Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 106 Sakit Tapi Tak Berdarah


__ADS_3

"Bwahahahahahaha!!!"


Gelak tawa Victon semakin renyah kala mendengar permintaan Rara. Bukan permintaan yang sulit, itu bagi Victon. Raut wajah Jordan sudah serumit benang kusut kini menatap Victon yang bahagia sekali di atas penderitaan batinnya.


Kedatangan Jordan ke kantornya benar-benar di sambut dengan tangan terbuka lebar. Beruntungnya pekerjaan Victon tidak menumpuk dan masih bisa di ajak bercanda.


"Puas?" Jordan duduk di sofa seraya mendelik ke arah Victon.


"Sumpah Jo, gue.......pfttt hahaha." Tidak peduli lagi dengan wajah Jordan yang semakin berkerut, Victon bahagia sekali hari ini.


"Sayaaaaang, boleh ya? tadi kan udah janji." Ucap Rara dengan manja.


"Belum keluar aja udah bikin papanya panas dingin begini." batin Jordan menatap Rara seraya mengurut pangkal hidungnya. Meski Victon adalah sahabatnya sendiri, tetap saja dia seorang pria. Berkali-kali mental dan hatinya di uji, dan hanya Rara yang mampu membuatnya begitu.


“Jangan aneh-aneh, cuma usap bukan yang lain paham?!” Jordan menegaskan kata-katanya seraya menyentuh kepala Rara sekilas.


“ Janji!!.” Dengan mantap Rara mengangguk dan mengacungkan jari kelingkingnya. Lampu hijau sudah menyala, apa lagi yang di tunggu?. Langkah Rara semangat sekali untuk menghampiri Victon yang duduk di kursi kerjanya.


“Eeeeehh, mau kemana? Victon yang kesini bukan kamu yang kesana.” Jordan mencekal tangan Rara. “Kak Victon, boleh kah?” Wajah Rara memelas dan sialnya Victon sempat tertegun akan pesona itu. Tawanya terhenti sejenak kala jantungnya tiba-tiba berdebar.


“Mata lo mau gue congkel Vic?” Lihatlah, pawangnya sudah semenyeramkan ini dan itu berhasil membuat Victon sadar kembali.


“Boleh cantik, biar kakak yang kesana ya. kamu bisa sentuh sepuasnya.” Suaranya begitu lantang, padahal Jordan tidak tuli. Sengaja sekali Victon menyulut api yang padam. Pria itu pun mendudukkan tubuhnya di sofa tak jauh dari Jordan, tak lupa memasang wajah jahilnya.


“Tapi brewokku nggak terlalu panjang, soalnya beberapa hari lalu ku cukur.” Jelas Victon pada Rara yang secepat itu sudah duduk di sampingnya.

__ADS_1


Rara tidak peduli lagi, tangannya kini mencari sumber masalahnya dan mulai meraba-raba pelan. Sedikit menikmati, apa begini rasanya di belai wanita? Victon menjadi terlena karena wajah Rara sempat mendekat demi mengamati bulu-bulu kecil di area rahang tegas itu.


“EHEMMMMM!!


“Santai bro, sensi banget kayak orang PMS. Mending minum tuh es kopinya, sengaja tadi gue suruh pakein es biar adem-adem gitu …nyessss….hahahaha.” Hari kemenangan bagi Victon yang bisa puas sekali mengejek sahabatnya. Hingga beberapa menit kemudian, tangan lentik Rara masih berselancar di sana dan jujur saja Jordan tidak sesabar itu.


“Ra? kenapa nggak punya suamimu aja?” tanya Victon serius.


“Kak Jordan nggak punya, cuma janggut sama kumis tipis. Yang ini lebih lucu.” Victon tergelitik mendengar jawaban nyeleneh dari bibir mungil itu hingga tak kuasa menahan tawa.


“Bwahahahahahahahaha, Jo.....dapet dia di mana sih? kalo ada lagi gue mau satu.”


“NGGAK ADA!! CUMA SATU-SATUNYA DAN MILIK GUE!!” Ketus Jordan semakin memanas hingga es kopinya di minum dalam sekali tenggak.


“Sadissss!!”


.


.


Ceklek…


“Loh Rara? kamu..nga….pain?”


Suara tersebut menarik perhatian Rara hingga ia menoleh. “Valerie? kamu ngapain di sini?” Rara menggernyit melihat penampilan sahabatnya yang berbeda dan tampak berwibawa dengan seragam khususnya.

__ADS_1


“Aku? Kerja di sini. Oh my god!! Ra kamu selingkuh di depan kak Jordan? Astaghfirullah.”


“Mulutmu minta di jahit Val.” Ucap Rara yang masih belum selesai dengan aktifitasnya. Dari jarak tersebut Valerie bisa melihat dengan benar adegan elus-mengelus itu. Membuat jiwa penasarannya tidak mampu di tahan lagi untuk bertanya. Beberapa detik kemudian, penjelasan singkat Victon cukup menuntaskan rasa penasaran itu hingga tawanya pecah kemudian.


“ Hahaha…pantas kak Jordan….hahaha!!”


Begitulah jadinya, gelak tawa itu memenuhi ruangan kantor Victon bagai cicitan burung saling bersahutan.


.


.


Kediaman Jordan dan Rara….


“Emmpphhhh.” Rara menepuk dada Jordan yang kini menyeruduk seperti banteng.


“Tunggu! apa nggak bisa masuk rumah dulu, ini di emmmmpphh…depan rumah begini…emphhhh.”


Susah payah Rara berucap, sedangkan Jordan seperti tutup telinga dan tak menanggapi. Rara tahu kenapa suaminya begini, namun tidak etis jika di sini. Meski keduanya masih di dalam mobil, tapi di luar ada banyak orang. Bagaimana jika tukang kebun yang sedang memotong tanaman itu mengetahui kegiatan majikannya yang tidak tahu tempat itu.


Bujukannya sudah tak berhasil, hingga Rara hanya bisa pasrah kala sang suami melampiaskan nafsunya saat ini juga.


.


.

__ADS_1


Tbc


Yuhuuuuuuu😊😊😊


__ADS_2