
...HAPPY READING!!...
...😆😆😆...
“WHATTT?!!”
Victon menatap lekat wajah datar Jordan, apa mungkin dirinya salah dengar tadi?. Demi apapun ini masih pagi sekali dan Jordan mengatakan hal penting itu semudah menggoreng tempe. Sebelumnya, Victon pernah mendengar Jordan sekali mengungkit hal tersebut, tapi tidak di sangka secepat ini.
“Lo yakin?” Tanya Victon.
“Yakin lah. Sejak awal gue serius dan memang mau menikahi Rara.”
“Come on, bro.” Jordan kini memohon.
“Bukan gak mau bantu, tapi gue denger ayah Rara belum respect sama lo. Lo harus berhasil ambil hatinya dulu sebelum merebut anaknya. Jangan main lamar-lamar aja.” Ucap Victon seraya berjalan menuju kaca cermin besar di kamarnya kemudian mamandangi wajah tampannya sendiri.
“Untuk itu, semua udah terencana dan gue yakin semua pasti mulus.” Jordan tersenyum penuh arti.
Jangankan ayahnya, seluruh keluarga Rara pun Jordan sangat yakin bisa menaklukkannya. Victon hanya bisa menghela napas mendengar ucapan pria dengan segudang stock percaya dirinya itu.
.
.
2 hari selanjutnya….
__ADS_1
10 AM, teras belakang rumah kediaman Rara.
Ekspektasi memang tidak sesuai dengan realita, nyatanya memang tidak semudah itu untuk meminang anak gadis orang. Sejak dua hari lalu Jordan membanggakan dirinya, kini saat di hadapan pak Winarto nyalinya menciut seperti kerupuk mlempem.
“Belum ada yang berani meminta restu padaku, memang putriku sangat cantik dan banyak yang suka. Nyalimu cukup besar!.” Ucap Pak Winarto dengan wajah sangarnya yang menyeramkan duduk di seberang Jordan.
Apa lagi, saat ini ayah Rara bertelanjang dada dan tangannya memegang golok besar nan panjang karena habis memotong kayu di kebun. Jordan menelan ludahnya kasar menatap tubuh berotot di depannya. Sebelumnya Jordan sempat mendengar gosip tetangga jika ayah Rara adalah seorang kepala desa yang terkenal tegas dan cukup di segani.
“Emmm…om, saya bersungguh-sungguh dan juga ingin mendapat restu tulus dari kedua orang tua Rara.” Ucap Jordan dengan sangat lembut.
Hendak menyangkal tapi tidak bisa, pak Winarto melihat ketulusan terukir pada pria muda di hadapannya itu. Namun, sebagai ayah tidak mudah bagi pak Winarto melepas putrinya, meski memang takdir seorang wanita begitu adanya.
“Tidak semudah itu ferguso!! Lulus ujian, baru bisa memiliki putriku yang cantik.” Pak Winarto memasang senyum liciknya, entah apa yang sedang di rencanakan.
“Haa?” Jordan menatap ayah Rara penuh tanda tanya.
.
.
“Ibu juga penasaran. Kamu tenang saja, ayahmu ndak mungkin berbuat aneh-aneh.” Rara pun mengangguk dan kini menghambur ke pelukan sang ibu.
...❀❀❀❀...
Aneh-aneh yang di maksud sang Ibunda memang betul ada dan sudah di rencanakan pak Winarto. Ayah Rara itu tidak berniat membuat Jordan merasakan kemudahan. Kini pria mapan dan tampan seperti Jordan sudah mengenakan seragam dinas khusus, bersama dengan pak Winarto menuju sebuah tempat.
__ADS_1
WHATT? MEMANCING?!!!
“Ini! Kamu pegang ini dan cangkul tanahnya, kita cari umpan cacing dulu.” Pak Winarto menyerahkan cangkul dan meletakkan peralatan pancingnya terlebih dahulu. Demi apapun Jordan sangat geli dengan hewan tak bertulang dan licin itu, apa lagi tempat tinggalnya yang becek dan bau.
“Iyuhh.” Batin Jordan meringis.
Demi memperjuangkan hati calon ayah mertua, Jordan pun berusaha semaksimal mungkin. Meski berkali-kali jatuh terpeleset hingga tubuhnya penuh lumpur, pria itu bangkit lagi. Itu baru mencari umpan, sedangkan kegiatan memancing lebih menguras kesabaran.
Menunggu hingga satu jam lebih di pinggir sungai, belum membuahkan hasil dan malah hanya jadi umpan nyamuk kebun. Kesabaran Jordan tidaklah sebesar itu, sahabat dan kekasihnya pun sangat memahaminya. Hingga tiba saat pelampung pancing milik Jordan bergerak, ia sangat antusias dan semakin serius.
“Tunggu dulu, biar pelampungnya tenggelam baru di tarik.” Bisik pak Winarto dan di angguki Jordan. Saat pelampung makin tertarik ke dalam air, dengan semangat Jordan menarik kayu pancingnya. Syuuuttt….
YESS!!
Ikan sebesar satu jari telah berhasil Jordan taklukkan, terlampau senang Jordan memeluk tubuh pak Winarto sambil melompat-lompat riang. Ternyata ini lah sensasi orang memancing, buah dari kesabaran itu terbayar kala mendapat ikan. Pak Winarto pun turut senang dan membalas pelukan itu.
Akhirnya kedua pria itu kembali melanjutkan kegiatan hingga lima jam berlalu.
“Sudah, ayo kita pulang.” Ajak pak Winarto pada Jordan yang masih serius.
“Tunggu om, umpannya di makan lagi.” Jordan kini malah ketagihan, padahal sudah cukup banyak ikan yang ia pancing hari ini. Hari semakin sore, dan setelah mengeksekusi ikan terakhir tadi, kini kedua pria itu mengakhiri kegiatannya dan bersiap pulang.
.
.
__ADS_1
.
to be continued