Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB 20. Si Ayam Goreng


__ADS_3

...HAPPY READING!!...


...😁😁😁...


“Sama-sama nak, kalau begitu tante pergi dulu ya. Jaga dirimu .”


“ Syukurlah ketemu sama orang baik. Hampir aja di gigit anjing.” Gumam Rara bergidik ngeri membayangkannya hewan itu.


Setelah menyadari Rara berlalu, wanita itu pun menoleh menatap punggung Rara yang kian menjauh. Ia mengambil kacamata hitam di sakunya, lalu memakainya seraya tersenyum miring dan kembali berjalan menelusuri jalanan hitam yang ditumbuhi pohon rindang sepanjang pinggir jalannya.


“Bwaaaaaaa!!.” Teriak seseorang memukul pelan kedua pundak Rara dari belakang.


“Waaaaaaaa…eh anjing ..kejar…kejar.” Rara terkejut hingga tergagap-gagap. Bisa di pastikan jantungnya hampir lepas beberapa saat tadi.


“ Enak aja, tampan gini dibilang anjing."


“Lagian ngapain sih ngagetin?.” Ketus Rara.


“Maaf Ra.”


“Ngapain kesini? nggak kerja?” Tanya Rara seraya melanjutkan berjalan di ikuti Jordan di sampingnya.


“Kan libur Ra, sengaja cariin kamu. Aku rindu.”


“Ck, bosen liat kamu terus! di kerjaan ketemu …di luar kerja juga ketemu…...hiihh.”


“Jangan bilang gitu, nanti nyesel loh. Paling nanti kamu yang cari-cari aku terus, bilang kangen.” mungkin Jordan memiliki hobi baru saat ini, yaitu menggoda Rara dan memang benar sedang ia laksanakan.


"Pengen ku jitak. "pikir Rara.


“Mau makan siang kan? bareng yuk.” Ajak Jordan bersemangat sekali. Ingin menolak, Tapi Rara bingung memikirkan alasannya. “Aku.." Jordan membungkam mulut Rara dengan jari telunjuknya.


“ Udah yuk, kebetulan kan ayam mu ada 2 itu hehe.” Tunjuk Jordan pada kantong kresek yang di pegang Rara.

__ADS_1


“ Enak aja, ini malah kurang. Beli sendiri sana!.” Sentak Rara sambil memeluk erat plastik Ayam goreng itu seperti anak kecil yang takut di rebut makanannya.


kok dia tau ayamku sisa 2?


“ Kamu suka banget ayam goreng ya? aku bisa beliin sama ternaknya sekalian kalo kamu mau.” ucap Jordan.


“Sembarangan banget kalo ngomong.”


“ Aku delivery deh, pesan ayam lagi.” Sudah di tolak pun pria itu tetap teguh pada pendiriannya, hingga membuat Rara menyerah.


“Terserah.”


“Oke, setuju nih.”


“Bawel ah.” singkat Rara mencebik kesal dan berjalan mendahului.


Jordan semakin menampilkan gigi putihnya karena berhasil membuat Rara kesal, baginya itu sangat imut dan lucu. Rara kemudian mengambil jalan arah berbeda untuk menikmati makan siangnya. “Kok kita kesini Ra?.” Tanya Jordan ketika mereka tiba di sebuah danau dekat perkampungan.


“Mana mungkin aku ajak ke kos, bisa digantung ibu kos aku nanti ” Ucap Rara datar.


“ Kenapa pesan sebanyak ini? siapa yang mau habisin?” Rara terhenyak karena Jordan memesan setiap varian rasa dari merek ayam goreng itu, tak lupa juga 2 porsi nasi.


“Aku gak tau kamu suka rasa apa, jadi ku pesan setiap varian rasa. Gampang, kalau gak habis bawa pulang aja atau kasih ke salah satu tukang kebun itu tuh, itung-itung sedekah.” Rara terheran mengapa pria ini lebih cerewet di banding ibu kos nya.


Tak berselang lama keduanya menikmati ayam itu dalam diam, sejujurnya Rara bukan lah pemilih makanan. Kini ia sudah menghabiskan 2 ayamnya tadi di tambah 1 kotak porsi ayam goreng yang di beli Jordan dengan wajah bahagia. Angin berhembus menyapu daun-daun kering dan ranting pohon


“Hai adik kecil, sini.” Ucap Rara saat ia menyadari keberadaan anak laki-laki yang tengah berdiri sambil mengatupkan tangan di depan dada. Jordan terkejut, apa yang akan di lakukan gadis ini? pikirnya. Anak itu pun berjalan mendekati Rara, terlihat tampilannya yang sedikit lusuh dan wajahnya yang penuh kotoran.


“Kamu mau?.”


Rara tersenyum lembut mengelus pucuk kepala anak itu seraya berjongkok menjajarkan diri dengan anak itu.


“ Ini buat kamu ya.”

__ADS_1


“Terimakasih kakak.” Ucap anak itu malu-malu.


“Bilang sama om itu, ini ayamnya dia.” Ucap Rara tersenyum lembut menatap anak imut itu.


"Kok om sih? " Jordan menggernyit.


“ Terimakasih om.” Anak itu pun berlari dengan langkahnya yang menggemaskan.


“Sama-sama.” Jawab Jordan lembut meski sedikit tersinggung di panggil om, padahal ia belum setua itu. Rara kembali menikmati ayam itu lagi, membuat Jordan mengulas senyumnya rupanya perut kecil itu belum ada tanda-tanda kenyang.


“Kenapa?” Rara terhenyak dan mendongak saat ibu jari Jordan mengusap ujung bibirnya sebab cara makannya cukup berantakan. Pria itu menatap Rara begitu lekat membuat Rara menghentikan kunyahannya.


“Bukan apa-apa.”


Tak berselang lama, lamunan Jordan pun buyar kala merasa ada sesuatu yang mengawasi mereka berdua.


1...2..3..


syuuttttt...


"AWASSS!" Pekik Jordan dengan cepat menarik tubuh Rara dalam dekapannya, menjadikan tubuhnya sebagai tameng. Beruntungnya anak panah panjang itu melesat dan tertancap di batang pohon yang tak jauh dari tempat mereka berada. "Brengsek." Batin Jordan mengeraskan rahangnya.


"Siapa kau? keluar tol*ol...!!! " Teriak Jordan yang memenuhi tempat cukup sunyi itu.


"Kenapa? " Tanya Rara yang masih berada dalam pelukan Jordan. Hendak beranjak, sayangnya anak panah kedua di tembakkan lagi dari arah yang berbeda. Telat sedetik saja, pucuk anak panah itu nyaris menembus punggung kiri Rara. Namun, di waktu yang sama tangan lincah Jordan berhasil menangkapnya. Tidak perlu di jelaskan lagi, Jordan benar-benar marah hingga tubuhnya bergetar hebat.


krakkk........pria itu mematahkan batang anak panah di tangannya lalu membuangnya kasar.


"Kita pergi dari sini Ra, bahaya!!. "


.


.

__ADS_1


.


to be continued


__ADS_2