
siangnya...
Meet me, at 8 PM Barbar Cafe
Tonight.
-Aiden
Rahang Jordan mengeras kala membaca pesan di ponselnya beberapa saat lalu. Hendak membanting ponsel nya, Jordan tiba-tiba teringat jika ia baru membelinya beberapa hari lalu. Kerap sekali Jordan melampiaskan amarahnya pada benda pipih yang tak berdosa itu.
"Siapa? kok serius banget?"
"loh sayang? kok kamu bisa di sini?" Saat ini Jordan tengah menikmati es bobanya di sebuah cafe. Hingga kemunculan Rara yang tiba-tiba membuat Jordan seperti tertangkap basah, padahal ia tidak melakukan hal yang salah.
"Kenapa kaget begitu? apa salah kalau aku di sini? " Rara duduk di kursi samping Jordan dan menyeruput minuman boba yang tersedia di depannya. Rara baru pulang dari kampusnya dan kebetulan mampir, tidak di sangka jika akan bertemu suaminya di sini.
"Bukan gitu, aku minta kamu buat istirahat total. Kenapa malah keluyuran?."
"Ada sedikit urusan di kampus. Jangan mengalihkan pembicaraan, aku tanya siapa tadi? Kamu ngga selingkuh kan?" Rara bingung sekali dengan keadaan hatinya saat ini. Tidak ada niat berkata begitu, entah kenapa ia menjadi mudah kesal. Dadanya bahkan terlihat naik turun dengan cepat dan ekspresi tajamnya seperti ingin mengoyak.
__ADS_1
Jordan memejam sejenak, saat ini butuh kesabaran yang optimal untuk menghadapi naik turunnya emosi Rara. Hormon ibu hamil cukup membuatnya sakit kepala.
"Jangan pernah sebut kata itu sayang, cintaku full cuma buat kalian." tegas Jordan seraya mengusap punggung tangan Rara.
"Kalian?"
"Iya. kamu dan anak kita." Kalimat dari Jordan berhasil membuat Rara mengulum senyum. Sejak awal memang jawaban itu yang ingin Rara dengar, alih-alih memancing Jordan dengan kata selingkuh. Padahal Rara tahu betul sebesar mana cinta Jordan untuknya.
"Aku nggak akan rela kalau kamu sampai begitu."
Cup...Jordan mengecup kening Rara yang sedang menahan air matanya agar tidak tumpah. Entah kenapa, Rara semakin cengeng dan Jordan jadi sedikit kesulitan menjaga hati istrinya itu. Tidak sampai hati berbuat begitu jika masih sayang nyawa. Sebab, ancaman ayah mertua lebih mengerikan daripada membujuk Rara setiap hari.
"Kenapa di sini?" Batin Jordan dengan perasaan yang bercampur aduk. "Ayo Ra, kita pergi dari sini." Jordan paham apa yang akan terjadi selanjutnya, karena untuk sesaat tatapan mata mereka tak sengaja bertemu dengannya.
Secepat mungkin Jordan ingin menghilang tapi tidak mudah, ia harus hati-hati karena kondisi Rara. Beruntung sekali Rara tak banyak tanya dan menurut begitu saja.
Tiba-tiba seorang pria berjas hitam menghadang langkahnya. "Tuan muda, bisakah anda ikut dengan saya?." Jordan menelisik penampilan pria itu, terlebih lagi pria itu memanggilnya dengan sebutan tuan muda. Semakin bingung saja Rara saat ini, hendak bertanya tapi di urungkan.
"Tuan muda katanya? " batin Rara heran. Jordan masih diam di tempatnya dan genggaman itu semakin erat di tangan Rara. "Sayang, ini ada apa?" tanya Rara pada Jordan yang masih diam dengan tatapan lurus ke depan.
__ADS_1
"Ayo kita pergi." Ucap Jordan dingin dan sesaat membuat Rara merinding.
"Leo!! sayang, ini mommy."
deg...
Fakta tidak bisa di hindari. Suara itu sangat mencekik leher Jordan hingga rasanya sangat sakit. Tidak mampu menoleh, terlampau terkejut Jordan hingga melepas kaitan tangannya. Apa ini? Kenapa harus di saat Jordan sudah nyaman dengan kehidupannya?.
"Leonzio!!"
"Kak, kenapa kamu diam aja? mereka siapa?" Tanya Rara seraya menyentuh pundak Jordan. Tatapan kosong itu, entah kenapa hati Rara ikut merasa sakit. "Mereka... " Jordan ragu untuk menjawab.
"Tuan dan Nyonya ingin bicara dengan anda, tolong ikut saya." Ucap pria berjas hitam itu lagi. Rara mengangguk dan Jordan pun menghela napasnya. Ada Rara di sini, dan Jordan tidak bisa bertingkah semaunya. Apalagi suasana cafe cukup ramai.
"Baiklah."
.
.
__ADS_1
-To Be Continued-