
“Ra, tunggu aku!”
Peluh kini membanjiri wajah pria tampan itu, rasa sesak kian menyeruak keluar dari tubuhnya yang bergetar. Ketakutan, amarah, dan lelah bisa di gambarkan dari wajah sendu pria itu. Energinya sudah terkuras, namun tidak membuatnya berhenti begitu saja.
Langkahnya terhenti saat melihat gelang berliontin bintang laut persis seperti yang di kenakan Rara, jatuh di depan pintu besi besar yang sudah tampak usang dan karatan. Dengan keyakinan penuh Jordan melangkah masuk melalui pintu itu.
Kriieettt….
“Tidak ada CCTV di dalam sana tuan, saya tidak bisa memeriksa.” Ucap seseorang di earpod yang menempel di telinga Jodan. Jordan menghela napas kasar dan memejam sejenak sebelum akhirnya kembali bergegas.
...✯✯✯✯...
Kembali lagi pada keadaan Rara, setelah melewati perjalanan bagai uji nyali beberapa waktu lalu, kini keduanya berada di jalan belakang sebuah gedung yang menjulang tinggi dan banyak barang terbengkalai. Dari ke jauhan Rara bisa melihat bangunan kokoh tempat ia turun dari pesawat tadi.
Kedua gadis yang tampak sebaya itu pun berjalan kearah kuda besi yang sudah di siapkan terparkir di tempat yang cukup sepi. Rara mengerutkan keningnya, apa yang akan Debby lakukan?.
“Kau cukup berani.” Ucap Rara dan Debby hanya memasang senyum liciknya sekilas.
“Kau kira kita akan naik mobil seperti di film-film kesukaanmu itu?” jawab Debby dengan sinisnya.
Rara menatap netra hitam gadis itu, di balas tajam sekali persis seperti ingin menguliti. Bagaimana bisa gadis muda sepertinya mengerjakan hal kotor seperti ini, pikir Rara heran saja.
Debby pun melepas kaitan tangannya sejenak saat hendak meraih sesuatu di dalam sakunya, itulah saat lengah baginya memberi celah bagi Rara untuk menendang tulang kering kaki Debby dan melarikan diri. Cuaca siang itu cukup mendung di sertai semangat Rara yang membara, gadis itu berlari sekuat tenaga menuntun kakinya dengan energi yang tersisa.
“Shi*t, merepotkan!!.” Geram Debby seraya menunduk mengelus kakinya. Sejujurnya hanya serangan kecil seperti itu tidak berasa baginya. Debby menengadah lalu mengambil pistol bius di saku dalam bajunya. Syiiuut…..jleb… suntikan bius itu tepat menancap di kaki Rara.
“Oh, Rara….nasibmu nggak beruntung banget.”
Batin Rara sebelum ambruk di atas jalan hitam itu.
Saat hendak melangkah, tiba-tiba seseorang menotok punggung dan tengkuk leher Debby. Seketika kekuatannya melemah dan kini terduduk lemah, namun masih sadar.
POV, Jordan.
__ADS_1
Hanya bermodalkan insting dan penciumannya, kini Jordan menerobos apapun yang menghalangi jalan di depannya. Aroma tubuh Rara itu yang berhasil menuntun kakinya mengikuti jejak-jejak sang kekasih. Hingga tiba di pintu terakhir, ia benda berengsek itu kemudian melihat dua orang wanita, yang satunya sudah ambruk tergeletak di bawah.
Wushhhh ….
Detik berikutnya, Jordan berpindah secepat kilat tepat di belakang wanita yang memegang pistol. Jordan mematikan energinya, hingga wanita itu terduduk lemas.
Tuk…tuk…tuk..
Sesaat kemudian....
“Bawa helikopeter dan urus wanita itu, segera kesini setelah ku kirim lokasinya!!.” Titah Jordan kemudian memutus panggilannya.
Jordan pun berlari menghampiri Rara yang sudah tergeletak, mencabut suntikan yang menancap di kaki Rara. Syukurlah, napas Rara masih terasa kala Jordan memeriksa hidungnya.
Hembusan napas leganya menyibakkan ketakutan yang sempat memenuhi relung hati Jordan. Sesaat lalu Jordan bagai kehilangan separuh jiwanya, hingga tak henti-hentinya mengecup wajah Rara di dalam dekapannya. cup... cup... cup...
wususussuhhhh......
Berapa menit kemudian, kendaraan terbang dan beberapa anak buah Jordan telah sampai. Sementara bawahannya mengurus Debby, Jordan langsung membawa naik tubuh Rara masuk ke dalam helikopter.
Jordan membawa Rara ke dalam helikopter menuju vila pribadinya di kota Yogyakarta. Setelah mendarat dengan selamat, kedatangan mereka di sambut oleh beberapa pengurus vila. Sesegera mungkin Jordan membawa tubuh gadis itu di salah satu kamarnya.
Perih sekali Jordan melihat tampilan Rara yang kotor dan acak-acakan, entah apa yang telah di lalui gadis itu.
“ Tolong bantu saya untuk membersihkan tubuhnya, setelah itu siapkan makanan!.” Pinta Jordan pada salah satu pembantunya yaitu seorang wanita paruh baya.
“ Baik tuan.”
Setelah mencuri kecupan singkat di pucuk kepala Rara, pria itu segera melenggang pergi.
.
.
__ADS_1
.
Rumah Sakit
“Tidak bisa di percaya kalian lalai dalam tugas?!!”
Jordan duduk di sofa ruang rawat Axel seraya bersedekap menatap intens kedua orang gagah di depannya. Axel yang berada di ranjang pasien, langsung terduduk tegap sejajar dengan Brody yang berdiri di sampingnya.
“Maaf tuan, kami terkecoh.” Jawab Brody tidak berani menatap pemilik mata hazel itu.
“ Alasan!! kalian orang terpilih di T.Fly, kurasa kalian terlalu berbangga diri, hingga menganggap remeh tugas yang ku berikan, benar begitu?!!" Tanya Jordan.
"Ti.... tidak tuan." Jawab Axel.
"Hanya karena dia seorang gadis? Apa jadinya jika aku tidak turun tangan? hampir saja kekasihku meregang nyawa, jika itu terjadi aku tidak akan segan menebas leher kalian berdua!!”
Pedas sekali, jika biasanya Jordan bersikap lembut dan sok imut itu karena ia mencintai Rara, berbeda sekali sikapnya jika dengan orang lain terutama para bawahannya. Sejak dulu keluarganya mengajarkan untuk tidak mudah tunduk dan menjadi orang yang di segani, begitulah jadinya.
Axel dan Brody semakin memucat, desas-desus tentang boss nya yang amat mengerikan itu benar adanya membuat kedua pria itu kian lemas.
“ Tidak, kami tidak berani tuan. Itu kesalahan dan kami siap menerima hukuman.” Jawab Axel sedikit lantang. Jordan memejam sejenak, sejujurnya ia sangatlah bingung karena beberapa kali mendapat teror yang mengancam Rara.
"Hahh.. "
Drrtt….drrtt….drrtt…
“Sedikit lagi. Nikmati duri-duri hidupmu, karena tak akan ku biarkan kau tenang.” Ucap seseorang dengan suara palsunya di ponsel Jordan. Jordan mengeraskan rahangnya mendengar setiap kata-kata itu.
“ Who are you? Keluar jika berani, jangan hanya bersembunyi seperti tikus got!!.” Jawab Jordan dingin dengan nada meninggi.
.
.
__ADS_1
.
to be continued..