
Setelah menerima panggilan itu, Jordan berpamitan kepada orang tua Rara karena ia harus segera menyelesaikan hal pentingnya. Meskipun ayah Rara bersikap menyebalkan, tapi beliau tetaplah pria yang baik hati.
"Hati-hati di jalan nak!! main lagi kesini kalau senggang. karena ada banyak hal yang ingin ayah tanyakan.” Tegas ayah Rara seraya memegang pundak Jordan sedikit kuat. Nada bicara pak Winarto memang lebih ramah kali ini, membuat hati Jordan kian menghangat.
“Ayah?” Gumam Jordan penuh tanya hingga ia tersenyum penuh makna.
“Ehem, Rara antar Jordan sampai depan.” Titah pak Winarto dan juga di ikuti anggukan ibu Ayu.
" Iya yah. " Rara dengan senang hati melakukannya, karena kemungkinan ia tidak akan bertemu hingga beberapa hari ke depan. Sampai di halaman tempat mobil Jordan parkir, gadis itu menarik jari kelingking Jordan yang melangkah di depannya hingga pria itu menoleh.
“Kenapa?” Tanya pria itu lembut.
“Maaf kalo ayah menyebalkan, aku takut kamu tersinggung.” Rara memajukan bibirnya dengan wajah puppy eyesnya, membuat Jordan meleleh melihatnya.
“Imut banget sih, pengen unyel-unyel deh."
" Tenang… aku gak apa-apa, demi memperjuangkan wajah imut ini, aku rela menghadapi ayahmu yang galak dan segala sepak terjangnya.” Jordan mencubit pipi yang sedikit gembul itu sambil tersenyum lebar. Rara pun mengedipkan matanya berkali-kali, mungkin otak nya sedang loading mencerna perkataan Jordan.
“Aku pergi ya. Ingat!! Jaga mata jaga hati, jangan kasih hatimu ini ke orang lain.” Pesan Jordan tidak henti-hentinya.
“Seharusnya itu kamu! Jaga mata jaga hati, jangan cari lain lagi.”
__ADS_1
“Sumpah, sa pu cinta untuk ko.” Saut Jordan dan kini keduanya tergelak, hingga sesekali Jordan mengacak rambut Rara.
Mereka tidak menyadari jika sedang di perhatikan kedua orang tua Rara dari kejauhan. Ada rasa bahagia dalam benak pak Winarto, yang tentunya merasa bersalah karena putrinya selama ini pasti sangat kesepian. Ayah Rara itu selalu mengatur ini-itu yang membuat Rara tertekan pastinya. Meski itu memang untuk kebaikan Rara juga sebenarnya, tetap saja harapan besar pak Winarto jika Jordan adalah pria baik nan tulus yang bisa membahagiakan putri kesayangannya itu.
“Ayah, putri kita sudah dewasa. Biarlah dia menentukan pilihannya, ibu yakin Rara juga tidak sembarangan.” Ucap Ibu Ayu pada suaminya dengan lembut. Ibu Rara bisa melihat jika Jordan pria yang baik, meskipun itu baru pertemuan pertama mereka.
...𖢨𖢨𖢨...
Beberapa jam kemudian Pukul 21.00, Kota B di Yogyakarta.
Di sebuah ruang bawah tanah yang berada di salah satu bangunan kosong, itulah tempat di mana Debby sang pembunuh bayaran di kurung. Gelap, lembab, dingin serta bau-bau anyir aneh, begitulah tempat itu di deskripsikan. Ia sudah tidak berharap akan di bebaskan, lebih baik mati saja dari pada terus di siksa seperti itu, pikir wanita itu kian pasrah.
Dengan tampilan babak belur, luka-luka di kakinya yang sudah hampir membusuk, hebatnya nyawa Debby itu masih bertahan di dalam tubuh kurus itu.
Ia bersandar lemah di pinggir kurungan besi yang menjadi tempat tinggalnya beberapa hari lalu. Jika di tanya menyesal, tentu saja tidak. Jika saja takdir hidupnya berbeda, mungkin ia tidak akan memilih jalan hidup yang mengerikan itu.
“Berapa banyak boss mu itu membayar, hingga mampu membuatmu bungkam??” Suara bariton seorang pria menggema dari arah pintu, itulah Jordan.
Pria itu langsung mendekat di ikuti lima pengawal, kemudian berjongkok di depan kurungan besi itu seraya menatap iba wanita di hadapannya yang hampir tak berwujud manusia utuh. Bukannya menghina, tapi kenyataan begitu menyedihkan. Debby masih bungkam meski sudah di siksa berkali-kali.
“Jika kau mau mengaku, aku akan menjamin hidup dan kesembuhanmu. Bangkit dan keluarlah dari dunia hitam.” Tawaran Jordan cukup menggiurkan, tetapi nyatanya Debby tidak bergeming maupun tertarik sedikit pun.
__ADS_1
“Bunuh aku!! jangan buang-buang waktu!.”
Debby sekuat tenaga mengeluarkan suaranya yang hampir habis itu mengarahkan tatapan tajamnya pada pria bermanik hazel di depannya. Satu tahun lalu ia bertemu dengan pria itu dengan cara sedikit ekstrem, entah kebetulan atau takdir yang mempertemukan keduanya kembali saat ini.
Prokk….prokk…prokk
Jordan bertepuk tangan kian meriah dengan senyum sinisnya, luar biasa kagum akan kesetiaan wanita yang hidupnya sudah sekarat itu. “Max!” Panggil Jordan pada Maxton yang berdiri di belakangnya sejak tadi.
“Iya tuan?”
“Informasi lengkapnya, jelaskan!!” Maxton mengangguk pelan dan mengikuti perintah. Sedikit demi sedikit Jordan mengetahui latar belakang Debby dari mulut asistennya. Ternyata sangat tidak mudah dan mengenaskan sekali perjuangan hidup wanita itu, wajar saja jika ia ingin menyerah dengan hidupnya sekarang.
Sebelumnya Jordan tidak pernah memberi ampun pada musuh-musuhnya, untuk kali ini ia tertarik pada sesuatu yang di miliki Debby, membuat pria itu berfikir dua kali untuk menghabisi nyawanya.
Ceklek…...Jordan menarik slide pistol lalu menodongkan ke arah kepala Debby. Kesabaran pria itu tidaklah seluas samudra, geram sekali akhirnya Jordan memilih cara itu.
“Kau tahu? Kita sama-sama pendosa, bedanya aku tidak melakukan tindakan itu dengan tanganku sendiri. Alangkah baiknya jika kau menebus dosa-dosamu itu sebelum mati. Terakhir kau bekerja untuk membunuh orang yang paling berharga bagi ku, kini apa lagi? Bahkan hingga akhir pun kau tetap akan melakukan itu?” Ucap Jordan penuh penekanan, matanya kini tampak memerah dan berembun.
“Haaaahhhh....Mr. M itu lah panggilannya. Aku tidak pernah tau seperti apa wujudnya, jadi jangan tanya lagi. Cepat bunuh aku sekarang, toh aku juga akan mati di tangannya.” Debby kini memejam kian pasrah, benar-benar sudah letih sekali dengan hidupnya yang amburadul.
“As you wish.”
__ADS_1
Dorr..
tbc... 😁😁