Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 117 Biadab


__ADS_3

Mereka mengangguk bersamaan kemudian berjalan melangkah maju. Hanya dengan penerangan seadanya dan itu pun sedikit bermasalah.


Clap…clap…treettt


”Kenapa malah mati sih?! pakai Hp lo Jo.” Geram Victon seraya mengetuk-ngetuk senter itu di tangannya.


Setelah berganti dengan cahaya ponsel Jordan mereka pun melanjutkan langkahnya. Beberapa anak tangga kemudian, akhirnya ada titik temu. Ada sebuah pintu besi di sana dan tanpa Ragu Jordan pun membuka pelan pegangannya. Sayangnya ia harus bergulat dulu dengan kode digital di pintu tersebut.


pip...pip...pip..


Ceklek….


"Kok dia tau?" Victon heran dengan kecerdasan Jordan saat ini.


Aneh, bau ruangan itu sangat aneh. “Tutup hidung!!” Titah Jordan. Ia kembali menelisik sekelilingnya kemudian tangannya meraba udara. Saat menjentikkan jarinya, tiba-tiba saklar penghubung lampu pun aktif. Klik…


“Wowww!!”


Maxton menganga kala tahu isi di dalam sana “Jangan sentuh apapun, Max!!” Ucap Victon. Sebuah laboratorium di lengkapi alat canggih dengan besi-besi berukuran raksasa yang bentuknya sangat rumit. Tidak bisa di pungkiri jika mereka sangat mengagumi tempat itu. Hampir tak percaya jika di dalam bangunan tua itu tersembunyi harta karun.


“Rrrrrhhhhhhh.”


Suara erangan terdengar tak jauh dari mereka. Victon dan Maxton pun saling pandang kala mengetahui jika itu berasal dari Jordan. Tidak, seharusnya bukan sekarang. “Jo? Please!!.” Victon menghampiri Jordan yang sudah menunduk 90 derajat, Hanya matanya yang berubah, namun tatapan itu sangat mengerikan hingga Victon pun memundurkan kakinya.


Tanpa di duga, segerombolan orang berpakaian seperti astronaut mengelilingi mereka. Panik, itu yang mereka rasakan saat ini. “Kau tidak bilang kalau mereka sebanyak ini?” Bisik Victon pada Maxton. Beruntungnya mereka adalah pria- pria tangguh yang paham cara bergulat.

__ADS_1


Keduanya memasang kuda-kuda kaki dan tangan mengepal, tanda jika mereka siap untuk bertarung, kecuali Jordan yang saat ini tengah bersusah payah menahan diri.


Akhirnya pertarungan pun tak terelakkan. Hantaman, tendangan hingga jurus-jurus katak, monyet, maupun badak semua di keluarkan.


Bugh…hiyakkk…ciatttt


Beberapa waktu berlalu…


“Sial!! Mereka bukan manusia.” Geram Victon dalam hati. Dengan napas terengah-engah dua pria tampan itu cukup kwalahan. “Aaarrrrghhhhhh.” Pekik Maxton kala mendapat pukulan maut di ulu hatinya.


Menghilang entah kemana, Jordan tidak ada di sana dan itu membuat Victon gelagapan.


.


.


Di sinilah Jordan berada, sebuah ruangan khusus yang berhasil ia terobos hanya dengan jentikan jarinya. Lagi-lagi cahaya temaram menyelimuti ruangan yang sangat hening itu membuat bulu kuduk Jordan berdiri semua.


Pintu demi pintu Jordan buka karena jiwa penasarannya kian meronta-ronta. Satu pintu yang terakhir terkunci rapat. “Ini dia.” Jordan menyeringai licik kemudian tangannya terulur seraya memejam. Saat ia membuka mata cahaya biru terpancar dari maniknya.


Klik…Gembok besi itu dengan mudahnya patah begitu saja.


Jordan membelalak kala mengetahui isi dari ruangan yang cukup luas itu. Ada tujuh tabung kaca raksasa dengan cahaya biru di dalamnya. Bukan itu yang membuat Jordan terkejut, melainkan isi dari benda itu. Hal paling gila, dan manusia mana yang tega melakukan ini?.


Tubuh-tubuh kaku manusia utuh berada di dalam sana. Jordan pun menelusuri seraya menyentuh kaca-kaca pelindung itu sesekali. Langkahnya terhenti pada dua buah tabung dengan manusia di dalamnya yang tampak familiar.

__ADS_1


Jordan mengamati intens wajah-wajah itu, kemudian sekilas memori melintas di kepalanya. Rambut sedikit memutih dan kulit sedikit keriput, namun Jordan sangat mengenali wajah itu.


“Mom…dad?” Dentuman hebat menyerang jantungnya saat ini juga. Jordan memundurkan langkahnya kala sesak di hatinya kini menyelimuti. Bagaimana bisa begini? Apa yang terjadi pada mereka? Air mata Jordan luruh begitu saja.


“Tempat kosong itu adalah singgasanamu, Leonzio Anderson.” Seseorang muncul di belakang Jordan. Sontak Jordan pun menoleh, manusia biadab mana yang mampu melakukan hal-hal seperti ini.


Bekas luka sayatan memenuhi wajah pria itu membuatnya tampak menyeramkan, Rambut dan jambang putihnya menandakan jika ia sudah tidak muda lagi.


“Selamat datang di laboratorium ku hahahaha!!” Ucap pria itu di lengkapi dengan tawa liciknya. Di kira Jordan akan takut, tentu saja tidak. Amarahnya berada di puncak saat ini hingga dadanya naik dan turun dalam tempo cepat.


"Pshyco!!.”


Jordan mengarahkan tatapan tajamnya. Begitu tajam seperti ingin menguliti, namun pria itu tidak terusik sama sekali. “Kau bodoh, sama seperti orang tuamu.” Pria itu berjalan pelan mengelilingi Jordan yang kini terpaku.


“Apa yang kau mau?” Tanya Jordan dengan tegas.


“Lihat!! Pasukanku akan lengkap dengan adanya kau di sini. Tujuh manusia serigala dan akan ku buat mereka tunduk di bawah kakiku.”


Jderrrrr….


Jordan terhenyak dengan pengakuan pria tua tadi. Tenyata manusia-manusia di dalam tabung itu sama seperti Jordan, namun berbeda generasi. “Aku menjelajah seluruh dunia, dan kau yang terakhir. Oh! Seharusnya tidak, karena anak dalam perut istrimu pasti memiliki darah sama sepertimu.” Bisik pria itu sembari tersenyum miring.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2