Terjerat Serigala Tampan

Terjerat Serigala Tampan
BAB. 97 Ajaib


__ADS_3

Berbohong demi kebaikan itu baik bagi beberapa orang yang beranggapan begitu. Tetapi tetap saja itu bukan hal yang bisa di benarkan. Jika biasanya Jordan akan jujur sejujur-jujurnya pada Rara, ada di saat genting lidahnya sedikit berbelok dari semestinya.


Foto yang Jordan kirim adalah foto tahun lalu saat ia syuting di Thailand. Bukan tidak mau menuruti, namun jika ia harus berkelana ke negara tersebut demi mencari ayam yang bisa berbicara, di pikir bagaimana pun tidak masuk akal dan logika.


Beruntungnya, Rara percaya begitu saja, tidak seperti biasanya yang selalu banyak tanya dan penuh curiga. Berbekal ilmu pengetahuan dari bi Miri, Jordan pun mencari ayam jantan serupa di beberapa kota dalam negeri, dan untuk syarat satunya? entahlah Jordan tidak yakin.


"Sayang, aku pulang.”


Tidak ada yang menyambut kedatangan Jordan, seakan penghuni lenyap entah kemana. Lelah rasanya karena Jordan belum istirahat selepas kerja dan harus langsung memenuhi keinginan Rara. Malam terasa dingin dan sedikit menusuk kulit. Obat paling manjur saat ini adalah pelukan hangat sang istri.


Kaki panjangnya melangkah dan matanya mengedar mencari keberadaan singgasana hatinya. Tatapan teduh di ikuti senyum lembutnya kini muncul bersamaan. Jordan menatap wajah ayu yang tak pernah membuatnya bosan. "Apa dia menungguku?" gumam Jordan menghampiri Rara yang tertidur di sofa ruang tamu.


"Kenapa nggak pindah, malah betah di sini?." Tanya Jordan pada Valerie yang duduk dan menyumbangkan pahanya sebagai bantal untuk Rara. Valerie masih terjaga, padahal matanya sudah merah sekali.


"Rara yang mau, aku cuma menemani." Jawab Valerie.


"Istirahatlah, ada kamar tamu yang sudah di sediakan untukmu." Ucap Jordan seraya berusaha mengangkat tubuh Rara tanpa membangunkannya. Cup... seperti biasa, kecupan manis itu mendarat di kening dan bibir Rara. Tidak perlu pedulikan manusia lain di sekitarnya, anggap saja dunia milik Jordan seorang.


"Ck, nggak tau tempat." Hati sedikit memanas melihat kemesraan di depannya, hingga Valerie ingin buru-buru menghilang dari sana.


...🌼🌼🌼🌼...


Keesokan harinya...


"Apa dia sakit?" Jordan menyentuh kening Rara seraya membandingkan dengan miliknya. Di rasa semalam baik-baik saja, tapi kenapa betah sekali tidurnya. Tidak biasanya Rara begini, ia termasuk golongan manusia teladan. Jam bangun tidur dan semua kegiatannya terjadwal dengan rapi.

__ADS_1


Matahari kian meninggi dan meski berkali-kali Jordan merusuh Rara hanya menggeliat dan malah semakin terlelap. Apa mungkin bawaan calon dede bayinya? pikir Jordan menerka-nerka.


"Eungghhh...jangan usil." Raut wajah Rara berubah saat beberapa kali Jordan mengecupi seluruh wajahnya.


Baru jam 9 pagi sebenarnya, entah apa yang membuat Jordan serusuh ini. Tak lama kemudian Rara mengerjapkan matanya pelan, dan yang di lihat pertama kali adalah wajah tampan suaminya. Siapa yang tidak meleleh jika begini.


"Aaaaaahhh."


Jordan hanya mendes*ah dan Rara sudah sepanik itu. Menyenangkan sekali menjahili Rara seperti ini. Sejak tadi ia mencubiti hidung dan pipi Rara membuat Rara tidak tenang barang sedetik saja.


"iihhhh kenapa nggak pakai baju?" tanya Rara.


"Aku gerah."


"kamu kapan pulangnya? kok aku ngga tau? terus ayamnya mana?" Sudah sangat biasa bagi Jordan mendengar rentetan pertanyaan seperti itu. Baru saja mau ge-er, nyatanya yang menang saat ini hanyalah ayam.


"Yuk, aku juga."


"Ee...eehhhh mau ngapain?" Rara membola kala Jordan hendak menurunkan celana kolornya.


"Katanya ingin?"


"Ayamnya, bukan itu." Sontak saja Jordan mendapat lemparan guling.


.

__ADS_1


.


.


Sarapan siang, 10.30.


"Ini ayamnya bisa ngomong nggak?" tanya Rara menatap mangkuk di depannya.


"Coba tanya aja." Jordan jadi ragu jika otak cerdas Rara sedikit berkurang. Ayam sudah menjadi gulai lezat siap di makan dan ia masih penasaran perihal itu. Sementara Valerie yang tidak mengerti apapun hanya bisa melongo.


"Buruan di makan. Aku tangkap jauh-jauh dan bi Miri udah masakin sepenuh hati. Jangan cuma di liatin aja." Ucap Jordan lembut sekali. Sarapan saja harus ada drama dulu, Jordan makin bingung dengan perubahan sikap Rara.


"hmmmm ...enak."


Lihatlah, betapa bahagianya Rara hanya karena semangkuk gulai ayam.


"Ajaib." Batin Jordan menggeleng.


.


.


-To Be Continued-


Hai-hai, maaf banget beberapa hari nggak up, karena othor lagi sakit. So, semoga kalian masih menikmati cerita ini ya hehe...

__ADS_1


terimakasih semua, jangan lupa like nya ya hehe😁😁😁


__ADS_2