Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB 98 Di Tolak


__ADS_3

Berita baik itu sudah sampai di telinga kedua orang tua Rara. Tak terlepas mama Nindi pula yang semakin di buat cemas akan hal itu. Bukan karena tidak senang, beliau khawatir karena Victon belum ada kemajuan sedikitpun. Sedangkan Jordan sudah mendahului.


"Kapan kamu nikah Vic? Calonnya sudah ada, cepat ajak mama bertemu orang tua Valerie."


"Ma, aku sedang rapat. bisa bahas nanti saja?." Suasana ruang meeting menjadi lebih cerah dari sebelumnya. Lucu saja, beberapa saat lalu pria itu marah-marah akibat keteledoran karyawannya dan kini di buat menciut oleh omelan mamanya.


Victon semakin terdesak jika sang mama terus seperti ini. "Nanti ku tanya dulu apa Valerie mau." jawab Victon santai.


"Tidak baik pacaran lama-lama Vic, cepat halalkan dia. Jangan sampai kebablasan, mama khawatir."


"Ma, Sudah ku bilang bukan begitu, mama salah paham."


" Hari ini, ajak calon menantu mama makan malam bersama!!."


pip...


Rasanya Victon ingin sekali memekik sekuat mungkin, mamanya terus mendesak sedangkan Victon belum berkeinginan.


"Ehemm, kita lanjutkan yang tadi." Victon menatap tajam para hadirin di ruangan itu.


tik...tik...tik...


Nanti malam ikutlah denganku.

__ADS_1


Apa kamu free malam ini.?


Maukah ikut bersamaku malam ini?


Mama mengajak makan malam bersama.


"Gimana cara bilangnya?" Berkali- kali Victon mengetik beberapa kata lalu di hapus lagi dan lagi. Bahkan saat ia berbicara di depan presiden dan pejabat penting lebih mudah daripada dengan gadis ini.


Aku minta bantuanmu lagi. Apa malam ini free? Mama ingin aku mengajakmu untuk makan malam bersama.


Akhirnya Victon berhasil memencet tombol kirim. Detik demi detik ia tunggu dan tidak ada balasan, bahkan di baca saja belum. Wajahnya kini tampak resah dan kakinya tidak bisa diam. Baru sepuluh detik yang lalu pesan itu terkirim dan ia tidak sabar sekali.


brakk...


Tangannya yang mengepal tadi tanpa sadar menggebrak meja dan membuat seisi ruang rapat hening seketika.


"Siapa yang suruh berhenti? lanjutkan!!!" Victon berubah segarang itu hanya karena pesan yang tak di balas.


.


.


Di tempat lain, Valerie hampir tersedak pentol bakso yang ia kunyah. Matanya tertuju pada layar ponselnya yang menyala.

__ADS_1


Honey♥️♥️


Horror maknanya bagi seorang Valerie. Sejak kapan panggilan menggelikan itu pernah di tujukan padanya. Selain di lingkungan tempat tinggalnya, seluruh kampus tahu jika sahabat Rara ini sulit di dekati pria. Bisa di bilang jika Victon punya nyali besar.


"Apa obat di rumahnya habis?" Ucap Valerie seraya menenggak air mineralnya. Sandiwara itu telah usai dan Valerie sudah berusaha menjauh agar tak terlibat lagi. Di saat hatinya sudah mantap, Victon terus menerjang lagi dan lagi seperti ombak laut.


Aku nggak bisa, cari saja pacar baru. Aku bukan pacarmu.


Skakmat, jika tidak jelas maka di perjelas saja. Valerie lebih suka to the point daripada harus bertele-tele dan penuh kebimbangan. Tidak seperti sikap Rara yang plin plan dan sering membuatnya gemas.


Victon tersenyum sinis. Padahal ia salah ketik karena keyboard otomatis di ponselnya timbul dan jarinya tak sengaja terpeleset. Namun, secepat itu Valerie menolaknya tanpa berpikir dua kali.


Harga diri Victon di patahkan begitu saja. Ia belum merasakan yang namanya penolakan. Ternyata sepahit ini rasanya. Bukan kali pertama karena semenjak kejadian itu Valerie terus menghindar dan menjauh.


Ting..


Pintu lift terbuka, seketika wajah Victon berubah kala seseorang yang tak begitu asing melintas begitu saja. Perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak, ia merasa hal buruk akan terjadi sebentar lagi.


"Gue salah lihat kali ya?"


.


.

__ADS_1


.


-To Be Continued-


__ADS_2