
“Kenapa cuma berdiri disitu, kemarilah duduk.” ucap Jordan yang terkekeh melihat mata Rara berbinar kagum.
“Serius ini rumahmu, Jo?”
“ Iya Ra. Kamu mau minum apa?”
“Apa aja."
Jordan berjalan menuju kulkas, setelah beberapa saat ia kembali membawa nampan yang berisi minuman dingin dan cemilan ringan. Biasanya ia hanya menjentikkan jari lantaran malas, namun karena Rara ada di sini, ia harus bersikap normal.
“Minumlah.” Titah Jordan. Kebetulan Rara belum minum setelah sarapan bubur tadi, Rara langsung menenggak air dingin itu hingga tandas sebelum akhirnya menyadari sesuatu.
“Ini ga ada obat atau semacamnya kan?”
“Hahaha, tidak ada Ra. Kebanyakan baca novel kamu.” Tawa Jordan pecah memenuhi ruang tamu itu, kemudian ia duduk di sofa seberang Rara.
“ Sendiri?” Rara masih penasaran.
“Hmmm?”
“Maksudku tinggal di rumah sendiri? di rumah seluas ini?” tanya Rara lagi.
“Tentu, sama siapa lagi? kalau kamu mau boleh kok tinggal bersamaku."Jawab Jordan santai seraya menaik-naikkan alisnya nakal.
“Ck...lalu keluargamu?”
“Keluargaku tidak ada di Indonesia.” Jawab Jordan pelan di ikuti perubahan ekspresinya.
“Maaf, aku tidak akan tanya lagi."
“Kenapa minta maaf. Kamu bisa tanya apapun tentang diriku Ra.” Jordan tersenyum lembut karena ucapan Rara.
Rara hanyalah gadis polos, dan ia tidak sepenasaran itu hingga ingin mengetahui seluk beluk kehidupan Jordan. Kenal dengan pria ini saja sudah membuatnya jatuh ke lubang neraka, mengingat kejadian tak terduga menimpa dirinya berulang kali.
Sesekali Rara menatap Jordan dengan kebiasaan menyugar rambutnya ke belakang, hanya begitu saja Rara di buat terpesona. “Ehem, jadi buat apa ngajak aku kesini?” Tanya Rara berusaha mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
“ Ah itu ..sebentar.” Jordan beranjak dari duduknya dan hendak mengambil sesuatu. Setelah beberapa detik kemudian, ia kembali dengan sebuah map cokelat di tangannya.
“Ini kontrak kerja. Maksudku, aku mau menawarkan kerja sama denganmu untuk menjadi photographer pribadiku Ra.”
“Apa!!” Rara memekik lantaran luar biasa terkejut dengan ucapan pria di hadapannya itu. "Upss! " lanjutnya.
“Astaga Ra, mulutmu udah kaya TOA aja. Kamu baca dulu isinya.”
Jordan paham betul Rara itu, gadis itu sangat gigih dan berjuang keras demi karirnya. Sedangkan Jordan juga berusaha keras untuk mengikat Rara disisinya, impas sudah. Lagi-lagi sifat pemaksa itu memang sudah mendarah daging melekat di jiwa dan raganya. Namun hanya begini cara Jordan mendapatkan Rara.
Rara pun membaca dengan teliti isi kontrak itu, sontak membekap mulutnya yang tengah terbuka lebar, yang benar saja ia akan dibayar 100 juta dalam 1 kali projeknya.
Itu adalah pendapatan yang Rara dapatkan dalam 1 tahun. Sejatinya seorang Jordan memiliki jadwal dan projek yang sangat banyak dalam sebulan saja. Bayangkan saja jika Rara mengalikan semua itu, mungkin ia bisa membeli rumah dalam sebulan jika ia bekerja dengan Jordan.
“Orang kaya memang aneh-aneh.” Batin Rara.
“Kau serius? Tidak bercanda atau menipuku?” Rara mendelik tajam ke arah wajah tampan Jordan. Sulit dipercaya untuk menerimanya begitu saja, takut sekali ini sebuah jebakan batman.
“Serius lah. Jadi gimana? Tandatangani itu kalau setuju.” Tegas Jordan.
“ Keluar aja Ra, aku yang tanggung jawab kalo mereka nuntut. Yakin ga tergiur tawaranku hmm? ”
"Kamu sadar bicara apa?” Rara terkejut dengan penuturan Jordan barusan. Siapa yang tidak tergiur penawaran fantastis seperti itu, kalau saja terlihat mungkin air liur Rara hampir menetes.
“ 100% sadar.”
“Disini tidak tertulis berapa lama kontrak kerjanya.” Rara menunjuk isi kontrak itu.
“Ah …untuk itu kita yang tentukan. Asalkan sesuai dengan kesepakatan bersama, kapan saja kita bisa mengakhiri kontrak itu.”
“Artinya tidak ada batas ?”
Jordan tersenyum puas, “Iya , bahkan kalau kamu mau bekerja denganku selamanya, Silahkan saja. Pikirkan Ra, bekerja denganku karirmu akan semakin baik. Kamu bisa jadi photographer terkenal nanti. " ucap Jordan meyakinkan sudah seperti peramal kelas kakap.
"Mana ada kontrak kayak gitu?" Batin Rara menggeleng tak percaya. Walaupun sempat ragu, nyatanya Rara malah tergoda dan akhirnya ia menandatangani surat itu begitu pula Jordan. Tanpa Rara tau kini ia sudah masuk perangkap harimau dan telah menjadi mangsanya. Rara hanya berfikir dengan penghasilan segitu ia bisa membantu orangtuanya dan adik kecilnya di kampung.
__ADS_1
“Selamat bekerja sama Nona Ras.” ucap Jordan seraya menjabat tangan Rara.
Rara mendelik tajam mendengar Jordan memanggil namanya begitu, padahal dulu ia sendiri yang memberi tahu begitu. Begitu lah pertemuan mereka hari ini, lebih mulus dari yang sebelumnya karena tanpa di bumbui pertikaian.
.
.
Baru saja Rara melangkah masuk kamarnya, Jordan sudah sibuk menghubunginya.
Drrtt... drrtt..... drrtt...
“Halo, kenapa ?”
"Kangen kamu sayang." Lagi-lagi Jordan menggoda Rara dan membuatnya memerah di balik telponnya.
“Haha bercanda, aku lupa bilang kalau besok kamu sudah mulai kerja ya Ra."
"Ra? halo? kamu dengar nggak? "
"Ah oke."
pip...
Rara langsung mematikan panggilan itu sepihak karena ia sudah sangat memerah bak kepiting rebus. Aneh, hanya mendengar suara bariton pria itu saja membuat Rara berdebar.
"Hei kau ini kenapa nggak bisa diam hah? " Gumam Rara seraya memukul dada kirinya, kesal karena detak jantungnya makin menjadi-jadi.
.
.
.
to be continued...
__ADS_1
itu namanya berdebar Rara sayang... 😁😁😁