
...HAPPY READING!!...
“Oooooh, pacaaarr. Lalu apa pekerjaanmu?” Tanya pak Winarto semakin tajam saja tatapannya itu.
“Ayah.” Sontak Rara segera bersuara, takut saja ayahnya terlalu jauh. Namun, Jordan mengisyaratkan dengan anggukan tanda jika ia tidak apa-apa.
“Saya seorang model om.”
“Ku perhatikan sejak tadi, wajahmu seperti tidak asing.”
Tiba-tiba semua orang di kejutkan oleh suara dari televisi yang menyala di ruangan itu. Seorang wanita pemandu acara dengan fasihnya mengiklankan produk.
“Kami telah hadir di penghujung tahun ini dengan menyuguhkan keluaran terbaru dari produk pakaian dalam ternama Galvin Clein. Dengan kualitas bahan terbaik….……..”
Deg...
Na’as sekali, foto Jordan yang menjadi model brand itu terpampang lebar di layar kaca benda kotak itu. Dengan gaya seksi, pria itu hanya mengenakan underware di tubuh atletisnya. Jordan yang sudah memerah malu pun kini menyembunyikan wajahnya ke samping seraya bergumam tidak jelas. “Duh image ku, mana telanjang begitu lagi!!.” Tidak mengapa jika fotonya itu nyaman di lihat mata, masalah nya ia setengah telanjang begitu, omg.
“Jadi, begitu?” Ayah Rara mengangkat alisnya sebelah, seakan tidak percaya jika yang ada di iklan itu justru kini di hadapannya.
“Ayaaahh, namanya juga model. Ya begitu kerjaannya.” Rengek Rara.
“Tetap saja, pamer tubuh begitu, apa bangganya? Belum lagi wajah nya di poles-poles begitu.” Ketus pak Winarto.
Jleb…
__ADS_1
Belum pernah ada orang yang mempermasalahkan profesi seorang Jordan, kini seakan darah pria itu hilang separuh dari tubuhnya kala mendengar penuturan calon ayah mertua. Tentu saja, Jordan selalu kenyang dengan pujian karena popularitasnya di jagat maya. Ia pasti tidak menyangka jika akan mendapat kecaman dari mulut seseorang yang berpengaruh dalam kelangsungan hidupnya di masa depan.
“ Maaf om, apa ada masalah dengan pekerjaan saya? Saya menggeluti di bidang fashion dan modeling. Meskipun terkesan terbuka tapi saya memiliki pekerjaan tetap dan itu adalah aturannya.” Meski berucap selembut mungkin, Jordan berusaha menyampaikan maksudnya.
“Fesyen?? Opo to kui?” beo ayah Rara.
(Fesyen? Apa itu?)
“ Itu loh yah, busana atau pakaian gitu. Lagi, ayah ini kenapa sih kepo banget.” Jawab Rara mencoba mencairkan suasana.
“Diam kamu! Sekarang biar ku tanya lagi. Apa kamu mau serius atau main-main dengan putriku?”
“Saya serius om, niat saya kemari untuk meminta restu dari Ayah dan Ibu Rara. Emmm…..saya mencintai Rara tulus apa adanya dan akan membahagiakannya .” Dengan tanggap Jordan memberanikan diri membalas pertanyaan itu penuh percaya diri karena memang ia tidak pernah main-main.
Demi apapun Rara terharu mendengarnya, hubungan itu masih seujung kuku dan Rara tidak menyangka jika Jordan seserius itu. Walaupun ayahnya cukup menyebalkan hari ini, tapi hati Rara sangat berbunga-bunga.
Manis nya pas, seperti yang buat. Batin Jordan menyeruput teh yang sudah dingin itu seraya menatap wajah ayu Rara. Sesekali pria itu menatap kembali ayah Rara yang bersedekap dengan wajah masamnya seperti anak kecil merajuk. Mungkin saja hatinya kesal karena Jordan menang lotre hari ini, meski tidak banyak bicara, ibu Ayu dan Rara berada di pihak Jordan kali ini.
Drrtt….drrtt..
“ Maaf om-bibi, saya mau angkat telepon dulu.” Jordan pun menunduk sopan dan segera melangkah keluar rumah untuk menerima panggilan penting itu. Wajahnya kini berubah sedingin es ketika menyambut sang penelpon.
“Bagaimana?” Tanya Jordan dingin.
“Wanita itu tidak mau buka mulut tuan, dia sangat setia rupanya.” Ucap seorang pria di seberang sana.
__ADS_1
“Dia pembunuh bayaran, motonya adalah mati jika gagal dalam misi!!. Paksa bicara bagaimana pun caranya, jangan biarkan dia mati. Aku akan kesana malam nanti.” Ucap Jordan penuh penekanan dan matanya melirik ke segala arah, takut jika ada yang curi dengar pembicaraannya tadi.
“Baik tuan!!”
Pip…
Baru hendak memasukkan ponsel ke saku, benda itu kembali berdering. “Ck, siapa lagi sih?!” Ketus Jordan melihat nomor tidak di simpan itu. “Hal…..” Belum selesai berucap seseorang di seberang sana berteriak hingga Jordan sedikit menjauhkan ponsel itu dari telinganya.
“JORDAN RAVINDRA!!! MAU SAMPAI KAPAN KAU MENYUSAHKANKU??! KITA JADI KEHILANGAN DUA PROJEK BESAR KARNA KAU SEENAKNYA. CEPAT SELESAIKAN URUSANMU DAN KEMBALI BESOK JUGA, KALAU TIDAK ...KU JEMPUT LANGSUNG PAKAI HELIKOPTER!!.” Ancam Dewi sang manajer dengan amarahnya yang meledak-ledak. Ia sangat kesal karena Jordan baru mengangkat telponnya sekarang, setelah puluhan kali ia menelpon.
“Jadi ini nomermu kak? Maaf aku sibuk sekali kemarin, banyak hal terjadi dan membuatku pusing kepala.” Keluh Jordan dengan memelas.
“Tega sekali kau tidak menyimpan nomorku. Jangan banyak alasan, aku lebih pusing mengurusimu. Kau tidak tau betapa berisiknya atasan karena kehilangan job besar itu.” Omel wanita itu.
“Iya ..iya aku akan kembali besok.”
Pip..
.
.
.
tbc
__ADS_1
Jadi konfliknya othor bocorin dikit-dikit ya hehe...
Kalo kurang greget ya maaf aja, othor masih pemula 😆😆😆😆😆