Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 26 Hampir Khilaf


__ADS_3

Setelah 30 menit Rara habiskan untuk bersiap, kini ia sudah berada di halte bus berdiri menunggu jemputan. Meskipun sudah di tawari Valerie yang hendak mengantarnya menggunakan Choco, nyatanya Rara malah memilih angkutan umum itu. Ramainya orang-orang yang juga mengantre menunggu bus, membuat Rara tidak menyadari kala dirinya di perhatikan sejak tadi.


Gludug…Jederrr…


Langit meredup dan suara gemuruh semakin terdengar jelas kian mendekat. Mungkin saja karena ini penghujung tahun hingga cuaca sudah mulai tidak bisa di prediksi.


Rara berlari kecil saat hendak masuk kedalam bus karena tetesan air hujan sudah mulai membasahi jalan aspal itu. Tanpa ia duga seseorang mengadahkan payungnya si atas kepala Rara hingga masuk ke dalam bus. “Thank you, Sir.” Ucap Rara sopan pada pria bule yang terlihat lebih dewasa darinya.


Hingga Rara memilih tempat duduk, pria itu mengikutinya lalu duduk di sampingnya. Rara berusaha bersikap biasa saja karena posisi duduk nya di dekat kaca jendela terhimpit olehnya. “ Sama-sama.” Ucap pria itu, Rara terhenyak saat bule itu menjawab dengan bahasa Indonesia yang terdengar luwes. Pria itu menyunggingkan bibirnya dengan penuh arti.


Setelah sampai, Rara hendak turun dari tangga bus, namun tangannya di tarik oleh pria itu dengan kuatnya. Benar sekali dugaan Rara jika pria itu memiliki niat terselubung, sudah terlihat gelagat anehnya sejak tadi. Sontak dengan sekuat tenaga Rara berusaha melepas cengkraman itu.


“ Maaf, apa maksud anda Sir?” ketus Rara. Pria itu menggernyit memasang wajah sangar nya.


“Di mana aku bisa mendapatkan itu?” Tunjuk pria itu pada anak kecil yang menenteng plastik berisi jajanan berbentuk bulat.


“Oh, itu tahu bulat di goreng dadakan Sir. Beli saja di abang itu tuh.” Rara terkekeh geli, sempat berfikiran buruk pada pria itu, nyatanya perihal tahu bulat. Pria itu pun segera melesat pergi menuju tukang tahu bulat itu, nampak sekali ia sedikit kesusahan saat hendak memesan jajanan khas itu.


Dasar bule aneh, batin Rara masih terkekeh kala ia menuntun kakinya kian menjauh. Untung saja hujan sudah reda sehingga memudahkan Rara agar cepat sampai ke gedung tempat di adakannya Fashion Show.

__ADS_1


Sesampainya di dalam gedung, Rara melakukan tugasnya untuk mendokumentasikan peragaan busana tersebut. Satu demi satu para model berjalan di panggung catwalk. Hingga tiba saatnya para model pria, Rara melihat Jordan berjalan dengan lihainya di antara semburat cahaya lampu panggung itu.


.


.


2 jam berlalu...


Setelah peragaan selesai, Rara pun menghampiri Jordan di ruang ganti. Sama halnya Jordan juga tengah menunggu kehadiran Rara dengan tidak sabarnya. Bujuk di cinta, yang di tunggu-tunggu pun akhirnya menunjukkan batang hidungnya. Rara mengintip sekilas dari balik pintu, takut saja jika Jordan tengah ganti baju.


“Masuk Ra.”


“Kamu udah selesai?” Tanya Rara basa basi. Rara belum menyiapkan jantungnya kala Jordan tiba-tiba menariknya ke dalam pelukannya.


Budak cinta, itulah sebutan yang pas untuk Jordan, ia suka sekali menempel dan mendusel seperti perekat. Malu sekali Rara rasanya, karena tidak hanya mereka berdua yang berada di ruang tunggu. Heran sekali, kenapa yang di pikiran Jordan hanya itu-itu saja jika berdekatan dengannya. Paham jika Rara tidak nyaman, Jordan pun mengusir halus orang-orang yang mengganggu kesenangannya.


“ Bisakah kalian memberi kami privasi?” Pinta Jordan pada asisten dan penata busananya seraya menatap tajam, namun di ikuti anggukan mereka semua.


“Biasa aja ngomongnya, kenapa harus galak begitu?” Ucap Rara seraya menyentil dahi kekasihnya.

__ADS_1


“ Galak gimana? Memang begitu caraku bicara Ra.”


Pria itu kini makin mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Rara. Meskipun Rara diam terpaku, tapi Jordan sudah senang kerena gadis itu tidak menepisnya. Mungkin sempat meragukan ketulusannya, kini Rara sudah merasakan nyaman dan tidak takut lagi jika di dekat Jordan.


“ Kenapa suka banget ngendus-endus sih, geli tau.” Rara berdesir kerena kebiasaan sekali Jordan mengendusi rambut dan lehernya seperti kucing yang sedang bermanja dengan tuannya.


“Aku suka aromamu.”


Tampaknya pria itu kini sudah terbuai, hingga timbul niat untuk menerkam sang kekasih pada saat itu juga. Rara tidak menyangkal kala dirinya juga terhanyut dalam dekapan pria itu. Hingga saat Jordan hendak meraup bibir Rara yang sejak tadi melambai-lambai ingin di kecup manjah, tiba-tiba…..


Prok…prok…prok


.


.


.


.

__ADS_1


to be continued...


Siapa tuh kira-kira? 🤔🤔😋


__ADS_2