
Suasana hati Jordan sedang baik sepertinya, hingga pak Winarto heran karena Jordan senyum-senyum menampilkan gigi putihnya tak henti-henti. Sejak tadi pak Winarto berbicara panjang lebar, entah di perhatikan atau tidak oleh Jordan.
"Kamu ini kenapa? Ayah jadi ragu jika pikiranmu masih waras." Bagaimana tidak risih, Jordan menatap pak Winarto penuh arti seraya tersenyum lebar. Keduanya sejak tadi duduk di teras depan sebagai bentuk pengakraban diri antara mertua dan menantu.
"Terimakasih ayah, sudah mengakui saya."
Rupanya perkara di pasar tadi, ucapan pak Winarto memperkenalkan Jordan sebagai menantu menjadi penyebab ketidakwarasan Jordan saat ini. Victon bahkan kerap mengejek dan menertawakan nasib Jordan yang kini sedang meluluhkan hati sang calon mertua.
Keripik pisang yang sudah setengah masuk mulut Ayah Rara, kembali di keluarkan lagi saat mendengar ucapan Jordan. Bagaimana bisa lupa dengan tujuan pemuda itu, walaupun sebenarnya sejak awal pak Winarto tidak pernah menentang hubungan keduanya.
Sekian lama mengekang Rara membuat pak Winarto tersiksa juga, takut sekali jika sampai kehilangan putrinya lagi. Namun, saat melihat Jordan pandangan pak Winarto terhadap pria bajingan di luar sana menjadi berubah.
"Ayah tidak butuh ungkapan cinta, tolong sayangi dan lindungi putriku bahkan dengan nyawamu sekali pun. Rara itu.....hanya sedikit mendapat kasih sayang, karena ayah terlalu tegas padanya. Berjanjilah nak." Tatapan pak Winarto memudarkan senyum Jordan. Pembicaraan ini jadi serius ketika sudah membawa kata janji.
"Saya berjanji, yah." Ucap Jordan lembut dan penuh penekanan.
"Ehem... ayah juga mau cucu-cucu yang lucu."
Demi apa? Jordan tidak salah dengar kan?. Wajah pak Winarto yang tampak tenang masih setia dengan cemilan keripik pisangnya, padahal sudah membuat Jordan berdegup kencang.
"errr...itu saya usahakan juga hahaha."
"Hahahaha."
__ADS_1
Tawa kedua nya terdengar saling bersahutan. Saat ini bukan saatnya tertawa, tapi entah kenapa lucu saja.
.
.
.
Seusai makan siang, Jordan mendapat kabar dari Maxton. Masalah yang selalu membuat Jordan pusing kepala masih belum ada titik terang rupanya.
"Iya, hari ini aku kembali Max. Tetap siaga dan jangan lengah. Okay, sudah dulu."
Pip..
"Kenapa melamun?"
"Nggak kok, lagi santai aja. Udah selesai ngobrol sama ayah?." Rara sedikit mendongak demi melihat wajah Jordan, tidak masalah karena ia sudah biasa. Sedetik kemudian, Rara menarik tangan Jordan agar duduk di sebelahnya.
" Udah, kamu siap- siap aja."
"Siap apa? " beo Rara tidak paham.
" Ada deh." Jordan menoel hidung Rara kemudian menyandarkan kepalanya di pundak gadis itu. Meski tidak selebar pundaknya, tidak bisa di pungkiri jika itu sangat nyaman. Jarang sekali bersikap manja, untuk kali ini saja Jordan ingin begitu.
__ADS_1
Kedua insan itu menikmati suasana kampung kelahiran Rara. Berbeda sekali dengan di kota , udara di sini sangat bersih tanpa campuran asap kendaraan yang kerap sekali membuat Jordan sesak napas. Sesekali Rara mengusap rambut Jordan, membuat pria itu makin betah dan nyaman.
"Ra, nanti malam aku pulang ke Jakarta. Peluk aku dulu, aku butuh amunisi."
"Cepet banget. Udah selesai urusannya sama ayah? " Rara sebenarnya paham dengan situasi rumah semenjak kehadiran Jordan. Sengaja saja ia berpura-pura polos demi perhatian pria itu. Jordan pun mengeratkan pelukannya dari samping, tidak ingin hal lebih karena posisi di rumah mertua bahaya jika bertindak aneh-aneh.
Namun tetap saja julukan cabul itu melekat di Jordan, bagaimana tidak jika tangannya kemana-mana. Pria itu mengelus-elus leher Rara sejak tadi, lagi dan lagi hobi mengendusnya itu tidak pernah hilang bahkan mungkin semakin ahli.
"Hidung kamu kenapa?" tanya Rara.
"Apanya kenapa?"
"Jangan begitu ih. Nanti kalau ada ayah gimana, sana jauhan dikit." Ucap Rara menepis tangan kekar itu.
Wajah cantik itu semakin menggoda iman Jordan, menyebalkan sekali. Di musim kawin ini nafsu pria itu semakin menggebu-gebu, sulit sekali untuk menahannya.
" Tahan Jordan ...tahan." batin Jordan gelisah kala melihat Rara mengikat rambut panjangnya, hingga tampaklah leher putih yang amat menggiurkan.
.
.
tbc
__ADS_1