
Triinggg…tringg…
“Halo, ada apa.”
“ Maaf pak, ada seorang gadis ingin bertemu dengan anda. Katanya ingin mengembalikan barang.”
“Siapa namanya?” Tanya Victon mengerutkan keningnya seraya menatap sang mama yang belum beranjak pergi dari depan meja kerjanya.
“ Valerie pak.”
Victon terhenyak hingga hampir tersedak ludahnya, "Valerie? apa dia Valerie teman Rara? " Batin Victon bertanya-tanya. Jika iya untuk apa teman Rara itu datang ke kantornya, pikir Victon. Pria itu tersenyum penuh arti, kini ia tahu bagaimana cara keluar dari lubang maut ini.
“ Suruh dia masuk.”
Sesaat kemudian...…
tok... tok.. tok...
"Masuk." Jawab Victon dengan suara baritonnya.
Valerie masuk dengan paper bag di tangannya yang berisi jas milik Victon. Penampilan Valerie terbilang sopan, ia mengenakan dress putih lengan panjang motif bunga sepanjang lututnya, di tambah ia mengikat ekor kuda rambut panjangnya menambah kesan menawan di parasnya itu.
“Selamat siang, saya…” Sapa Valerie terpotong saat Victon tiba-tiba beranjak dari duduknya lalu menarik tangannya ke pelukan pria itu.
“Tolong bantu aku berakting , ku turuti semua keinginanmu sebagai imbalannya.” Bisik Victon di telinga gadis yang masih bingung dengan keadaan saat itu.
“Ha.?”
“ Honey, kamu datang? Kok tidak telpon aku dulu tadi, hmm?” Victon melonggarkan pelukannya dan menyelipkan rambut Valerie. Kini Valerie hanya membisu, bingung sekali ingin berucap bagaimana hingga matanya kini berkedip-kedip beberapa kali. Victon hanya menarik ujung bibirnya tipis melihat ekspresi Valerie yang menggemaskan itu.
“ H...honey? aku?." Gumam Valerie menatap heran Victon dan pria itu hanya mengedipkan sebelah matanya. Mama Nindi yang melihat pemandangan itu pun penasaran dan mendekat ke arah mereka. Senyum lebarnya sudah terpampang di wajah sang mama sejak kehadiran Valerie tadi.
Kini Victon dan Valerie berkomunikasi dengan mimik wajah tanpa mengeluarkan suara.
“Ini apa maksudnya?” tanya Valerie.
“ Bantu aku, please.” jawab Victon dengan memelas.
“Tapi…”
deg...
__ADS_1
“ Nak, siapa namamu? Kamu cantik sekali.” Tanya mama Nindi sambil memegang pundak Valerie.
“ Saya Valerie Anindira tante.” Jawab Valerie lembut, bahkan kini menyalami dan tersenyum manis, terpaksa sebenarnya ia memerankan sandiwara ini.
"Gadis pintar, ia paham betul maksudku. "
“ Ma, kenalin ini pacarku yang aku bilang tadi.” Ucapan Victon membuat Valerie mendelik tajam dan mencubit pinggang Victon dari belakang hingga membuat Victon meringis.
“ Oh ya? Syukurlah mama senang mendengarnya. Lalu ini apa?” Mama Nindi penasaran dengan paper bag di tangan Valerie itu.
“ Ini… jasnya Victon tante. Saya mau kembalikan karena habis pinjam.” Entahlah kenapa kata-kata itu yang keluar membuat mama Victon makin salah paham, kini wajah Mama Nindi makin cerah secerah mentari saat mendengarnya.
“ Waaahhh, anak mama gercep juga sudah tanam biji kedelai, nikah dulu Vic jangan rusak anak orang.” Ucap sang mama semakin membuat Valerie bingung.
“Ha? Ini bahas apa sih. Kok biji kedelai sampai nikah-nikah?” Batin Valerie semakin gelisah ini sudah diluar batas pikirnya.
“T.…tante kita..”
“ Mama ngomong apa sih? .” Sahut Victon seraya menggandeng Valerie mesra.
"Iya... kan harus tanam kedelai dulu, biar bisa bikin tempe disini sekalian tahu nya....hahaha." Celetuk mama Nindi seraya menunjuk perut rata Valerie.
"T....tante... itu salah paham. kita.. " gadis itu tergagap.
“Ya tuhan, tadi nikah …sekarang cucu.” Batin Valerie resah. Kini mulut Valerie terbuka lebar terlampau bingung hingga tidak tau harus merespon apa.
Ceklek…..
Pintu tertutup dan menyisakan dua orang itu dalam situasi sangat canggung. Bugh… Valerie memukul lengan Victon hingga pria itu mengaduh.
“ Aduh!! kasar banget jadi cewek.”
“Hei es batu, masih tidak mau jelasin?”
“ Makasih.” Secepat itu Victon merubah wajahnya menjadi datar.
“ Bukan ucapan itu yang ku maksud.”
Victon kembali ke meja besar kerjanya meninggalkan sejuta tanda tanya di kepala Valerie dengan santainya menatap kembali layar monitor di depannya. Tidak mau ambil pusing, karena niat awal Valerie rela datang ke perusahaan ini hanya untuk mengembalikan jas. Valerie melangkah kearah Victon dan berhenti tepat di samping kursi kebesaran pria itu.
“Ini, terimakasih. Awalnya, mau aku antar pakai jasa online, ku pikir itu kurang sopan jadi… hargai sedikit dan tatap sebentar gadis lugu yang sedang bicara ini, pak Victon.” Valerie geram sekali melihat sikap cuek pria itu, ia langsung saja meletakkan paper bag di atas meja besar itu.
__ADS_1
Ceklek....
“Victon, Hp mama ketinggalan.” Terdengar suara itu namun masih belum terlihat tubuhnya.
Segera Victon menarik tangan Valerie hingga gadis itu duduk di pangkuannya, dengan cepat tangannya menarik tengkuk Valerie dan memiringkan kepalanya membuat pemandangan seolah-olah mereka tengah berciuman, padahal bibir keduanya tidak menyentuh sama sekali.
Adegan tanpa aba-aba itu membuat Valerie tidak sempat menghindar, Rona merah pada wajah gadis itu muncul karena ia merasakan hembusan nafas keduanya dari jarak yang sangat dekat.
“ Ups, mama ganggu sepertinya.” Ucap mama Nindi seraya memalingkan wajah.
“ Kenapa tidak ketuk pintu dulu sih ma.” Rengek Victon dengan nada dibuat-buat, ia membenamkan wajah Valerie di dada bidangnya seraya mengusap lembut punggung gadis itu.
“Maaf, silahkan lanjutkan.” Mama Nindi berjalan menuju sofa seraya menutup sebelah matanya, lalu keluar lagi. Ceklek… belum sedetik, kepala sang mama kembali mengintip masuk lagi.
“ Jangan lama-lama Vic, kasihan calon menantu mama …hihihi.” Bahagia betul sang mama karena tawanya masih terdengar jelas saat pintu sudah tertutup lagi. Victon hanya menggeleng kan kepala, heran saja kenapa mamanya begitu somplak.
“ Sudah?” tanya Valerie pelan dan masih dalam posisi sama.
“ Sebentar, biar mama pergi jauh dulu.”
“ Lama banget.” Aroma parfum pria itu tercium sangat jelas di hidung Valerie, ia juga bisa merasakan detak jantung Victon yang lebih cepat dari tempo normal. “ Apa dia berdebar juga?” batin Valerie sambil tersenyum tipis.
“ Hah...…aman .” Ucap lega Victon lalu melonggarkan pelukan itu. "Maaf. mamaku ingin menjodohkanku, aku tidak mau. Jadi, terpaksa minta bantuanmu untuk bersandiwara." Jelas Victon.
Valerie tidak peduli apapun alasannya, ia sudah malu dan ingin segera pergi dari ruangan itu. Tanpa banyak kata lagi ia berlari kecil menuju pintu keluar ruangan itu. Sedikit lagi meraih pegangan pintu, sayangnya tangan kekar Victon mendahului. “Tunggu dulu.”
“ Apa lagi? Bisa biarkan aku pergi?”
“ Apa permintaanmu?”
“ Belum kepikiran, ingat ya aku tidak mau terlibat drama seperti tadi untuk kedua kalinya. Aku kemari buat ucapin terimakasih, sudah itu saja.” Jelas Valerie masih membelakangi Victon.
"Okay." Singkat Victon dan kini gadis itu pun berlalu.
.
.
.
to be continued..
__ADS_1
🤗🤗🤗🤗🤗🤗