumnya mengetahui hal itu lebih dulu sehingga tidak terlalu terkejut.

__ADS_1


“Kaaaaaak….kamu denger aku nggak sih?”


“Iya ....aku dengar, sayang.” Jordan tengah sibuk mencari baju santainya di dalam lemari. Ia sama sekali tidak tahu jika Rara sudah berada di sampingnya.


“Luka di perut. Loh?!!! Kok hilang?”


Rara membelalak saat ia menelisik area yang sempat menjadi bekas luka tusukan pisau kala itu. Rara memutar tubuh Jordan yang masih bertelanjang dada seraya meneliti setiap bagiannya. Benar-benar ajaib, pasalnya bekas luka itu benar-benar bersih dan terlihat mulus seperti sedia kala.


“Kamu lupa aku siapa? Luka seperti itu mudah pudar dengan sendirinya.” Ucap Jordan dan Rara mendongak.


“Aku serigala, rraawwwlll.” Bisik Jordan dengan sensual serta senyum jahilnya membuat Rara langsung kabur menjauh.


.


.


.


_To Be Continued_

__ADS_1


__ADS_2