
“Kau lebih tolol, kenapa menembak ? posisiku kan jadi susah!.” Ucap seseorang di seberang earpiece pelaku itu.
Akibat huru hara yang di sebabkannya, kini beberapa orang mengerumuni pramugari yang sudah terbujur kaku itu, hingga keamanan melemah dan memberinya akses untuk menyelinap ke kabin penumpang kelas lain.
“Aku gugup, sudahlah bukan waktunya berdebat, bersiap!! aku berhasil masuk dan target di depan mata.” Bisik Debby sang pelaku wanita tadi masih berusaha bersikap normal, lalu duduk si kursi kosong paling depan di samping kanan targetnya.
Kemudian tangan kanannya menelusup ke dalam bajunya mengambil sebuah pistol, dengan cepat ia menodongkan benda itu pada pelipis wanita yang menunduk di balik topinya. "Patuh, jika tidak mau peluru ini menembus kepalamu!!” Ancam Debby berbisik dengan sorot mata tajamnya.
“Apa salahku?.” Tanya sang sandera lirih seraya menoleh dengan wajahnya yang pucat pasi.
“Sial ! kenapa kau? errrrr.” Debby terkecoh dengan penampilan sanderanya terlihat lebih tua namun pakaian persis dengan target sebenarnya yaitu Rara. Padahal, ia yakin betul jika Rara tadi duduk disini, siapa sangka malah orang yang berbeda.
“Terkecoh, rencana cadangan!!.” Bisik Debby di earpiecenya dan ia menarik kembali pistolnya, masih dalam posisi sama berusaha untuk tenang agar tidak ketahuan.
...🌺🌺🌺...
Sementara itu, di kursi penumpang paling belakang, Rara terhimpit oleh kedua pengawal yang duduk di samping kanan dan kirinya membuatnya berdesir. Rupanya ia masih belum memahami kala dirinya dalam bahaya, karena di incar oleh 2 penyusup yang belum di ketahui motifnya. Beberapa saat lalu Rara di paksa oleh keduanya untuk mengganti jaket dan topinya.
“Maaf om, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kita bersembunyi?” Bisik Rara bertanya pada salah satu pengawal yang tampak lebih muda. “Om? Hei umurku hanya setahun lebih tua darimu, enak saja panggil om.”
Pletak…
__ADS_1
“Jaga bicaramu Xel, Nona adalah calon istri tuan Jordan. Kau mau di kremasi hah?” Ucap Brody dengan nada dingin seraya memukul pelan belakang kepala rekannya itu. Takut saja jika Rara mengadu maka tamatlah riwayat keduanya, padahal Rara tidak ada keinginan seperti itu. “Aku bicara apa adanya.” Ketus Axel.
“ Sejak kapan aku jadi kandidat calon istri Jordan?” Batin Rara heran.
“Maaf…maaf…kalian tolong jangan bertengkar. Aku tidak akan bertanya lagi.”
Rara menengahi keduanya karena merasa bersalah membuat kedua pria gagah itu berselisih. Ia mendengar ada pembunuhan tadi, wajar dirinya takut dan kini bertanya karena ingin tahu. Siapa sangka yang di tanyai tidak bersahabat.
“Maaf nona, ada penyusup yang menelusup di antara para penumpang. Masih belum di ketahui keberadaannya karena mereka bersembunyi dengan rapi dan apik. Tolong tetap di sisi kami dan dengarkan arahan kami berdua. Jika ku bilang sembunyi nona harus sembunyi, jika ku bilang melompat maka nona pun harus melompat.” Jelas Brody berbisik di dekat telinga Rara. Meskipun terkejut, Rara mengangguk memahami apa yang di ucapkan pria itu.
Suasana di dalam pesawat semakin mencekam, tiba-tiba terdengar announcement dari pengeras suara. Cuaca yang sangat cerah memungkinkan perjalanan yang seharusnya di tempuh selama satu setengah jam, di percepat agar bisa segera mengevakuasi keadaan darurat tersebut.
...𖤐𖤐𖤐𖤐...
“Hati-hati dia di kawal dua pria.”
“ Got it.” Debby mengangguk paham mendengar peringatan rekannya itu.
Kini kembali terdengar pengumuman menandakan pesawat akan mendarat. Brody dan Axel merasa janggal kala tidak ada tanda-tanda bahaya hingga mereka mengambil koper Rara.
“Jangan jauh-jauh dari kami nona. “ Ucap Brody, Rara pun memelankan langkahnya kala ia tadi mendahului kedua pria itu. Masalahnya, keadaan cukup tenang padahal mereka sudah mendapatkan peringatan tanda bahaya berkali-kali.
__ADS_1
Tiba-tiba….
Syunggg….ctuss…
“Aaakhhhh shi*t.” Celetuk Axel kesakitan seraya memegangi betisnya. Sebuah peluru tanpa suara menembus di kaki berototnya membuat ia kesulitan berjalan. Dalam beberapa detik seseorang bertopeng berlari kearah mereka menyerang Brody, karena Axel sudah terluka sehingga gerakannya terbatas. Kini adegan pergulatan pun terjadi, jurus demi jurus, pukulan dan tendangan kian menjadi.
“Nona ! Lari!” Teriak Brody pada Rara dan di angguki gadis itu. Para petugas pun ikut campur di tengah kericuhan yang terjadi di bandara.
Namun, setelah Rara berlari orang bertopeng itu berhenti memukul dan menyerahkan diri pada petugas tanpa perlawanan.
“Hehehe….kalian bodoh!” Seringai pria bertopeng itu dengan senyum liciknya setelah Axel membuka paksa topengnya itu.
“CELAKA!!!” Ucap Brody dan Axel bersamaan seraya memandang satu sama lain, mereka menyadari telah masuk perangkap. “ Berpencar dan cari Nona sampai ketemu!” Ucap Brody di ikuti anggukan Axel.
.
.
.
tbc.
__ADS_1