
“Jangan pernah tinggalin aku, Ra.” Ucap Jordan lirih di tengah derai air matanya yang berjatuhan.
Rara melonggarkan pelukannya seraya menelisik wajah sayu itu. Di usapnya rambut Jordan yang sedikit panjang kemudian turun mengusap pelan rahang tegasnya. Tak lama kemudian, Rara berjinjit dan mendaratkan ciuman lembut di bibir tebal itu. Tidak ada hasrat lain dan semata untuk meluapkan kasih sayang antara keduanya.
Hati Jordan menghangat kala mendapatkan perlakuan manis itu.
“Nggak akan pernah.” Rara melepas pagutannya seraya mengusap ujung mata Jordan yang basah. Lagi dan lagi Rara membuat Jordan berdesir saat kecupan itu mendarat di kedua matanya.
“emmhh…asin.” Ucap Rara sedikit menjilat bibirnya. Sontak saja Jordan di buat tergelak karena kepolosan Rara. Lucu sekali istrinya saat ini, siapa juga yang menyuruhnya mencicipi rasa air mata.
“Kalau yang ini manis.”
Jordan menarik pinggang Rara agar semakin merapat. Dalam beberapa detik pria itu meraup rakus bibir Rara sejenak dan melepasnya dengan cepat.
“Emmmmhh, jahil.” Rara yang sudah memerah malu kini menelusup di dada suaminya. Suasana sedih tadi berujung manis karena Jordan selalu berhasil menggoda Rara kapan dan di mana pun.
“Laper.”
__ADS_1
“Apa?” beo Jordan.
“Kak, aku laper.”
Jordan terkekeh mendengar suara manja dari Rara. Semakin hari Rara semakin manja dan Jordan suka itu.
“Mau apa?” Tanya Jordan.
“Mau kamu. Ini wangi banget …aku suka.” Rara menunjukkan gigi putihnya lalu menciumi aroma tubuh Jordan. Entah kenapa Rara sangat ketagihan dengan aroma khas suaminya itu. Sejak kahamilannya, Rara lebih sering menempel dan membuntuti Jordan kemana saja. Meski Jordan juga menyukainya, tapi itu cukup merepotkan karena terkadang ruang gerak Jordan jadi terbatas.
.
.
“Pak 2 porsi ya, tolong banyakin sambelnya.” Ucap Rara pada sang penjual.
“Jangan banyak-banyak nanti sakit perut, sayang.”
__ADS_1
“Nggak enak kalau nggak banyak sambelnya. Justru, pecel itu kunci utama ada di sambel, kamu gitu aja masa nggak tau.” Ketus Rara. Jordan hanya menasehati dan Rara malah mengajaknya adu argumen.
“Ingat kata dokter. Kamu udah nggak sendiri, jadi jaga pola makannya. Makan cabai banyak-banyak nggak bagus.” Hingga pesanan siap dan sudah di sajikan, pasangan itu masih berdebat perkara sambel. Bapak penjual pecel sampai menggeleng-gelengkan kepala saat mendengar debat yang tak ada habisnya itu.
Kesal dengan ocehan Jordan, Rara pun segera makan tanpa mempedulikan omelan itu. Tak tanggung-tanggung, sambel di piring Jordan juga di sikat habis oleh Rara. Sebenarnya, makanan pedas tidak cocok dengan lidah Rara sebelumnya, namun seleranya kini berubah. Bahkan di rumah pun juga begitu, meski Jordan sudah melarang tapi Rara sering sembunyi-sembunyi menikmati makanan pedas itu.
Pernah satu kali Jordan memergoki Rara yang tengah menyemili cabai rawit mentah di belakang rumah. Dan itu berakhir membuat Rara diare hingga masuk rumah sakit selama 2 hari.
“Aaaaaaaaaaaah…kenyang. Ups.” Rara bersendawa dengan lantangnya, hingga beberapa orang di sana menoleh dengan tatapan aneh. Heran saja, gadis secantik itu tapi tidak ada tata kramanya. Sementara Jordan hanya bisa menghela napas dan menepuk pelan keningnya.
“Udah.” Satu kata yang terdengar biasa saja, tapi berbeda jika Rara yang mengucapkannya. Jordan sering berdebar ketika Rara berucap demikian dalam beberapa hal. Setelah selesai membayar keduanya pun melenggang pergi.
.
.
_To Be Continued_
__ADS_1