Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 64 Memahami (Marcello)


__ADS_3

“Kenapa kau begini?” Rara bertanya dengan susah payahnya, demi apapun ini sangat menyiksa tubuhnya.


“Leo. Aku membencinya, dia selalu merebut semua hal yang seharusnya jadi milikku.” Marcel kini duduk di sebuah kursi kecil dengan santainya, sedikit pun pria itu tidak memiliki hati nurani hingga membiarkan Rara tetap seperti itu.


“Bisa le..paskan aku dulu? Kita bisa bicara baik-baik.” Rara sudah lelah menggoyang tubuhnya, dan hasilnya ia hanya berayun-ayun. Bicara baik-baik? Itu bukan hal yang di yakini seorang Marcello Anderson. Di mata Rara saat ini, Marcel lebih menyeramkan dari ayahnya dan pria itu seolah-olah ingin melahapnya hanya dengan tatapan saja.


“Aku membawamu bukan untuk berbincang, tapi untuk menikmatimu hahaha.”


Marcel tergelak keras tanpa mempedulikan wajah Rara yang kian pias. “Calm down Rara, kamu bisa bebas.” Batin Rara menyemangati dirinya sendiri. Rara sangat membenci ruangan gelap ini sebenarnya.


“Aku tahu kau orang baik Marcel. Hatimu hanya tersakiti, jadi berhentilah berpura-pura menjadi jahat. Itu hanya melukaimu lebih dalam.” Marcel mengeraskan rahangnya, sebenci itu Marcel dengan orang bermulut manis.


“Hanya? apa tampangku seperti pria terskiti? Sepertinya kau begitu tertarik dengan kehidupanku, heh?” Entah gejolak apa yang kini muncul dalam diri Marcel, perasaan ini benar-benar berbeda dari sebelumnya. Bukan amarah melainkan kesedihan, ia tidak pernah peduli dengan ucapan orang lain sebelumnya. Namun, perkataan Rara sedikit membuatnya risih.


“Kau tidak perlu melepaskan ikatannya. Tapi tolong turunkan aku, rasanya isi perutku mau keluar semua.” Rara memohon agar di beri belas kasihan sedikit saja dari pria itu.


“Apa kau pernah melayani? Aku akan melepaskan ikatan itu jika kau bisa memuaskanku.”

__ADS_1


Gleg…


Secepat itu Marcel merubah ekspresi, membuat Rara menelan ludahnya pahit. Salah sekali Rara mencoba bernegosiasi, mana mungkin pria itu termakan ucapan manisnya. Ayolah, Rara berusaha memutar otaknya dan memikirkan berbagai cara. Tenaga Rara terasa habis karena ia banyak bergerak sejak tadi.


Detik selanjutnya, Marcel berpindah posisi dan kini ia berjalan santai mendekati Rara. Kembali beraksi, tangan Marcel kini mengelus kaki Rara dengan pelan hingga menciptakan sensasi aneh.


Semakin liar, tangan kekar itu berhenti tepat di benda menonjol Rara bagian belakang dan meremasnya pelan. Gila!! itu sebutan yang pantas untuk Marcel saat ini, demi apapun Rara tak suka.


“Eeuhhh….Jangan!! Kumohon hentikan!.” Ucap Rara lirih.


“Uhhhh, aku lebih suka kau memohon di bawah kungkunganku.” Seringai Marcel dengan suara beratnya seraya mengelus pinggang ramping Rara. Pria itu tampak memejam seraya menikmati hobi anehnya.


Tolong jangan lagi, Rara sungguh tidak sudi jika tangan pria itu menjamah tubuhnya lebih dari ini. “Kau menjijikkan sekali, lebih baik aku mati.” Susah payah Rara berucap dan Marcel hanya tergelak keras mendengar kegigihan gadis itu.


.


.

__ADS_1


.


Awan hitam di sertai petir serasa berkumpul di atas kepala Jordan. Pria itu sudah tidak bisa berpikir normal seperti biasanya, hingga membuat Maxton ketar-ketir. “Kau tidak bisa lebih gesit?!!” Lihat saja sejak tadi ia berbicara memakai urat. Keduanya kini berada di dalam jet pribadi milik Victon yang di pinjam beberapa saat lalu.


Tik…tik…tik.. Maxton kembali melancarkan jarinya di papan ketik kesayangannya.


“Ada di perairan. Kenapa mereka memilih jalur laut?” Maxton terkejut dengan kenyataan yang ada, jalur laut lebih memakan banyak waktu di banding udara. Sejujurnya Jordan sudah menduga karena mereka kemungkinan tahu kelemahannya saat ini adalah Rara.


“Itu dia!! Kapal pengangkut barang.”


Maxton menemukan titik temu dari pencariannya. Setelah cukup sabar menunggu, kini saatnya Jordan bersiap-siap untuk melakukan misi penyelamatan. Dengan perlengkapan khususnya, Jordan dan Maxton bersiap untuk terjun bebas, anggap saja demi menghemat energi.


.


.


.

__ADS_1


tbc.


__ADS_2